Selasa, 20 November 2012

Banowati : Asmara di Mandaraka (7)

Sebelumnya <<<

Oleh : Komandan Gubrak


Cinta tidak membutuhkan alasan, tak butuh selubung pembungkus dan tak mengenal pelindung, kecuali cinta itu sendiri. Cinta adalah bangunan mandiri yang tidak tergantung kepada apa apa yang ada di sekitarnya. Tidak membutuhkan pekarangan luas dengan tanaman tanaman bunga yang elok untuk membuat bangunan cinta terlihat indah nan mempesona. Tidak memerlukan pagar pagar yang tebal dan tinggi untuk melindunginya dari mara bahaya. Bahkan, ia juga tidak butuh terangnya matahari di siang nan terik maupun gelapnya malam yang dingin menusuk.

Bukan cinta namanya, jika ia masih membutuhkan alasan alasan. Seseorang yang mengatakan bahwa ia mencintai sesuatu karena merasa terpesona, entah dengan paras ayu maupun ketampanannya, lembut tutur katanya, santun perangainya dan segala kebaikan yang di milikinya. Sesungguhnya ia tidak sedang mengidap penyakit cinta, tapi ia sedang belajar membangun sebuah bangunan cinta. 

Pecinta sejati adalah pecinta yang tidak pernah dan tidak akan peduli. Apakah cintanya harus mendapatkan balasan atau penolakan, pujian maupun cacian, kebaikan maupun keburukan. Bahkan ia tidak pernah bisa di goyahkan dengan ikatan ikatan ragawi. Bisa saja seorang pecinta menemukan pelabuhannya, bersanding mesra dengan yang ia cintai. Tapi sesungguhnya itu bukan tujuan. Begitu juga sebaliknya.

Larasati mengelus elus perutnya yang terlihat mulai membuncit. Duduk di atas kursi bundar terbuat dari bekas potongan kayu jati yang berada di teras rumahnya. Pandangannya terarah pada tumpukan kayu bakar yang masih berbentuk gelondongan dan belum di belah menjadi serpihan serpihan kecil. Tak jauh dari tempat Larasati, seorang gadis remaja berumur belasan tahun, berbadan sedang, berambut ikal, bermuka lonjong, berwajah cantik dengan kulit putih bersih terlihat asyik menemani. 

Bernama Rara Ireng. Putri penguasa Mandura, Prabu Basudewa dengan ibu Badrahini. Di namakan Rara Ireng karena dulu sewaktu lahir kulitnya berwarna hitam kelam. Namun seiring dengan waktu dan berkat ramuan manjur yang di berikan oleh ibunya, lambat laun kulit Rara Ireng berubah warna menjadi kuning langsat. Tidak hanya kulitnya yang berubah, tapi wajah Rara Irengpun berubah menjadi cantik jelita yang di kagumi oleh siapa saja. Maka tak heran banyak orang yang memaggilnya dengan sebutan Subadra alias Sembadra atau Wara Sembadra. Yang artinya, rembulan. Seperti yang pernah kita singgung di atas, keberadaan Rara Ireng bersama kedua saudara seayahnya, Kakrasana dan Narayana di Widarakandang sangat terkait dengan konflik yang melanda keluarga Kerajaan Mandura.

“Dulu, ketika kakang Permadi masih di sini, kayu kayu gelondongan itu tak mungkin di biarkan menumpuk tak terurus” Larasati membuka cerita.

“Oh ya ?” sahut Rara Ireng antusias.

Dalam silsilah kekerabatan, antara Rara Ireng dan Permadi masih terhitung kerabat dekat. Ibu Permadi, Dewi Kunti adalah adik dari ayah Rara Ireng. Prabu Basudewa. Konon ketika ia masih bayi, Permadi kecil pernah berkunjung bersama ibunya ke Mandura untuk memberikan ucapan selamat atas lahirnya Rara Ireng. Dalam pertemuan itu di ceritakan Prabu Basudewa sempat memangku bayi Rara Ireng dan Permadi kecil di kedua pahanya. Sang raja Mandura kemudian berdoa dan meminta kepada Tuhan agar kedua bocah di pangkuannya kelak menjadi pasangan yang tak terpisahkan selama lamanya.

“Hampir setiap hari, terutama jika kebutuhan kayu bakar mereka mulai menipis, Permadi berangkat ke hutan yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Menebang kayu, menaikkannya di atas pedati untuk di bawa pulang dan di kumpulkan di depan halaman rumah. Jika sudah terkumpul, Permadi mulai membelahnya dengan sebilah kampak untuk di jadikan bahan kayu bakar. Kegiatan membelah kayu ini biasanya rutin di lakukan Permadi setiap pagi hingga tengah hari. Tentu saja pekerjaan itu dengan di bantu oleh ketiga sahabat setianya. Gareng, Petruk dan Bagong. Namun itu hanya dalam batas menjemur, merapikan dan menumpuk kayu kayu itu di halaman. Untuk urusan membelah kayu atau menebang kayu di hutan, Permadi memang melakukannya sendiri” kenang Larasati.

Permadi memang pria yang ulet. Kendati memiliki trah bangsawan dan terbiasa di hidup di istana yang penuh kemewahan dengan pelayanan serba ada, dia bukan orang yang hanya mau duduk berpangku tangan dan bermanja manja. Permadi tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan seperti layaknya rakyat kebanyakan. Bukan hanya mencari kayu di hutan atau membelahnya di halaman rumah, ia juga ikut turun ke sawah dan ladang untuk bercocok tanam jika musim hujan tiba. Kegiatan lain Permadi di Widarakandang adalah melatih ilmu kanuragan dan ilmu sastra pada para pemuda desa yang rata rata memang bukan orang orang terpelajar dan mengerti ilmu beladiri. Cukup banyak yang berguru kepada Permadi. Mungkin bisa puluhan bahkan ratusan pemuda. Tidak hanya pemuda yang berasal dari desa Widarakandang saja, tapi tak jarang juga berasal dari desa desa sekitarnya. Bahkan, seolah tak mau ketinggalan, Larasati sendiri juga meminta pada Permadi untuk di ajari ilmu kanuragan. Terutama dalam hal panahan. Dan rupanya, Larasati termasuk wanita yang memiliki bakat besar. Hanya dalam tempo waktu singkat, putri Kyai Antagopa ini berhasil menjadi seorang pemanah yang handal.

Kehidupan rumah tangga Permadi dan Larasati sekilas terlihat normal normal saja. Tak jauh beda dengan yang lain. Suami istri ini begitu kompak mengerjakan tugas masing masing. Permadi membelah kayu di halaman rumah, mencangkul di ladang dan sebagainya. Sementara Larasati yang menyiapkan makanan, menyiapkan air untuk mandi, mencucikan pakaian dan lain lain. Nyaris tak ada yang aneh dalam kehidupan mereka berdua. Hanya satu hal yang selama ini sedikit menggangu hubungan kedua insan ini dan pernah kita singgung di awal. Bahwa Permadi tidak benar benar mencintai Larasati. Pernikahan mereka bukan di sebabkan oleh rasa cinta di antara keduanya, akan tetapi lebih pada pemenuhan janji pada ayah sekaligus mertua mereka. Bahwa siapapun yang mampu mengalahkan Udawa, akan di nikahkan dengan Larasati.

Kendati Larasati tahu kalau sang suami tidak mencintai dirinya, namun cinta Larasati kepada Permadi tak pernah lekang di makan keadaan. Cintanya kepada Permadi tetap utuh seperti di saat mereka pertama kali bertemu hingga berpisah. Bahkan kalaupun ternyata dalam pengembaraannya, Permadi menemukan wanita lain yang di cintai dengan segenap jiwa dan raga, Larasati tetap akan mempertahankan kesetiaannya pada sang suami.

“Aku sangat menikmati rasa ini, Rara. Aku bahagia bisa bersanding dengan pria luar biasa sepertinya. Walaupun….” berhenti sejenak, “walaupun aku tahu ia tak pernah mencintaiku” lanjut Larasati berusaha tenang.

“Itu namanya menyiksa diri kakakku….” Rara Ireng mencibir.

“Kalau aku dalam posisi kakak, mendingan nggak usah meneruskan perkawinan saja”.

Larasati menyunggingkan senyum. Selama di tinggal Permadi, barangkali hanya Rara Ireng yang paling banyak menemani dirinya dalam suka maupun duka. Selain juga ibu dan ayahnya. Sementara kakaknya, Udawa, waktunya banyak di habiskan untuk berkelana menemani Raden Narayana. Sementara putra Prabu Basudewa lain, yang juga sempat tinggal di Widarakandang, yaitu Raden Kakrasana malah hingga kini belum pernah balik lagi ke Widarakandang.

“Itu karena kamu belum pernah mengalami bagaimana jatuh cinta, Rara…” terang Larasati dengan nada keibuan.

“Iya, tapi kalaupun punya kekasih, aku nggak mau di perlakukan begitu. Pokoknya nggak mau. Kalau itu terjadi, bakalan aku laporin ke kakak Kakrasana. Biar di hajar !” Rara Ireng mengepalkan tangannya mempraktekkan seolah olah Kakrasana menghajar orang.

Makin lebar senyum Larasati menyaksikan tingkah kekanak kanakan Rara Ireng. Bahkan saking gelinya ia harus memegangi perutnya yang buncit.

“Kenapa kak ?” Rara Ireng belum sadar kalau lawan bicaranya merasa geli bukan main.

“Nggak apa apa” sahut Larasati tak ingin mengganggu keasyikan adik angkatnya ini dalam melampiaskan perasaannya.

“Kalau kak Lara mau” berlagak menawarkan, “ bisa kok aku bilangin sama kak Kakra. Biar di hajar sekalian tuh suami kakak”.

“Biar kapok!” imbuh Rara Ireng bersemangat.

“Kenapa harus di hajar ?. Khan kalau dia sakit, kakak juga yang repot mengobati” kata Larasati dengan nada lembut tak ubahnya seorang ibu yang sedang menasehati anaknya.

“Nggak usah di tolong dong kak…” Rara Ireng ngotot.

“Biarin aja. Siapa suruh nyakiti hati kita ?. Huuuuu…” memonyongkan mulutnya.

“Hihihhihihiii…..”.

Kali ini Larasati di buat terpingkal pingkal oleh kelucuan dan keluguan Rara Ireng. Dan seperti di komando, Rara Ireng pun akhirnya ikut ikutan tertawa lebar. Keduanya kemudian larut dalam canda tawa yang seolah tak berkesudahan. Bukan hanya sekali dua kali, tapi hari hari Larasati sepeninggal suaminya memang banyak di habiskan bersama putri bangsawan Mandura ini. Rara Ireng sendiri, sejak pertama kali berada di Widarakandang langsung cocok bersahabat dengan Larasati. Tabiat Larasati yang keibuan, penyabar dan bersahaja seolah menjadi penawar bagi kenakalan dan kebengalan Rara Ireng. Kedua wanita ini tak ubahnya kuali ketemu tutupnya. Saling melengkapi, saling melindungi dan saling menghibur satu sama lain.

“Sebentar, Rara…” tiba tiba Larasati menghentikan candaannya dengan Rara Ireng. 

Sesosok pria berwajah kusut, berpakaian lusuh dengan rambut acak acakan, menunggang kuda memasuki pekarangan rumah Larasati.

“Kakang Udawa…” pekik Larasati segera berdiri dari tempat duduknya. Sementara Rara Ireng yang juga mengenal siapa sosok yang datang, ikut memalingkan wajahnya pada tamu yang baru saja melompat dari atas kuda dan berjalan ke arah mereka.

“Hai Sati…Rara…!” pria itu melambaikan tangan dengan senyum merekah terpancar dari wajahnya.

Udawa. Putra tertua Kyai Antagopa ini memang sudah cukup lama, kira kira tiga bulan meninggalkan Widarakandang. Menemani sang Narayana berkelana dari satu tempat ke tempat lain demi mengais pengalaman dan wawasan. Selain juga tentunya untuk menghindarkan diri dari kejaran para pengikut Raden Kangsa yang telah lama berniat jahat terhadap anak anak Prabu Basudewa.

“Apa kabar keponakanku ini…?” tanya Udawa seraya menjulurkan tangannya ke perut Larasati.

“Dia kangen sekali dengan uwaknya, kakang” ucap Larasati.

“Oh ya ?”.

“He’em”.

“Nanti kalau sudah dewasa, uwak berjanji akan mengajarkan dia tinju yang paling kuat di muka bumi” kata Udawa bersemangat. Sudut matanya kemudian beralih para Rara Ireng.

“Aiiih…..kamu makin cantik saja Sembadra ?” puji Udawa pada Rara Ireng.

“Iya…tapi mana kakang Narayana ?. Kok pulang sendirian ?” sambut Rara Ireng sedikit kecewa karena yang dia tunggu malah tidak ikut serta.

Udawa menggamit pundak Rara Ireng, mengelus rambut gadis remaja putri Prabu Basudewa itu dan menatap hangat pada bola mata Rara Ireng.

“Nanti juga akan datang, Sembadra” hibur Udawa.

“Kapan ?” desak Rara Ireng.

“Yaa…setelah pekerjaan di Dwarawati selesai”.

“Ahh…kelamaan!!” sergah Rara Ireng dengan muka di tekuk.

“Ha ha ha ha…!”.

Ketiganya kemudian berjalan menuju teras rumah di mana terdapat empat potongan balok kayu berbentuk bulat dengan diameter tigapuluh sentimeter yang sengaja di rancang sebagai tempat duduk dan satu balok lagi di tengah tengah ke empatnya dengan ukuran lebih besar yang berfungsi sebagai meja.

“Kalian duduk dulu, aku ke dalam sebentar memasak air” Larasati mempersilahkan.

“Eit….tunggu dulu, kak!” Rara Ireng buru buru mencegah, “biar aku yang memasak air. Khan kak Larasati udah lama nggak ketemu kakang Udawa. Pasti kangen…”.

Tanpa banyak bicara lagi, Rara Ireng segera berlari ke dalam rumah.

“Sampai kapan dia tinggal di sini ?” kata Udawa sembari meletakkan bokongnya kursi.

“Entahlah, kakang” jawab Larasati, “aku juga kasihan sama dia. Biasanya hidup serba kecukupan, tapi sekarang harus tinggal di tempat seperti ini”.

Udawa menghirup nafas.

“Ehh…gimana perjalanannya kakang ?” sela Larasati. Ada sesuatu yang sangat ia tunggu kabarnya dari Udawa.

“Aku tidak tahu persis, karena aku harus menemani gusti Narayana membangun perkampungan Dwarawati. Tapi, kabarnya ia ada di Mandaraka” kata Udawa yang langsung paham apa maksud adiknya.

“Antar aku menemuinya, kakang” rengek Larasati memelas.

“Apa ?” Udawa menatap dalam dalam.

“Perutmu sudah besar, Sati. Dan tidak lama lagi akan melahirkan” keberatan.

“Sekali ini saja kakang” desak Larasati.

“Nggak bisa!”.

“Tolonglah, kakang. Aku janji akan menjaga diri” rayu Larasati.

Udawa terdiam.

“Aku hanya ingin dia melihat anak ini terlahir di dunia” Larasati mengelus perutnya, “dia harus tahu siapa bapaknya. Itu saja. Setelah itu kita kembali ke Widarakandang lagi…”.

Sebetulnya, Udawa merasa kasihan juga terhadap adik satu satunya ini. Melahirkan seorang bayi tanpa adanya seorang suami di sisinya tentu adalah sesuatu yang menyedihkan. Tapi mencari di mana keberadaan Permadi, bukan sesuatu yang mudah. Bisa saja hari ini pendekar Madukara itu berada di Mandaraka, tapi besoknya lagi ia ada di tempat lain. Belum lagi masalah keamanan. Di mana mana terjadi kekisruhan. Bukan hanya di Mandura, tapi belakangan ia juga mendengar kabar kalau Mandaraka juga sedang di landa masalah dengan hilangnya putri Prabu Salya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah soal Rara Ireng.

“Siapa yang menjaga Sembadra kalau adik Sati meninggalkan Widarakandang ?” tanya Udawa.

“Biar dia ikut saja” saran Larasati.

“Ahh…itu berbahaya buat dia”.

“Kita bisa bawa beberapa pemuda desa untuk mengawal” imbuh Larasati.

Belum juga Udawa menjawab usulan Larasati, Rara Ireng keluar dari dalam rumah dengan membawa nampan berisi gelas gelas minuman.

“Wah…asyik sekali ngobrolnya ya…” Rara Ireng meletakkan nampan minuman di atas meja.

“Sejak kapan Sembadra pintar membuat minuman seperti ini ?” ledek Udawa sembari menghirup aroma jahe yang keluar dari gelas minuman di depannya.

“Tuh, yang ngajari…” sudut matanya melirik kepada Larasati.

Tanpa menunggu di persilahkan, Udawa langsung mengambil salah satu gelas dan menyruputnya perlahan.

“Enak banget” komentar Udawa.

“Kakang…” raut muka Rara Ireng mendadak serius.
 
“Hemmm”.

“Sembadra kangen sama kakang Kakra”.

“Trus…?”.

“Cariin dia ya….”pinta Rara Ireng, “bilangin suruh pulang”.

“Pulang kemana ?. Keadaan di sini tidak aman. Gimana kalau ketahuan Kangsa ?”.

“Iya, tapi aku kangen banget kakang…” kilah Rara Ireng.

“Atau antar aku mencarinya?”.

Udawa meletakkan minuman di tangannya. Menatap ke arah Larasati yang menunduk, lalu beralih pada Rara Ireng.

“Sepertinya kalian kompak” komentar Udawa menggaruk kepalanya.

“Kompak gimana ?” baik Larasati maupun Rara Ireng serentak bicara.

“Kamu tahu di mana kakangmu Kakrasana ?”.

Rara Ireng menggeleng.

“Beberapa waktu lalu pasukan Kangsa menyerbu Argayosa. Tempat di mana kakangmu bertapa. Tapi untunglah gusti Kakrasana bisa menyelematkan diri”.

“Trus ?” tanya Rara Ireng serius.

“Aku dengar dia lari ke timur”.

“Mandaraka ?”.

Udawa mengangguk.

“Itu yang aku bilang kenapa kalian kompak. Karena baik Permadi maupun Kakrasana sepertinya ada di Mandaraka” terang Udawa.

“Ya sudah” sahut Larasati berbinar, “ tunggu apalagi ?. Kita bareng bareng mencari mereka”.

Udawa menghela nafas.

“Baiklah” pria berlengan kekar ini sepertinya sudah tak bisa lagi menghindar.

“Besok aku kumpulkan para pemuda. Kita berangkat ke Mandaraka”.

                                                        ************************


Ingin menabur asa
Tapi aku takut berbalut derita
Ingin mengayuh sampan
Dan berlayar menuju lautan lepas
Tapi aku takut gelombang
Ingin aku  berlari
Mengitari sudut sudut bumi
Tapi aku takut akan jatuh dan terkilir

Seperti yang biasa Banowati lakukan, setiap kali hatinya merasa gundah gulana, dawai kecapinya selalu menjadi teman setia yang tak pernah tergantikan. Benda berbentuk perahu itu tak pernah ketinggalan di bawa olehnya manakala bepergian jauh. Tak terkecuali ketika ia berangkat mencari Permadi bersama adik tercintanya, Burisrawa. Di sepanjang perjalanan, dari Kawah Geni menuju kota Mandaraka, Banowati hampir tak pernah keluar dari keretanya kecuali hanya untuk buang hajat atau melemaskan otot otot. 

Ia memang berhasil membawa serta Permadi ke Mandaraka, bahkan sang resi sakti Wasi Jaladara juga bersedia turut serta guna berniat membantu keluarga Prabu Salyapati untuk mencari keberadaan Dewi Herawati. Tapi, apa yang ia dengar dari pembicaraan antara Permadi dan Wasi Jaladara di sebuah gubuk yang ada di aose Sendang Sari sungguh membuat hatinya benar benar terpukul. Bahwa ternyata, pria yang selama ini ia kagumi sudah memiliki tambatan hati yang lain. Wanita Widarakandang yang bernama Larasati. Memang, Banowati tak tahu persis seperti apa hubungan keduanya, akan tetapi dari pembicaraan Permadi dan Wasi Jaladara mengisyaratkan bahwa Larasati adalah sosok penting dalam kehidupan ksatria Madukara itu. Kalau tidak istimewa, tak mungkin Permadi jauh jauh pergi ke Widarakandang hanya untuk meminta ijin. Bisa jadi ia kekasih Permadi, atau mungkin juga istri.

Banowati menghentikan petikan kecapinya, lalu mengulurkan tangannya pada tirai kain di sisi kiri kereta kuda yang ia tumpangi. Tidak terlalu lebar, akan tetapi cukup baginya untuk melihat suasana di luar. Di sisi kiri kereta yang ia tumpangi, tiga lelaki duduk di atas kuda. Berjalan bersusulan. Paling depan adalah si Petruk, dengan posisi mensejajari Burisrawa yang sibuk mengendalikan kereta. Pria itu tampak sibuk berbicara dengan Burisrawa yang menjadi kusir bagi keretanya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Di belakangnya, yang berada tepat di samping Banowati adalah pria tambun dengan bibir tebal dan mata besar. Bagong. Lelaki ini hanya terlihat berdendang sambil bersiul menghibur diri. 

Sementara Permadi tampak berada di barisan paling belakang. Pria tampan dengan busur panah di pinggang itu terlihat duduk termenung di atas kuda tunggangannya. Sorot matanya sayu, kosong dan tak bergairah. Sungguh berbeda dengan waktu Banowati bertemu dengannya di pantai Mandaraka. Permadi yang kemarin selalu tampil sejuk, menyenangkan dan terkadang lucu, kini tak ubahnya seperti patung kusam yang tak terawat. Senyum yang biasanya sangat manis dan sanggup merobohkan hati siapapun, kini hanya seonggok daging kaku yang tak enak di pandang. 

Banowati menutup tirainya perlahan. Menyandarkan tubuhnya di dinding kereta lalu memejamkan mata. Ada rasa sesal menggelayut dalam pikirannya. Sejak Permadi mengajaknya bicara empat mata di luar gubuk waktu itu, sekalipun Banowati belum mau berbicara dengan Permadi. Walaupun beberapa kali Permadi berusaha mencuri curi kesempatan untuk mengajaknya bicara, ia tetap diam seribu bahasa. Rasa sakit hati menyaksikan kenyataan bahwa pria yang belum lama ia kenal itu telah memiliki tambatan hati belum sepenuhnya bisa ia hilangkan.

“Ndoro “.

Terdengar lamat lamat suara memanggil dari sisi kiri Banowati yang sepertinya suara Bagong.

“Kenapa sih ndoro dari tadi diam saja ?. Bicara dong!. Masak Bagong di cuekin begini ?”.

Banowati membuka matanya, mendekatkan telinganya ke dinding kereta yang terbuat dari kayu untuk mendengar lebih jelas apa yang akan di ucapkan Permadi. Walaupun ia sudah menduga bahwa penyebab Permadi bermurung durja adalah dirinya, akan tetapi Banowati tetap saja penasaran dan merasa perlu untuk mendengar langsung jawaban apa yang keluar dari bibir pria itu.

Tak ada suara sedikitpun yang keluar dari bibir Permadi. Justru Bagong yang kembali bicara.

“Nggak usah bingung ndoro. Kayak nggak ada yang lain saja. Yang seperti itu banyak di dunia ini” ucap Bagong bernada menyindir.

“Kurang ajar bener itu Bagong” serapah Banowati dalam hati, “Kamu kira aku juga nggak bisa, cari laki laki yang seperti ndoromu itu ?. Sembarangan aja kalau ngomong”.

“Di Karang Kedempel, banyak perempuan yang bisa bermain kecapi. Cantik cantik malah. Apalagi yang tinggalnya di dekat bapak Semar. Kalau ndoro mau, nanti Bagong kenalin” lagi lagi Bagong seperti meledek.
Banowati menempelkan matanya pada celah dinding yang ada di belakang kereta untuk melihat reaksi Permadi. Tak ada tanggapan. Pria tampan yang berada persis di belakang keretanya itu masih saja memperlihatkan tampang kusut dan seolah  tak peduli dengan ucapan ucapan yang terlontar dari bibir si Bagong pembantunya. 

“Sebaiknya kita istirahat dulu Resi”.

Dari arah depan terdengar suara Burisrawa menyarankan pada pria berpakaian brahmana yang berada di sisi kanannya.

“Boleh”.

Jawab sang Resi singkat. Kereta kuda yang di tumpangi Banowati mendadak berbelok. Menuju sebuah tempat yang di penuhi pepohonan berukuran besar dan rindang.

“Tak jauh dari sini ada telaga yang airnya selalu melimpah. Tuan tuan semua bisa melepas lelah dengan membasuh diri di telaga itu. Tapi memang harus antri. Banyak penduduk yang mengambil air dari situ” Burisrawa kemudian menghentikan keretanya.

Banowati membuka jendela. Angin bertiup sepoi sepoi. Itu adalah tempat yang pernah ia lewati sebelumnya bersama Burisrawa. Suasananya masih seperti kemarin. Penuh lalu lalang manusia yang membawa ember untuk mengambil air dari telaga. Ada yang dengan cara di pikul, di naikkan kuda, dengan gerobak dan lain sebagainya. Para pengambil air itu tidak hanya datang dari desa sekitar, akan tetapi juga mereka yang tinggalnya puluhan kilometer dari tempat ini. Dan tak jarang dari mereka yang membawa serta binatang peliharaan seperti kerbau, kambing dan kuda. Tak heran jika rumput rumput liar yang banyak tumbuh di sekitar tempat ini terkikis habis di makan oleh hewan hewan itu. Bahkan daun daun pepohonan juga tak luput dari sasaran para penggembala. 

Burisrawa melompat dari kereta, lalu mengikat tali kekang kuda di sebuah akar pohon trembesi. Tiga orang pembantu Permadi bergegas menuju tempat yang tadi di tunjukkan oleh Burisrawa. Sementara sang Wasi Jaladara membawa kudanya berjalan ke sebuah batu besar yang letaknya sekitar tiga ratus meter dari tempat Banowati berada. Entah apa yang hendak ia lakukan.

“Kakak tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan air untukmu” kata Burisrawa pada Banowati seraya mengambil sebuah bambu wulung sepanjang satu meter yang biasanya untuk menampung air.
Banowati mengalihkan pandangannya ke belakang kereta, untuk melihat apa yang sedang di lakukan Permadi.

“Ahh…kemana perginya ?” batin Banowati mencari cari.

Entah sejak kapan pria Madukara itu pergi. Yang terlihat hanya kuda tunggangannya yang asyik memamah rumput. Penasaran ingin mengetahui di mana Permadi berada, Banowati melompat turun. Menyapu pandangan ke segala arah dan berharap bisa menemukan buronannya.Tapi hingga beberapa saat lamanya tak juga ia temukan batang hidung Permadi. Wanita dengan lesung pipit di kedua pipinya ini kemudian berjalan mendekati kuda tunggangan Permadi. 

Seekor kuda yang tidak hanya gagah, tapi juga elok. Bulunya yang berwarna putih. Mengingatkan Banowati pada sang Mharyapati pemberian ayahnya. Yang membedakan hanyalah jenis kelamin dan ukuran tubuhnya. Kuda milik Permadi ini lebih besar tubuhnya dan berjenis kelamin jantan.

“Apakah kamu kenal sama, Mharyapati ?” tanya Banowati spontan mengelus elus tengkuk sang kuda.
Sejenak kuda itu menghentikan kegiatannya memamah rumput dan tanaman. Mendongakkan kepala lalu meringkik. Banowati yang sudah terlatih menghadapi Mharyapati terlihat tidak canggung lagi. Di usapnya pipi kanan kuda itu perlahan. 

“Kuda yang manis…” puji Banowati terus mengusap kepala hewan pelari itu. Kalau bukan milik orang lain, sepertinya Banowati tak akan melewatkan kesempatan untuk mengajak kuda itu berlari bersamanya.

“Kalau Bano suka, Bano boleh tunggangi kyai Lesus itu”.

Banowati menoleh ke belakang, sesosok laki laki yang ternyata adalah pemilik kuda itu berdiri dengan tangan terlipat di belakang Banowati.

“Siapa yang mau naik ?. Jangan pura pura baik deh…” jawab Banowati ketus.

Mimiknya yang tadi sempat ceria karena merasa terhibur dengan binatang berponi itu, kini mendadak cemberut dan masam.

“Aku hanya ingin melihat, apakah rumput yang ia makan benar benar makanan yang baik” Banowati mencari cari alasan.

“Dan aku hanya menawarkan saja, nggak lebih” jawab Permadi datar.

“Terima kasih. Tapi aku tidak menyukainya” setelah bicara begitu, Banowati berjalan tergesa menuju keretanya.

Di dalam kereta, Banowati duduk merenungi apa yang baru saja terjadi. Sejak berangkat dari Sendang Sari, Banowati sudah bertekad untuk tutup mulut dan tidak mau bicara dengan pria yang sempat menarik hatinya itu. Tapi sepertinya pendiriannya mulai goyah.

“Gila, apa yang baru saja kamu lakukan Bano?” batin Banowati protes.

“Dia baru saja melukai hatimu dengan sebuah kebohongan yang sangat menyakitkan. Untuk apa kamu memberi dia kesempatan untuk mendekatimu ???”.

“Gila…bener bener sudah gila!” Banowati membanting tubuhnya di atas kasur empuk yang terdapat di dalam keretanya.

Tapi belum lagi Banowati menikmati posisinya, sebuah benda asing terasa mengganjal punggungnya. Gadis itu kemudian memutar tangannya ke belakang untuk menyingkirkan benda yang telah mengganggu kenyamanannya.

“Apalagi ini ?”.

Sepotong kayu pipih berbentuk segi empat dengan lebar satu jengkal dan panjang dua jengkal yang di atasnya tertulis beberapa bait kalimat kini berada di tangan Banowati.


Bano…
Sungguh aku tiada mengerti, dengan cara apalagi harus ku jelaskan padamu. Tentang percakapanku dengan Wasi Jaladara di saat itu. Yang pada akhirnya telah mengubah sikapmu kepadaku. Aku tahu, kamu telah mendengar semuanya. Soal niatku pergi ke Widarakandang dan tentunya tentang Larasati.

Benar sekali apa yang selama ini kamu pikirkan. Larasati itu istriku. Dia putri seorang pejabat berpangkat kepala desa di Widarakandang. Aku menikahinya sepuluh bulan lalu. Setelah memenangkan sebuah sayembara adu ilmu kanuragan melawan Udawa. Kakak Larasati. Tapi, Bano…

Jika kau berpikir bahwa aku sangat menikmati hubunganku dengan Larasati, itu salah. Aku menganggap perkawinan itu hanyalah kecelakaan semata. Bukan di dasarkan pada niat yang tulus dari lubuk hati paling dalam. Sebagai lelaki yang gemar berkelahi, kemampuan Udawa mengalahkan semua lawan tandingnya tentu membuatku merasa tertantang. Dan itu sesuatu yang lumrah. Bahkan tanpa embel embel hadiahpun, rasanya aku tetap ingin mengalahkan Udawa.

Pada akhirnya aku memang harus memenuhi keinginan keluarga Larasati untuk menikah dengan putrinya. Sebab jika tidak, semua orang akan mencibir dan menganggapku sebagai pria yang tak bertanggung jawab. Tapi yang harus kamu ingat, Bano. Secuilpun aku tak pernah memendam rasa cinta pada Larasati selain hanya ingin memenuhi kewajiban sebagai pemenang sayembara.

Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk belajar mencintai Larasati, tapi aku tak pernah sanggup melakukannya. Hubungan kami tetap hambar, kosong dan tanpa arah. Niatku untuk kembali ke Widarakandang bukan untuk mengembalikan hatiku untuk Larasati, tapi untuk memberitahukan kepadanya bahwa seseorang telah menyandera hati dan pikiranku.

Bano…
Bertemu denganmu adalah pengalaman paling indah yang pernah aku rasakan. Tapi ketika kembang tak lagi menampakkan kelopak ayunya dan memilih bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan, maka yang bisa aku dengungkan untukmu hanya satu hal. Semoga kau temukan sesuatu yang lebih menarik di luar sana.

(Permadi)


Banowati mengerutkan dahinya. Mengamati dengan seksama kalimat demi kalimat yang tertulis di atas kayu pipih berbentuk segi empat itu. Apa yang di ungkapkan oleh pria Madukara itu sangat jelas dan gamblang. Tidak saja menjawab segala prasangka buruk yang selama ini menghuni hati dan pikiran Banowati, tapi juga menyisakan penyesalan yang teramat dalam. Apalagi jika ia mengingat pesan ayahnya. Bahwa tujuan utamanya mencari Permadi adalah meminta bantuan kepada ksatria Madukara itu untuk menyelesaikan keruwetan yang melanda Mandaraka. Bukan untuk menyeret Permadi pada persoalan pribadi yang tak jelas kemana arahnya.

Oh Banowati…
Apa gerangan yang hinggap di pikiranmu
Sehingga egomu lebih besar dari pikiran warasmu
Dan nalarmu menjadi tergadai oleh nafsumu

Berpalinglah pada dirimu dan lihat baik baik
Adakah kepantasan yang layak engkau banggakan ?
Yang darinya pujian mengalir membasuh raga rapuhmu
Yang darinya sang lebah hinggap dalam peraduan wangimu
Yang darinya dewa asmara turun menyapamu

Wahai cahaya yang berkilau
Berhentilah bermimpi dan sadarlah
Berhentilah bersenandung dan bangunlah
Berhentilah memetik kecapimu dan kembalilah menjadi dirimu

Selanjutnya>>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar