Minggu, 11 November 2012

Banowati : Asmara di Mandaraka (2)


Sebelumnya <<<

Oleh : Komandan Gubrak

Pria muda itu tampak tergesa gesa menaiki perbukitan. Gerakannya terlihat ringan, lincah dan sangat terlatih. Tidak ada kesulitan sedikitpun baginya untuk mencapai puncak bukit kendati di sepanjang jalan ia harus melewati bebatuan nan terjal, curam, berdebu dan di penuhi dedaunan serta ranting kering. Di belakangnya, tiga pria berumur setengah baya terlihat berusaha dengan susah payah menyusul ke puncak bukit. Beberapa kali mereka terpaksa harus jatuh bangun karena medan terlalu curam dan licin untuk di lewati. Berada di barisan paling depan, lelaki jangkung dengan hidung mancung, dagu lancip serta rambut yang sebagian telah berwarna putih. Dialah Petruk. Salah satu anggota punakawan pengasuh para ksatria Pandawa. Di belakangnya lagi seorang lelaki yang umurnya sedikit lebih tua dari Petruk. Bertubuh kurus, pendek, berwajah buruk dan berkaki pincang. Bernama Gareng. Lelaki ketiga dan yang paling muda, bertubuh gemuk, bermata besar dengan bibir tebal. Dialah sang Bagong. Pengasuh termuda para ksatria Pandawa.

Lalu siapakah pria muda dengan gerakan lincah yang kini duduk manis di atas batu besar di puncak bukit ?. Dia tak lain dan tak bukan adalah sang panengah Pandawa, raden Permadi. Bertubuh sedang, berkulit bersih, berhidung mancung, berwajah tampan dengan rambut hitam legam lurus sepanjang bahu. Berpakaian ksatria dengan busur dan anak panah bertengger manis di punggungnya. Tabiatnya kalem, rendah hati, santun dan tidak banyak bicara. Selain di kenal sebagai sosok pendekar pilih tanding dan ahli dalam ilmu memanah, Raden Permadi juga mempunyai sisi lain yang jarang di miliki pria lain. Yaitu, lihai dalam menakhlukkan hati para wanita. Wajah tampan, penampilan rapi dan olah kata yang santun adalah modal paling berharga yang di miliki putra ke tiga almarhum Prabu Pandudewanata ini dalam menjerat hati kaum wanita. Tidak terhitung lagi berapa wanita yang jatuh hati pada ksatria asal Madukara ini. Jangankan yang jelas jelas perempuan lajang, mereka yang telah bersuamipun tidak sedikit yang menaruh rasa suka terhadap lelaki yang satu ini.

Namun demikian, kisah asmara sang Permadi sendiri tidaklah semulus yang di bayangkan banyak orang. Kendati di idolakan banyak kaum hawa, Permadi bukanlah pribadi yang begitu mudah untuk menambatkan cintanya. Bagi Permadi, ketertarikan terhadap lawan jenis tidak melulu di dasarkan pada pesona fisik,  kemolekan tubuh, kecerdasan pikiran atau apapun. Tapi lebih pada ketergerakkan hati. Sebuah kondisi di mana hati merasa nyaman dan cocok dengan obyek yang ada. Tidak mesti melalui sebuah proses panjang yang berbelit belit dan penuh onak berduri. Rasa cintanya bisa tumbuh secepat kilat bahkan hanya sesaat setelah pandangan pertama, manakala hatinya tergerak. Namun sebaliknya, sekeras apapun dan bahkan dengan jangka waktu yang cukup lamapun, usaha untuk menakhlukkan hati Permadi, jika ia sama sekali tak merasa tergerak hatinya, maka tidak akan pernah tumbuh rasa cinta itu. Pendeknya, cinta menurut putra Kunti ini tidak bisa di rekayasa, tidak bisa di karang karang dan tidak bisa di upayakan. Ia harus muncul secara alami dari lubuk hati yang paling dalam.

Permadi memang unik. Dia bukan tipe pria yang terlalu peduli dengan keadaan sekitar, tidak peduli dengan rintangan yang kemungkinan menghalangi hasratnya, bahkan dia sama sekali tak peduli apakah cintanya bertepuk sebelah tangan atau tidak. Jika hati sudah terketuk, maka sulit sekali rasa itu tercabut. Perangai seperti inilah yang seringkali membuat ibu, kakak, adik dan keluarganya selalu merasa was was. Was was jikalau apa yang di inginkan oleh pemilik panah Pasopati ini ternyata sudah menjadi hak milik orang lain. Kisah cinta Permadi dan Dewi Anggraeni, istri Prabu Ekalaya,  barangkali bisa menjadi contoh nyata bagaimana tabiat Permadi yang tidak pernah peduli dengan resiko akhirnya melahirkan sebuah aib yang begitu membuat malu keluarga Amarta. 

Di ceritakan suatu ketika Dewi Anggraeni beserta rombongan yang membawa sesembahan dari suaminya Prabu Ekalaya untuk Begawan Durna memasuki sebuah hutan angker, mereka di cegat para raksasa penghuni hutan itu. Maka terjadilah pertempuran hebat antara para raksasa dan pengawal Dewi Anggraeni. Pasukan pengawal Anggraeni terdesak, kewalahan  dan akhirnya berhasil di tumpas habis oleh para Raksasa penguasa hutan. Dewi Anggraeni melarikan diri, namun usahanya segera di ketahui oleh kawanan penguasa hutan itu dan di kejar hingga masuk lebih jauh ke dalam hutan. Di tengah hutan itulah Anggraeni bertemu Permadi yang sedang menjalani tapa brata. Melihat ada wanita cantik jelita yang kepayahan di kejar kejar gerombolan raksasa, Permadi keluar dari pertapaan dan bermaksud menolong Dewi Anggraeni. Usaha Permadi berhasil. Para raksasa di tumpas Permadi tanpa sisa. Merasa berjasa menyelamatkan Dewi Anggraeni, Permadi yang terpesona akan kecantikan istri Prabu Ekalaya ini, dengan tanpa malu menyatakan cintanya pada Dewi Anggraeni. Namun oleh Anggraeni, cinta Permadi di tolak secara halus dengan alasan bahwa ia telah menjadi istri dari penguasa Paranggelung Prabu Ekalaya. Sakit hati Permadi. Walaupun suami Anggraeni adalah seorang Raja, tapi secara kasta ia hanyalah raja kecil yang kedudukannya tidak sebanding dengan Permadi. Permadi yang nasabnya lebih tinggi dari Ekalaya merasa di permalukan oleh penolakan Anggraeni. Maka timbullah niat jahat Permadi untuk memperkosa Dewi Anggraeni. Melihat gelagat yang tidak baik dari pria yang sempat menolongnya itu, Dewi Anggraeni lalu melarikan diri, namun terus di kejar Permadi hingga sampailah mereka di tepi jurang nan dalam. Anggraeni yang merasa terjepit dan tak punya pilihan untuk menghindar dari Permadi memutuskan untuk bunuh diri dengan terjun ke dalam jurang. Baginya, lebih baik mati demi membela kesetiaan pada suaminya daripada jatuh ke pelukan Permadi.

Pupus hati Permadi menyaksikan wanita yang begitu mempesona hatinya terjun bebas ke dalam jurang. Namun tanpa sepengetahuan Permadi, Dewi Anggraeni yang hampir di pastikan tewas membentur bebatuan di dasar jurang secara ajaib di selamatkan oleh ibundanya yang merupakan salah satu bidadari surga, Dewi Warsiki. Dewi Warsiki kemudian membawa Anggraeni pulang ke Paranggelung dan melaporkan tindakan tidak senonoh Permadi kepada menantunya, Prabu Ekalaya. Mendengar berita bahwa Permadi telah melakukan pelecehan terhadap istri tercintanya, marahlah Prabu Ekalaya. Berangkatlah Ekalaya beserta pasukannya ke Madukara dengan niat menghukum Permadi. Permadi yang baru saja pulang dari bertapa, kaget bukan kepalang mendapati ksatrian Madukara di kepung dari segala penjuru oleh pasukan Prabu Ekalaya. Bentrokan tak bisa di hindarkan. Prabu Ekalaya yang merasa di rendahkan oleh tindakan Permadi pada istrinya menantang perang tanding satu lawan satu. Sebagai seorang ksatria, Permadi menerima tantangan Prabu Ekalaya dengan harapan jika ia bisa membunuh Ekalaya, Dewi Anggraeni akan menjadi miliknya. Perang tandingpun pecah. Namun di luar perkiraan, Prabu Ekalaya yang memiliki sebuah jimat sakti berbentuk cincin di jempol tangan bernama Mustika Ampal memberikan perlawanan yang luar biasa. Segala senjata yang di pakai Permadi dengan mudahnya di patahkan Prabu Ekalaya berkat keampuhan jimat Mustika Ampal. Hingga malam menjelang pertarungan dua pria hebat ini berakhir tanpa ada pemenang. Karena menurut tradisi, perang tanding tidak boleh di lakukan di malam hari, keduanya sepakat untuk melanjutkan perkelahian keesokan hari.

Mujur bagi Permadi, di saat istirahat di wisma ksatrian datanglah Narayana (Kresna). Kepada Narayana ia menceritakan bahwa seharian ia perang tanding dengan Ekalaya dan ia tak bisa mengalahkan Raja Paranggelung itu karena dia memiliki Jimat Mustika Ampal. Berkat jimat itu Prabu Ekalaya tak bisa di bunuh dengan senjata apapun. Mengetahui keresahan Permadi, Narayana yang di kenal cerdik kemudian menyusun siasat. Malam itu juga Narayana menyamar menjadi Resi Durna dan menyusup ke perkemahan Prabu Ekalaya. Mendapati yang datang adalah guru Durna dari Sokalima yang sangat ia hormati, Prabu Ekalaya menyambutnya dengan penuh hangat. Keinginan Ekalaya untuk berguru pada Durna kembali timbul setelah dahulu kala sempat di tolak oleh spiritualis asal Sokalima ini dengan alasan Resi Durna tidak menerima murid dari kalangan bukan ksatria. Dan rupanya, inilah yang kemudian di manfaatkan oleh Narayana yang sedang menyamar sebagai Durna untuk mengakhiri kedigdayaan Prabu Ekalaya. Dia mengatakan kepada Prabu Ekalaya, bahwa ia bersedia menerima Ekalaya sebagai murid dengan syarat Prabu Ekalaya bersedia menyerahkan jimat Mustika Ampal kepadanya. Awalnya Prabu Ekalaya menolak, akan tetapi Durna palsu ini dengan cerdik mengatakan pada Ekalaya bahwa ia tidak mau menurunkan ilmu ilmu sakti sedang muridnya itu masih memakai jimat jimat peninggalan masa lalu. Karena rasa cinta pada guru dan hasratnya yang luar biasa untuk mewarisi kesaktian Durna, akhirnya luluh juga hati Prabu Ekalaya. Cincin Mustika Ampal di serahkan pada Durna bajakan ini.

Setelah sukses mendapatkan apa yang ia cari, Narayana kemudian kembali ke ksatrian Madukara dan memberitahukan pada Permadi bahwa Prabu Ekalaya sudah tidak sakti lagi. Kabar ini tak ayal membuat hati Permadi berbunga bunga, bayangan jelita Anggraeni yang sebentar lagi akan ia dapatkan meliuk liuk di pelupuk mata Permadi. Maka malam itu juga berangkatlah Permadi ke perkemahan Prabu Ekalaya. Dan ketika mendapati Prabu Ekalaya tertidur pulas dengan sebilah keris di sampingnya. Di ambilnya keris itu lalu di tusukkan pada pemiliknya. Seketika matilah Prabu Ekalaya. Permadi kemudian mengumumkan kepada para prajurit Paranggelung bahwa ia telah membunuh raja mereka. Sontak berita ini menggegerkan kubu Paranggelung, tak terkecuali Dewi Anggraeni yang berkemah tak jauh dari tenda milik suaminya. Sedih hati sang Anggraeni mendengar kabar kematian suami tercintanya. Dan demi bela pati atas gugurnya Prabu Ekalaya, di depan Permadi ia melakukan aksi bunuh diri yang tak bisa di cegah oleh siapapun.

Hancur hati Permadi melihat kejadian itu. Wanita yang ia cintai setengah mati dan ia harapkan bisa bersanding di sisinya tewas bersimbah darah. Tragedi ini begitu memukul hati Permadi. Berhari hari Permadi nyaris tak bisa tidur akibat menyesali perbuatannya. Badannya yang gemuk berotot perlahan kurus kering karena nafsu makannya telah sirna bersamaan dengan sirnanya sang dewi pujaan hati. Permadi lalu memutuskan untuk meninggalkan Madukara, meratapi kisah hidupnya dan mengembara dari desa ke desa, dari gunung ke gunung dan dari hutan satu ke hutan lainnya. Hingga suatu hari tibalah ia di desa Widarakandang. Sebuah desa yang berada di bawah kekuasaan Mandura. Di situ hidup satu keluarga, Kyai Antagopa dan Nyai Sagopi. Keluarga ini memiliki dua orang anak, Udawa dan Larasati.

Udawa adalah pemuda yang sangat kuat, ahli kanuragan dan memiliki tinju yang mematikan. Sementara Larasati adalah gadis muda yang cantik, anggun dan menarik hati. Syahdan, keluarga Antagopa yang menyaksikan putrinya yang makin dewasa dan tumbuh sebagai kembang desa nan molek berkeinginan untuk mencarikan jodoh bagi Larasati. Maka mendengar keinginan Kyai Antagopa untuk mencari pendamping  bagi anaknya, berdatanganlah para jawara melamar Larasati. Karena saking banyaknya pelamar dan keluarga Antagopa tak ingin membuat kecewa semuanya, maka keluarga Antagopa berkeputusan bahwa barang siapa yang mampu mengalahkan Udawa, ia berhak menjadi suami Larasati.

Perang tanding di mulai. Satu demi satu jawara jawara berkelahi melawan Udawa. Akan tetapi hingga habis semua jagoan, tak satupun yang mampu mengalahkan Udawa yang kuat dan bertinju mematikan. Permadi yang awalnya hanya menonton dan tak terlalu tertarik pada hadiah yang di tawarkan keluarga Antagopa penasaran juga menyaksikan kedigdayaan Udawa. Maka majulah Permadi menjadi penantang terakhir Udawa. Dan akhirnya Udawa berhasil dia kalahkan. Sesuai perjanjian bahwa siapapun pemenangnya akan di kawinkan dengan Larasati, maka mau tak mau Permadi harus menerima Larasati sebagai istrinya. Maka menikahlah Permadi dan Larasati.

Sebuah perkawinan yang tidak begitu mulus. Karena ternyata Permadi masih sulit melupakan Dewi Anggraeni. Kendati Larasati memiliki wajah yang cantik menawan, tapi bagi Permadi, keberadaan Larasati sama sekali tidak bisa menggantikan apa yang selama ini ia lihat dari Dewi Anggraeni. Keteguhan Anggraeni, kesetiaannya dan aksi bela pati Anggraeni atas kematian suaminya seolah terus menghipnotis Permadi. Ini yang akhirnya menjadikan Permadi tidak betah tinggal di Widorokandang dan memutuskan untuk kabur dan mengembara entah kemana dengan di kawal tiga pengikutnya, Gareng, Petruk dan Bagong.

“Sebenarnya, apa gerangan yang ndoro Permadi cari di tempat gersang seperti ini ?” tanya Petruk begitu berhasil menyusul majikannya yang tengah duduk berjongkok di samping batu besar di puncak bukit. Sementara di belakang Petruk, dua saudaranya secara bersamaan juga tiba di tempat yang sama.

Permadi hanya menoleh sebentar pada ketiga pembantunya. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Matanya yang tajam bagai elang tampak serius mengamati  sebuah tempat yang terletak nun jauh di balik bukit. Sebuah kawasan di dataran rendah yang di sekelilingnya di bentengi oleh pagar tembok setinggi tiga meter dan berada persis di pinggiran pantai. Di setiap sudut benteng, berdiri menjulang menara menara yang terbuat dari batu bata dengan kubah berbentuk kerucut. Fungsinya selain memperindah kota, juga menjadi tempat strategis untuk mengawasi setiap gerak gerak yang ada di dalam dan luar istana. Sementara itu di balik benteng nan tebal itu, setidaknya terdapat lima blok kawasan yang juga di lindungi oleh pagar pagar tinggi terbuat dari batu bata. Di dalam blok blok itu terdapat bangunan bangunan berbagai ukuran yang tampaknya berfungsi sebagai tempat tinggal, barak prajurit, pasar, tempat ibadah dan lain sebagainya.

“Sepertinya ndoro sedang mengamati tempat itu ?” sahut Gareng seraya mengarahkan telunjuknya.

“Ada apa sih ?” sela Bagong dengan nafas yang masih terengah engah.

“Kita hampir sampai di kota Mandaraka” ucap Permadi tak juga memalingkan pandangannya.

“Kota Mandaraka ?” teriak ketiga pembantu Permadi itu girang. 

“Akhirnya, setelah tiga bulan kita hanya menemui gunung, hutan, padang pasir dan perkampungan, sampai juga kita di kota yang indah itu” ujar Petruk sembari mengadu pundaknya dengan pundak Gareng, sementara kedua bola matanya masih mengarah pada tempat di pesisir timur itu.

“Betul, Truk” sahut Gareng, “artinya kita bakalan ketemu makanan yang lezat lezat…”.

“Ha ha ha ha!” derai tawa ketiga pembantu Permadi itu sontak meluncur lepas dari mulut mereka.

“Pasti di sana banyak wanita wanita cantik ?” seloroh Bagong.

“Huuuu…! Pikiranmu itu loh, Gong” timpal Gareng.

“Kenapa ?. Itu artinya aku masih normal, Reng!” tak mau kalah, “iya khan, Truk?”.

“Normal sih normal, tapi lihat lihat dulu kali, Gong!” Gareng.

“Oalah…masalah duit ?. Kecil itu….!. Khan ada ndoro Permadi ?. Lagian, gusti Salya khan masih terhitung paman dari keluarga Pandawa, masak iya tega ?. Bukan begitu, Truk ?” ucap pria gendut berkepala botak itu seraya sudut matanya melirik ke arah sang Petruk.

Petruk yang merasa geli dengan tingkah Bagong hanya bisa tersenyum simpul.

“Betul khan, Truk ?” Bagong mengulangi. Kali ini tangan kirinya menjawil pundak Petruk.

“Iya…iya…!” sekenanya.

“Nah..gitu dong” Bagong lega.

Suasana kembali hening. Enam pasang mata itu lagi lagi mengarahkan pandangannya pada bangunan bangunan megah yang ada di dalam benteng Mandaraka. Memang, bagi ketiga pembantunya, tempat di bawah bukit itu yang terlihat jelas hanya bangunan bangunannya, sementara para penghuninya hanya terlihat seperti titik titik kecil yang berjalan kesana kemari. Tapi bagi Permadi yang matanya sudah terlatih, titik titik kecil itu terlihat jelas sekali. Ada gerakan gerakan yang tidak biasa di dalam dan di sekitar benteng. Belasan unit unit kecil berisi lima hingga sepuluh prajurit terlihat mondar mandir mengelilingi benteng. Di pintu gerbang sebelah utara, tampak serombongan pasukan berkuda dengan berjumlah belasan tengah sibuk berkumpul di balik pintu gerbang. Di blok pemukiman di sebelah timur, yang tampaknya adalah barak prajurit, ratusan orang berkumpul di lapangan. Seperti ada sesuatu yang hendak di lakukan. Sementara di blok paling tengah yang terdapat bangunan besar dan megah dengan taman taman bunga nan indah, belasan orang terdiri dari laki laki dan perempuan tengah sibuk mempercantik area istana.

“Akan ada tamu penting yang akan datang ke Mandaraka” guman Permadi pelan, tapi cukup jelas terdengar di telinga ke tiga pembantunya.

“Siapa ndoro ?” tanya Petruk penasaran.

Permadi hanya terdiam. Dia tidak tahu persis siapa gerangan tamu yang akan datang ke Mandaraka, tapi melihat persiapan penyambutan yang luar biasa, sudah pasti tamu itu bukan orang sembarangan.

“Lihat itu ndoro…!” teriak Gareng seraya mengarahkan telunjuknya ke arah utara. Serombongan manusia yang entah berapa jumlahnya bergerak perlahan menyusuri jalanan berdebu yang mengarah ke kota Mandaraka.

“Itu panji panji Hastina ??” pekik Permadi tertahan.

Ya, dari umbul umbul dan bendera warna kuning yang di bawa oleh beberapa anggota rombongan, sepertinya itu memang rombongan dari Hastinapura. Sebuah negara besar yang terletak sebelah utara Mandaraka. Negeri dimana Permadi dan saudara saudaranya sempat tinggal di sana dalam jangka cukup lama sebelum akhirnya di usir dan mengungsi ke hutan Amarta.

Permadi menarik nafas dalam dalam, matanya terpejam beberapa saat lalu perlahan terbuka.

“Itu kereta Kakang Suyudana !” kata Permadi.

Tak salah lagi, benda yang mirip rumah berjalan dengan di tarik enam ekor kuda dan di kawal seratusan prajurit berkuda itu sudah pasti adalah kereta kesayangan raja Hastinapura.

Tapi apa gerangan maksud kedatangan Suyudana ke Mandaraka ?. Permadi berpikir keras. Kalau di lihat dari pasukan yang di bawa Suyudana, sepertinya raja Hastina itu tidak ada kesan bermaksud jahat pada Mandaraka. Apalagi jika melihat adanya kotak kotak besar yang di tarik dengan menggunakan kereta kuda dan berada persis di belakang kereta Suyudana. Kotak kotak itu jelas bukan tempat menyimpan senjata, tapi lebih seperti kotak barang yang entah apa jenis barang di dalamnya. Mungkin benda benda berharga yang akan di persembahkan pada penguasa Mandarka.

Permadi mengerutkan dahi. Pandangannya kini menyapu ke dalam  benteng  kota Mandaraka. Ada sesuatu yang menarik perhatian Permadi, tepatnya di blok paling tengah yang sepertinya adalah kediaman raja dan keluarganya. Sesosok perempuan dengan busana bangsawan tampak keluar dari bangunan paling megah di tengah tengah Mandaraka itu. Berjalan terburu buru melewati beberapa penjaga yang ada di sepanjang jalan istana. Menuju ke sebuah rumah yang terletak di sisi kiri istana raja. 

Empat orang prajurit yang menjaga rumah itu tanpa banyak bertanya lantas membukakan pintu gerbang dan membiarkan wanita bangsawan itu masuk. Melewati jalan kecil yang di kiri kanannya terdapat kolam, lalu melintasi sebuah taman bunga dan di sambut dua orang perempuan tua yang kemungkinan adalah pelayannya. Ketiganya tampak sibuk membicarakan sesuatu. Tidak berapa lama salah satu dari pelayan itu berlarian masuk ke dalam rumah dan keluar lagi dengan menenteng sebuah benda berbentuk perahu kecil. Di serahkannya benda itu pada wanita bangsawan majikannya. Setelah itu kedua pelayan itu berlalu entah kemana.

“Ndoro…” Petruk menepuk pundak tuannya.

“Rombongan Hastina itu sebentar lagi memasuki kota” kata Petruk.

“Biarkan saja” jawab Permadi seolah tidak lagi peduli dengan kedatangan orang orang Hastina ke Mandaraka. Matanya lebih tertarik pada gerak gerik putri bangsawan yang ada di komplek bangunan sebelah kiri istana raja.

Perempuan bangsawan itu kini berjalan menuju sebuah balai terbuat dari kayu yang di kiri kanannya terhampar tanaman bunga berbagai jenis. Menaikki balai setinggi lutut dan duduk bersimpuh menghadap ke barat, persis ke arah dimana Permadi dan ketiga pelayannya berada. Sementara benda berbentuk perahu yang sepertinya adalah sebuah kecapi itu di letakkan tepat di depan lututnya. 

“Itu seperti keretanya Prabu Suyudana, ndoro…”lapor Petruk yang belum juga sadar bahwa Permadi tengah sibuk memperhatikan obyek lain.

“Ya” sahut Permadi seraya mengangkat telunjuk kanannya di depan mulut untuk member isyarat agar Petruk tidak banyak bicara.

Wanita yang sedang duduk bersimpuh di atas balai itu terlihat diam mematung dengan posisi tangan menopang dagu. Sementara arah wajahnya tertuju pada tanaman tanaman bunga yang ada di depannya. Entah apa yang ia pikirkan sehingga kecapi yang sejak awal ia persiapkan tak juga di mainkan. Dalam posisi wajah yang  tidak secara langsung menghadap ke arahnya, rasanya cukup sulit bagi Permadi untuk meraba raba seperti apa gerangan kecantikan wanita itu. 

“Ayolah nona, menghadaplah kemari” teriak Permadi dalam hati. 

“Sebentar sajalah nona, sebentar saja kamu pertunjukkan wajah cantikmu padaku. Setelah itu silahkan kamu mainkan benda kesayanganmu itu” pinta Permadi dengan harapan celotehan hatinya bisa di dengar oleh wanita bangsawan di ujung sana.

Tapi untuk beberapa saat lamanya Permadi harus menelan kekecewaan. Bukannya mengarahkan pandangannya pada bukit gundul tempat di mana Permadi berada, tapi perempuan itu justru melepaskan topangan dagunya dan tertunduk menatap kecapi di depannya.

“Sial!” maki Permadi jengkel.

“Apa aku harus pecahkan batu ini agar perhatianmu tertuju kemari ?” pikir Permadi seraya menepuk perlahan batu besar di sampingnya. Namun sebentar kemudian ia menggeleng ragu. Ia bisa saja meledakkan batu di sampingnya dengan sekali pukul, tapi tindakan itu sama saja mengundang perhatian pihak lain juga. Bukan hanya para prajurit Mandaraka yang hilir mudik di sekitar benteng, tapi juga rombongan Hastinapura yang sudah tentu berisi ksatria ksatria hebat kurawa.

Sejenak lelaki yang konon adalah titisan Dewa Wisnu ini memutar otak. Dengan cara apa ia bisa membuat wanita bangsawan itu mengarahkan wajah padanya. Jarak antara dia dan Permadi memang cukup jauh. Jangankan lambaian tangan, bahkan seluruh tubuh Permadipun sepertinya tidak bisa di jangkau pandangan mata perempuan itu. Posisi ini sebenarnya menguntungkan Permadi, karena ia dapat dengan leluasa memandangi setiap gerak gerik wanita itu berkat kemampuan ilmu mata batin yang di miliki Permadi. Akan tetapi sebaliknya, wanita bangsawan itu belum tentu punya kemampuan serupa.

“Oh ya…” pekik Permadi seperti menemukan sebuah ide. Di raihnya batu kerikil yang berserakan di bawah kakinya. Di genggamnya kerikil seukuran biji mata, lalu dengan perhitungan yang cukup matang putra terkasih Prabu Pandu itu mengayunkan tangannya. Batu kerikil itu meluncur deras laksana anak panah yang terlepas dari busurnya.

Bletakk!!!

Sebuah lemparan yang sempurna. Batu itu menubruk dinding kecapi yang terbuat dari bahan kayu milik wanita itu dan menimbulkan suara lumayan keras. Tidak sampai merusak, karena semua sudah di perhitungkan pelemparnya, tapi usaha itu cukup memantik perhatian pemilik kecapi itu. Wanita bangsawan itu terkaget bukan main, mengangkat muka dan mencari cari tahu apa gerangan yang terjadi. Di angkatnya alat musik petik yang ada di depannya. Sebuah batu kerikil sebesar biji mata teronggok tak jauh dari kecapinya. Dan dengan tatapan liar, wanita itu kemudian berusaha menyelidiki darimana dan siapa gerangan pelempar batu kerikil itu. Saat itulah wajah wanita bangsawan itu mengarah lurus pada bukit gersang tempat Permadi dan pelayannya berada. Bisa jadi wanita itu tidak berniat melempar pandangannya ke arah bukit, tapi tindakan itu cukup bagi Permadi untuk melihat lebih jelas wajah sang wanita bangsawan.

“Anggraeni!!!” Permadi terkesiap menyaksikan pemandangan yang baru saja ia saksikan. Antara percaya dan tidak percaya. Apa yang di saksikan Permadi sungguh membuat jantungnya mendadak berdegup kencang. Wanita itu mirip sekali dengan Dewi Anggraeni. Perempuan cantik istri Prabu Ekalaya yang dulu pernah membuatnya begitu tergila gila. Wajah yang berbentuk oval, bola mata tajam, hidung mancung, kulit putih bersih, dagu lancip dan rambut lurus berwarna hitam sepanjang punggung. Semua itu tak ayal mengembalikan ingatan Permadi pada Anggraeni.

“Tapi dia telah mati ?” Permadi mengucek ucek matanya untuk memastikan sekali lagi bahwa apa yang di lihatnya bukanlah halusinasi.

Itu benar benar Anggraeni. Tak salah lagi, kecuali benda berbentuk perahu yang ada di depannya, semua yang ada pada diri wanita itu nyaris tidak ada bedanya dengan ratu Paranggelung pujaan Permadi. Wajahnya, rambutnya, bentuk tubuhnya bahkan gerak geriknya tak ubahnya Dewi Anggraeni.

“Kakang Gareng, Petruk dan Bagong” ucap Permadi pada ketiga pelayannya.

“Iya ndoro…” ketiganya serempak menjawab.

“Kalian lihat tidak bangunan megah di sisi kiri bangunan besar di sana itu ?” Permadi mengarahkan telunjuknya. 

“Iya, emang ada apa dengan rumah itu, ndoro ?” tanya Gareng langsung paham apa yang di maksud majikannya.

“Itu seperti kediaman putri putri Raja ndoro” sahut Petruk.

“Kebun tanaman yang lebih luas, pantulan sinar menyilaukan yang tampaknya sebuah kolam pemandian di belakang bangunan itu, tak salah lagi biasanya adalah keputren” lanjut Petruk menerangkan.

Permadi mengangguk. Kendati ketiga pelayannya itu sudah pasti tak sanggup melihat keberadaan wanita mirip Anggraeni di ujung sana, namun untuk mengenali ciri khas sebuah komplek bangunan, rasanya sangat mudah bagi mereka.

“Kalian tahu, di bangunan itu terdapat perempuan yang cantik jelita ?”.

“Mana bisa kami melihat. Ndoro ini ada ada saja…” jawab Bagong tersipu.

“Makanya kalau belajar ilmu kanuragan itu yang serius, Gong” Gareng meledek.

“Memangnya kamu bisa melihat ke sana, Reng ?. Sama sama nggak bisa lihat aja kok” ucap sang Bagong sewot.

“Mungkin mataku yang salah, tapi aku melihat di sana, di balai kecil di tengah taman itu, seorang wanita cantik berbaju biru, berambut lurus hitam, hidung mancung da mata yang bersinar menakjubkan. Mirip…ya…mirip sekali dengan Anggraeni. Iya…mirip sekali” terang Permadi antusias.

“Waduhhh???” ketiga pembantu Permadi ini terlihat melongo keheranan.

“Itu lihat, dia menatap kemari…dia melihat kemari…” cerocos Permadi seperti sedang kerasukan makhluk halus.

Makin tak karuan perasaan ketiga anggota punakawan ini menyaksikan perubahan sikap Permadi. Tapi untuk menghentikan tingkah sang majikan mereka masih ragu. Jangan jangan apa yang di lihat oleh momongannya benar. Tapi bukankah Dewi Anggraeni telah lama meninggal akibat bunuh diri ?.

“Aneh?” guman Petruk menggaruk garuk kepalanya. Sementara setali tiga uang, sang Gareng dan Bagong tak sempat menutup mulut karena was was dengan kondisi kejiwaan tuannya.

“Tidak salah lagi kakang…tidak….” Permadi menjawil pundak Petruk.

“Hehh…kalian kenapa ?” bentak Permadi menyadari bahwa tingkahnya di anggap aneh oleh ketiga pembantunya.

“Mmmm….maaf ndoro….!” buru buru Petruk meminta maaf yang kemudian di ikuti kedua saudaranya.

“Kita hanya heran saja. Apa ndoro lupa, kalau kami tidak memiliki kemampuan melihat jarak jauh seperti ndoro Permadi ?” kelit Petruk cerdik.

“Oooooh iya” Permadi menepuk jidatnya, “maafkan saya kakang”.

“Tapi ini beneran. Aku tidak bohong kalau di sana ada wanita cantik yang mirip sekali dengan Anggraeni” Permadi mulai bisa mengendalikan diri.

“Mungkin hanya mirip saja, ndoro” Gareng memberanikan diri bicara.

“Iya, tapi kenapa bisa kebetulan begitu ?” kilah Permadi.

“Ndoro lupa ya “Petruk mengingatkan, “kalau Prabu Salya memiliki putri putri yang terkenal cantik dan menawan hati ?”.

“Darimana kakang Petruk tahu ?” heran.

“Ya tahulah, khan dulu kami pernah menyertai ndoro Nakula dan Sadewa berkunjung ke Mandaraka ?” tutur Petruk mengingat ingat pengalamannya tempo silam.

“Kalau nggak salah ada tiga putri gusti Salya. Namanya siapa itu Reng ?. Ah aku lupa”  Bagong menggaruk kepalanya.

“Herawati…?”

“Iya bener. Satunya lagi Srikanti…”.

“Surtikanthi, Gong” sahut Gareng meluruskan.

“Dan yang terakhir…mmmmm….Ban…Banowati. Ya Banowati…”.

Permadi terlihat manggut manggut. Kendati Prabu Salya masih terhitung kerabat Pandawa. Persisnya paman dari Nakula dan Sadewa, tapi secara pribadi Permadi kurang begitu paham dengan keluarga Mandaraka. Dia hanya mengenal Prabu Salya sebagai raja Mandaraka. Tidak lebih dari itu. 

“Apakah putri putri paman Salya ada yang mirip Anggraeni ?” selidik Permadi.

“Cantik cantik ndoro” jawab Petruk lugas, “tanya saja sama Gareng atau Bagong”.

“Betul ndoro!” sahut Bagong serta merta, “tapi soal mirip atau tidak dengan Dewi Anggraeni kami nggak bisa memastikan. Soalnya dulu ketiganya masih kecil kecil. Belum pinter dandan gitu….”.

“Ooooo…begitu ?” Permadi datar.

“Oh ya, kalian bisa antarkan aku berkenalan dengan putri putri paman Salya ?. Terutama yang tinggalnya di sana itu ?”.

Ketiganya saling pandang. Bukan bermaksud menolak perintah majikannya, tapi ada hal lain yang perlu di pikirkan.

“Anu ndoro…”Petruk menyela, “bukan kami nggak bersedia. Tapi, apa ndoro nggak mikir kalau bala Kurawa sedang berada di kota Mandaraka ?”.

“Oh iya ya…!. Kenapa aku jadi kehilangan kewaspadaan begini ?” keluh Permadi.

Bagaimanapun sudah bukan rahasia lagi kalau antara keluarga Pandawa dan Kurawa sudah sejak lama terlibat perselisihan yang susah di damaikan. Ini berkaitan dengan hak atas tahta Hastinapura yang sama sama di klaim kedua belah pihak.

“Tapi aku ingin sekali berkenalan dengan wanita di sana itu” Permadi ngotot, “setidaknya untuk memastikan bahwa wanita itu benar benar bukan Anggraeni” lanjutnya menjelaskan.

Lagi lagi ketiganya saling pandang.

“Gimana, Reng ?”.

Pria berkaki pincang dan berusia paling tua di antara keempat lelaki itu menarik nafas pelan.

“Kalau ndoro nekad kesana, bala Kurawa brengsek itu bakalan mencurigai ndoro” Gareng memberi alasan, “tapi kalau nggak kesana, bisa makin tersiksa perasaan ndoro Permadi”.

“Trus gimana ?”.

Gareng mengernyitkan dahinya. Mencoba mencari jalan keluar.

“Ahhh gini aja” akhirnya mendapat ide, “kita bertiga khan sudah di kenal keluarga Mandaraka. Kenapa bukan kita saja yang masuk ke sana, trus menemui putri Prabu Salya yang tinggal di rumah itu, dan kita sampaikan padanya bahwa ndoro Permadi ingin berkenalan. Gimana ?”.

“Wah…tumben otakmu jalan, Reng?” puji Bagong setengah meledek.

“Benar juga kamu, Reng” timpal Petruk, “tapi ndoro setuju nggak ?”.

Pandangan ketiganya kini beralih ke Permadi.

“Kalau itu jalan yang paling masuk akal, kenapa tidak ?. Kalau perlu secepatnya” tandas Permadi tak sabar lagi.

“Siap!!!” sahut ketiga pelayan Pandawa ini sigap.

>>>Selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar