Selasa, 20 November 2012

Banowati : Asmara di Mandaraka (6)

Sebelumnya <<<

Oleh : Komandan Gubrak


Ketika ia tahu ayahnya berencana untuk menukar Herawati dengan dirinya atau Banowati, di lubuk hati yang paling dalam sebenarnya Surtikanthi tak keberatan. Dari segi apapun, Narotama bukan tandingan Prabu Suyudana. Materi, kekuasaan dan kehormatan. Sesuatu yang tak di miliki oleh Narotama yang hanya seorang kepala bayangkara keputren Mandaraka. Soal apakah ia mencintai Suyudana atau tidak, itu bisa sambil belajar seiring waktu. Janji Suyudana untuk menjadikan putri Prabu Salya sebagai istri permaisuri lebih penting dari semuanya.

Namun, harapan Surtikanthi seolah tertunda manakala penguasa Hastina itu lebih memilih menunggu di temukannya Herawati daripada menerima tawaran ayahnya.  Memang, harapan itu tidak sepenuhnya pupus. Prabu Suyudana meminta waktu satu bulan untuk upaya pencarian Herawati, dan jika dalam tenggat itu ternyata Herawati tidak juga di temukan, maka dia akan mempertimbangkan tawaran Prabu Salya. Dan diam diam Surtikanthi berharap agar Herawati tidak segera di temukan hingga tenggat waktu yang telah di tetapkan. Atau, kalaupun di temukan, mudah mudahan itu terjadi setelah ia berhasil merebut hati Prabu Suyudana dan di nobatkan sebagai istri permaisuri.

Lantas, kenapa Surtikanthi bernafsu sekali membebaskan Narotama jika memang pemuda itu tidak akan menjadi pilihannya ?. Jawabannya adalah memanfaatkan Narotama untuk mengulur waktu atau setidaknya mencegah pihak pihak yang berkepentingan agar tidak cepat cepat menemukan Herawati. Jika Narotama tidak di tahan oleh ayahnya, kemungkinan besar ia akan di sertakan dalam tim yang akan mencari keberadaan Herawati. Karena, mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas kasus itu. Dari sini Surtikanthi akan memainkan rencananya. Dia bisa mempengaruhi Narotama dengan berbagai cara untuk membuat upaya pencarian itu tidak maksimal. Kalaupun dalam tempo kurang dari sebulan Herawati ternyata bisa di temukan, Surtikanthi punya cara lain, yaitu meminta Narotama dengan alasan yang cukup masuk akal untuk menyembunyikan Herawati hingga lewat batas waktu yang di minta Suyudana habis.

Kartu lain yang tak kalah penting bagi Surtikanthi adalah Rukmarata. Ya. Adik bungsunya ini kemungkinan besar tidak akan terlalu rewel untuk di ajak kerjasama. Dan sebagai imbalannya, Surtikanthi berjanji untuk membantu memuluskan niat Rukmarata merebut posisi putra mahkota dari tangan Burisrawa. Dengan posisi sebagai istri permaisuri Suyudana, suara Surtikanthi tentu akan lebih di dengar oleh ayahnya dalam menentukan siapa yang layak di tabalkan sebagai putra mahkota yang akan menggantikan kedudukan ayahnya di Mandaraka.

Tapi selain soal mengulur waktu pencarian Herawati, ada satu hal lagi yang masih mengganjal pikiran Surtikanthi. Siapa lagi kalau bukan Banowati. Walaupun nantinya ia berhasil menyingkirkan Herawati, tentu akan terasa sia sia jika ternyata Suyudana lebih memilih Banowati. Maka, tak ada jalan lain yang paling tepat selain juga menyingkirkan Banowati. Masalahnya, selain adiknya ini mendapat penjagaan ketat dari orang orang Burisrawa, Surtikanthi juga merasa kesulitan untuk mencari cari kesalahan Banowati. Adiknya ini di kenal tidak terlalu banyak tingkah. Tidak ada isu yang bisa di pakai untuk menjatuhkan Banowati. Di tambah lagi, selama ini Banowati di ketahui belum memiliki pria idaman. Sesuatu yang bisa dia jadikan alasan untuk membuat Banowati tidak di pilih oleh Suyudana.

Maka, ketika Surtikanthi mendengar kabar bahwa Banowati keluar diam diam dari keputren, otaknya langsung jalan. Inilah kesempatan yang tepat untuk menelanjangi Banowati. Sayangnya, Rukmarata yang sangat ia andalkan tak berhasil mengendus kemana perginya Banowati dan apa tujuannya. 

“Bagaimana Rukma, ada kabar dari Banowati ?” tanya Surtikanthi sore itu di kediamannya.

“Kemarin siang kak Bano memang menghadap ayahanda. Tapi hingga hari ini tak kelihatan batang hidungnya” jawab Rukmarata.

“Loh, kemana ?”.

“Rukma tidak tahu, kak”.

“Di rumahnya ?”.

“Aku belum selidiki”.

“Kamu ini gimana sih ?” Surtikanthi menyalahkan.

“Ya mana berani aku masuk kesana…” elak Rukmarata. 

“Hemmm…” Surtikanthi mendehem. Walaupun Rukmarata memiliki kewenangan menggeledah rumah siapa saja, tapi untuk berurusan dengan kakak kakaknya, Rukmarata masih belum punya cukup nyali.

“Begini saja, nanti malam kita datangi Banowati. Aku curiga, jangan jangan Banowati bukan membicarakan pembebasan Narotama”.

“Trus apa, kak ?” Rukmarata mengernyitkan dahinya.

“Bisa aja dia malah ngomongin soal kedudukan pangeran pati ?” pancing Surtikanthi.

“Ahh, mana mungkin ?” Rukmarata sangsi. 

“Bukankah negara baru berduka atas hilangnya kak Herawati ?”.

“Justru itu Rukma” kata Surtikanthi setengah menakut nakuti.

“Justru dengan mengangkat seorang pangeran pati, ayah ingin masalah Herawati tidak terus menerus membuat seisi kerajaan bersedih”.

“Nggak masuk akal” tukas Rukmarata.

“Ya sudah kalau nggak percaya” tak mau berdebat lama lama.

“Sekarang kamu mau ikut nggak ?” Surtikanthi menawarkan.

“Kemana ?”.

“Ya melabrak Banowati laah!”.

Rukmarata berpikir sejenak.

“Tapi kakak yang memulai” pinta Rukmarata.

“Iya….tenang aja” Surtikanthi meyakinkan.

“Bawa orang orangmu. Malam ini juga kita berangkat!”.

Rukmarata mengangguk. Malam itu juga keduanya bergerak menuju kediaman Banowati dengan di kawal sepuluh prajurit. Tidak terlalu jauh, mungkin hanya selemparan batu. Tapi untuk masuk ke tempat itu tidaklah mudah. Setidaknya ada lima hingga sepuluh prajurit yang menjaga rumah Banowati dengan sistem berlapis. Tiga orang di pintu gerbang, dua di pos dekat teras rumah, tiga di belakang dan dua lagi berpatroli di sekitar lingkungan. Semuanya berasal dari kesatuan yang di pimpin Burisrawa.

“Bereskan mereka” bisik Surtikanthi begitu tiba di pintu gerbang kediaman Banowati.

Dan tanpa banyak bicara, Rukmarata melangkah maju mendekati tiga penjaga yang tampak terkaget kaget melihat kedatangan Rukmarata.

“Buka pintu!!!” perintah Rukmarata dengan suara tegas.

Ketiganya terlihat saling pandang. Ada raut wajah ragu, tapi juga segan. Karena yang datang adalah dua putra putri Prabu Salya.

“Apa yang kalian pikirkan ?. Heh…???!!!” hardik Rukmarata lebih keras lagi.

“Maaf gusti Rukma, kami tidak berani” salah satu di antara mereka berusaha mencegah.

“Kalian mau melawan perintah ?”.

“Tidak gusti. Kami hanya menjalankan perintah gusti Buris” masih belum bersedia memberi jalan.

“Oh, kalian mau aku menggunakan kekerasan ?” ancam Rukmarata kesal.

Lagi lagi mereka saling pandang. Berbisik satu sama lain. Tak lama kemudian dua orang dari mereka bergegas membukakan pintu gerbang. Rukmarata kemudian mempersilahkan Surtikanthi untuk masuk duluan, sementara dia dan ke sepuluh pengawalnya menguntit dari belakang.

“Banowati!!” teriak Surtikanthi begitu sampai di depan rumah Banowati.

Dua orang prajurit penjaga yang bertugas mengamankan kediaman Banowati bergegas menghampiri rombongan Surtikanthi.

“Kemana majikanmu ?” labrak Surtikanthi tak sabaran.

“Gusti Banowati sedang keluar, gusti Surti” jawab salah seorang di antaranya gemetaran.

“Bohong!!!”.

“Benar gusti. Hamba tidak bohong”.

Surtikanthi melirik ke arah Rukmarata. Seperti sudah mengerti apa yang di inginkan kakaknya, Rukmarata maju mendekati penjaga kediaman Banowati itu. Dengan sekali tarik, leher prajurit itu sudah berada di genggaman Rukmarata.

“Pergi kemana gustimu Banowati?” desak bungsu Salya itu dengan sorot mata tajam mengancam.

“Ampun gusti…! Ampun!. Uhhukk…uhhhuk..”cekikan Rukmarata kontan saja membuat sang prajurit tersedak dan kesakitan.

“Katakan terus terang!” Rukmarata melepaskan cekikannya.

Dengan nafas yang masih tersengal sengal, penjaga ini berkat, “gusti Bano sejak tadi sore keluar keputren dengan di sertai Raden Burisrawa, gusti Rukma!”.

“Kemana ?” 

“Hamba kurang tahu”.

Mendengar jawaban yang tidak memuaskan, Rukmarata naik darah.

“Bangsat!!”.

Dukk!!!!

Sebuah bogem mentah melayang menghajar penjaga itu, seketika penjaga rumah Banowati itu terpental dan ambruk mencium tanah.

“Tahan amarahmu, Rukma!” Surtikanthi meredam emosi adiknya.

Putri kedua prabu Salya itu berjalan ke arah penjaga yang lain dengan wajah tak kalah bengisnya.

“Mana kunci rumah gustimu ?” tanya Surtikanthi setengah memaksa.

Takut akan mengalami nasib yang sama dengan kawannya, dengan tubuh gemetar penjaga ini segera merogoh saku dan menyerahkan sebuah anak kunci pada Surtikanthi.

“Rukmarata!”

“Iya kak”.

“Bawa 5 orangmu mencari kemana larinya Banowati. Yang lain tinggal di sini bersamaku menggeledah rumah Banowati!” perintah Surtikanthi.

“Siap, kak!” sambut Rukmarata yang kemudian segera bergerak cepat mencari jejak Banowati.

“Kurang ajar sekali Banowati. Berani beraninya dia mengulang perbuatannya” pikir Surtikanthi murka. Di bukanya pintu rumah Banowati, lima pengawalnya segera menghambur masuk untuk menggeledah seisi ruangan. Sementara Surtikanthi dengan langkah tergesa memasuki kamar Banowati yang terletak di sudut ruangan.

“Anjing!!!” maki Surtikanthi ketika menyadari tak di temuinya Banowati di kamar. 

Kemana perginya Banowati ?.

Merasa tak mendapatkan buruannya, Surtikanthi bergerak ke ruangan lain. Dapur, kamar mandi hingga kebun kelapa yang terletak di belakang rumah Banowati.

“Semua ruangan sudah kami geledah, tapi tidak kami temukan gusti!” lapor salah satu pengawalnya pada Surtikanthi.

Belum sempat Surtikanthi mengatakan sepatah katapun, tiba tiba sebuah bayangan hitam meluncur cepat menuruni pohon kelapa yang berada tak jauh dari tempat dimana putri Salya itu berdiri. Gerakannya sangat cepat, hingga tak di sadari telah berada di depan Surtikanthi.

“Awas gusti!!!”.

Menyadari majikannya dalam bahaya, pengawal Surtikanthi yang berdiri tepat di belakang sosok misterius itu segera mencabut senjata dan merangsek maju guna melindungi Surtikanthi. Tapi nahas, belum sempat ia mengayunkan pedangnya, sebuah tendangan keras menghajar dadanya.

Brukk!!!

Tubuh anak buah Rukmarata itu melayang bak kapas dan mendarat menghantam batang pohon kelapa.

“Siapa kamu!” bentak Surtikanthi keras pada sosok berpakaian serba hitam, bertubuh gagah, membawa busur panah dengan muka tertutup yang berdiri dengan tatapan mengancam ke arah Surtikanthi.

“Aku Permadi, panengah Pandawa” jawab lelaki misterius itu berjalan mendekati Surtikanthi.

“Mau apa kamu ?” 

“Prajurit!!!” teriak Surtikanthi panik.

Empat prajurit dengan senjata lengkap keluar satu persatu dari pintu belakang rumah Banowati. Terkejut bukan main ke empat pengawal Surtikanthi itu melihat kehadiran manusia asing berpakaian serba hitam itu. Dan tanpa di komando secara bersamaan mereka menghunus senjata lalu menyerang sosok misterius yang berusaha mengganggu majikannya.

Trang!!!.

Benturan antar senjata tak terhindarkan. Sabetan, tusukan dan pukulan bertubi tubi mengarah ke tubuh sosok asing itu. Namun dengan sikap tenang dan terukur lelaki asing itu mengibas kibaskan busur panahnya menahan gempuran empat pengawal Surtikanthi. Kendati di keroyok oleh empat prajurit terlatih, sama sekali tak membuat sosok hitam itu kewalahan.

Surtikanthi yang menyadari bahwa empat pengawalnya justru semakin di buat keteteran, segera memutar otak.

“Penculik…! Ada penculik!!!” teriaknya berusaha memancing perhatian seisi penghuni keputren.

Dan tak berapa lama belasan prajurit Mandaraka telah hadir di tempat itu. Mereka sebagian adalah penjaga kediaman Banowati, sebagian lagi adalah prajurit patroli yang kebetulan mendengar teriakan Surtikanthi.

“Tangkap penjahat itu!!!” perintah Surtikanthi pada belasan prajurit yang baru tiba.

Seketika mereka segera melompat membantu empat prajurit yang sudah lebih dulu menyerang sosok hitam itu. Suasana kini makin gaduh. Teriakan kemarahan dan kesakitan susul menyusul membahana membelah sang malam. Denting senjata beradu di iringi kilatan kembang api tampak semakin banyak terlihat. Tapi hingga sekian jurus, tak ada tanda tanda sosok hitam itu bisa di takhlukkan. Yang terjadi malah satu persatu pengeroyoknya terpental keluar dari arena dengan luka pukul yang cukup serius.

“Ayo hajar!!!” teriak Surtikanthi memberi semangat. Tapi lagi lagi ia harus kecewa, karena bukan sosok hitam itu yang terjepit, justru yang terjadi semakin banyak prajurit Mandaraka yang tersungkur kesakitan.

Menyadari situasinya tidak menguntungkan, Surtikanthi segera berpikir cepat untuk kabur. Tapi sial bagi Surtikanthi, belum ia melangkah lebih jauh, sebuah tangan kekar menangkap bahunya. Surtikanthi berbalik dan berusaha melawan dengan mengirimkan pukulan yang tak seberapa kuat ke arah sosok hitam itu.

Dukk!!!

Sebuah totokan di tengkuk Surtikanthi seketika menghilangkan kesadaran putri Salya itu. Dan dengan gerakan cepat lelaki misterius itu memanggul tubuh Surtikanthi.

“Lepaskan gusti Surtikanthi!!!”.

Lima orang prajurit tersisa berlari mengejar, tapi apes buat mereka, lima mata panah meluncur deras menembus kaki dan membuat tubuh mereka limbung lalu ambruk dengan luka parah di bagian kaki.

Tanpa menunggu lama, sosok hitam itu segera berkelebat di antara pepohonan kelapa lalu menghilang dengan membawa lari Surtikanthi. Sementara yang tersisa di belakang hanya suara teriakan dan tabuhan kentungan tanda bahaya dari para prajurit Mandaraka.

Lalu, siapakah sosok hitam yang berani menyusup ke keputren Mandaraka dan membawa lari putri Salya ?. Dia tak lain dan tak bukan adalah penguasa Awangga, adipati Karna. Anak angkat seorang kusir di Hastinapura bernama Adirata. Sejak kecil Adiratalah yang mengasuh dan membesarkan Basukarna. Walaupun ia hanya anak angkat seorang kusir, akan tetapi bakat yang di miliki Basukarna sungguh luar biasa. Pada umur 10 tahun, Basukarna sudah menjadi penunggang kuda handal. Kemampuannya menunggang kuda inilah yang kemudian menarik perhatian Permadi kecil yang ketika itu masih dalam rangka berguru di Sokalima. Permadi yang kagum melihat bagaimana Karna mengendarai kuda kemudian meminta untuk di ajari cara menunggang kuda oleh anak Adirata itu. Dengan senang hati Basukarna mengajari Permadi. Di sisi lain, Karna sendiri walaupun anak angkat seorang pegawai rendahan, akan tetapi minatnya untuk belajar ilmu kanuragan sangat besar. Tak jarang ia sengaja menonton bagaimana Permadi berlatih ilmu kedigdayaan. Dari hasil  menyaksikan Permadi berlatih itu, Karna kemudian menirunya. Mempraktekkannya ketika sedang senggang. Tidak itu saja, Basukarna juga giat berlatih memanah dengan cara menirukan gaya panahan Permadi. Dan itu ia lakukan secara diam diam tanpa di ketahui oleh siapapun. Walaupun berlatih dengan cara meniru Permadi, bukan berarti kemampuan Basukarna bisa di katakan jauh di bawah Permadi. Justru bakat luar biasa yang di miliki Basukarna di padu dengan kesungguhan dan tekadnya untuk menjadi seorang pendekar pilih tanding, membuat anak angkat Adirata ini tanpa sadar telah mencapai titik di mana ia mencapai level pendekar sejati. Kemampuan memanahnya setara dengan Permadi, bahkan lebih tinggi. Yang membedakan barangkali hanya soal koleksi senjata. Sebagai seorang ksatria agung bangsa Kuru, Permadi banyak di anugerahi oleh guru dan juga para dewa, senjata senjata ampuh dan sakti. Sementara Basukarna hanyalah seorang anak angkat kusir keraton berpangkat rendah dan tidak pernah di didik secara ksatria oleh guru manapun.

Tapi ibarat pepatah, di manapun mutiara itu di sembunyikan, suatu saat pasti akan terlihat. Adalah Suyudana yang pertama kali mengetahui bakat Basukarna. Raja muda Hastinapura ini kemudian berkenan mengangkat Basukarna sebagai pegawai di lingkaran dalam istana. Tugasnya adalah menyiapkan segala perlengkapan, jika Suyudana keluar berburu atau dalam rangka tugas negara. Meliputi menyiapkan pakaian keprajuritan, membawa peralatan seperti panah, tombak, pedang dan sebagainya. Tugas ini di berikan Suyudana, semata mata raja Hastina ini ingin tahu lebih banyak tentang keistimewaan yang di miliki Basukarna. Seringkali dalam berburu Suyudana meminta Basukarna untuk menggunakan kemampuannya untuk membidik buruannya. Dan hasilnya luar biasa, tidak ada satupun binatang yang sanggup lolos dari Basukarna. Semua bisa di takhlukkan oleh anak angkat Adirata ini.

Setelah yakin akan kemampuan Basukarna, Suyudana mempromosikannya sebagai kepala regu prajurit pengawal raja dengan membawahi sekitar limapuluhan pasukan. Selanjutnya karir Basukarna melejit bak meteor. Dari kepala regu menjadi kepala pasukan pengamanan raja, lalu puncaknya ketika kerajaan Hastina mengadakan perlombaan adu ilmu kanuragan di alun alun istana. Di situ segenap ksatria baik dari klan Pandawa maupun Kurawa berkumpul untuk unjuk kebolehan. Di ajang inilah Bima bertarung dengan Dursasana, Kartamarma adu kesaktian dengan Permadi, sementara Nakula dan Sadewa unjuk kekuatan melawan Citraksa dan Citraksi. Siapa yang kalah harus mundur dari arena untuk digantikan dengan yang lain. Perlombaanpun di bagi dalam beberapa kategori, seperti gulat, bermain pedang, memanah dan lain sebagainya. Untuk kategori gulat, Bima dan Dursasana keluar sebagai juara bersama. Ini di sebabkan keduanya tidak ada yang bisa mengalahkan yang lain. Dalam adu pedang, Nakula dan Sadewa unggul atas semua wakil kurawa. Begitu juga dengan adu panah, Permadi tak terkalahkan oleh semua jagoan kurawa.

Suyudana yang tidak ingin di permalukan akibat kekalahan kurawa di hampir semua bidang yang di perlombakan segera mencari akal. Ingat akan keistimewaan yang di miliki Basukarna, Suyudana mengusulkannya untuk maju mewakili Kurawa dalam perlombaan. Ide ini kemudian di tentang oleh Resi Krepa dengan alasan bahwa perlombaan hanya boleh di ikuti oleh kasta ksatria, bukan oleh orang biasa. Maka secara otomatis, keikutsertaan Basukarna tidak sah secara hukum. Mendapat tentangan dari penasehatnya, Suyudana tak kurang akal. Demi memenuhi persyaratan agar Basukarna bisa ikut perlombaan, maka raja Hastina itu memutuskan untuk mengangkat Basukarna sebagai adipati di Awangga.

Keputusan ini di setujui oleh semua keluarga Kurawa, termasuk oleh Krepa sendiri walaupun dengan berat hati. Akan tetapi keputusan ini oleh Pandawa di anggap berlebihan. Maka sepanjang pertandingan, kubu Pandawa terutama Bima, tak henti hentinya mengejek Basukarna ketika sedang bertanding dengan Permadi. Namun itu semua tak membuat Basukarna ciut nyali. Ia tetap bertanding dengan sepenuh hati melawan Permadi. Justru ejekan itu malah menjadi energi tambahan bagi Basukarna. Tekadnya untuk mengalahkan Permadi makin menggumpal. Dia sama sekali tak peduli kalau lawan tanding di depannya secara tidak langsung adalah gurunya , dia juga tak peduli dengan nama besar Permadi yang oleh banyak orang di sanjung sanjung sebagai pemanah terbaik di dunia.

Situasi yang berbeda justru di alami oleh Permadi. Walaupun itu untuk membela dirinya, tapi ejekan ejekan yang di lontarkan saudara saudaranya pada Basukarna, justru membuat panengah Pandawa ini merasa risih. Tanpa bantuan sorak sorai saudara saudaranya, Permadi sebetulnya sangat yakin bisa mengalahkan Basukarna yang ia ketahui hanya ahli dalam menunggang kuda. Rasa risih, kurangnya konsentrasi dan keyakinan yang berlebihan bisa mengalahkan Basukarna inilah yang akhirnya justru membuat Permadi menelan rasa malu. Di kalahkan untuk pertama kalinya oleh anak seorang kusir.

Sejak peristiwa itu, nama Basukarna sang adipati Awangga begitu dikenal seantero jagat raya. Semua orang memuji kemampuan Karna, semua keluarga Hastina menghormati Basukarna. Bahkan oleh Suyudana, Karna di anggap sebagai adiknya sendiri. Segala permintaan Basukarna di turuti, segala kemewahan duniawi tak segan segan di berikan oleh Suyudana pada pengikutnya ini. Kemuliaan, kemewahan dan pembelaan Suyudana, di balas oleh Basukarna dengan kesetiaan, dedikasi dan kerja sempurna. Apapun yang di perintahkan Suyudana, dia akan lakukan. Bahkan jika Suyudana memerintahkan dia terjun ke lautpun, ia akan lakukan.

Ksatria Awangga yang di percaya sebagai titisan Dewa Surya itu terus melaju bersama kyai Gagak Rimang menembus pekatnya malam. Hatinya lega, karena telah melakukan tugas yang di berikan Prabu Suyudana dengan sukses. Akan tetapi dalam benaknya masih ada pertanyaan yang sulit ia jawab. Mau di apakan tawanannya ini ?. Di buang di tengah jalan, di bawa serta kemana ia pergi, di tahan di Kadipaten Awangga atau di serahkan pada Prabu Suyudana ?. Atau apa ?.

Mata tajam Basukarna menatap pada tubuh molek yang tertelungkup lemas di punggung kudanya. Perasaan aneh merasuk ke dalam pikiran sang adipati Awangga. Tubuh sintal dengan balutan busana putri raja berwarna kuning terbuat dari tenunan sutra itu tampak jelas di mata Basukarna. Rambutnya yang terjurai hitam berkibar menerpa wajah anak angkat Adirata itu. Begitu harum dan menggoda kelelakian sang Basukarna. Pria lajang kepercayaan raja Hastina ini melambatkan kudanya, mengarahkan tali kekangnya pada gubug kecil yang tampak kosong tak berpenghuni di pinggiran jalan. Dengan hati hati ia menurunkan tubuh Surtikanthi dan memanggulnya menuju gubuk kosong itu.

Jantungnya mendadak berdebar debar ketika  tangan Basukarna bersentuhan dengan kulit Surtikanthi. Sejenak mata tajamnya menatap ke wajah Surtikanthi. Walaupun suasana begitu gelap, tapi bagi Basukarna yang telah di karuniai ilmu penglihatan tingkat tinggi  tetap bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah gadis Mandaraka itu.

“Pantas saja banyak pria yang berlomba lomba merebut hati anak anak prabu Salya” guman Basukarna sembari meletakkan tubuh Surtikanthi ke atas anyaman bambu yang ada di dalam gubuk itu.

Inikah Banowati ?. Yang membuat Permadi tergila gila ?.

“Benar benar cantik”  Basukarna takjub menyaksikan pemandangan yang tersai di depan matanya.

Kalau dia tidak sadar bahwa keadaan belumlah terlalu aman dari kejaran para prajurit Mandaraka, tentu ia ingin sekali lebih lama memandangi tubuh indah dan wajah cantik tawanannya. Tapi berhubung situasinya tidak mendukung, sang Basukarna berusaha menekan goncangan yang kini melanda perasaannya. Ia kemudian bergegas keluar. Berjalan mondar mandir di sekitar gubuk untuk memantau keadaan. Sesekali ia melongok ke dalam  guna memastikan anak Salya yang ia anggap sebagai Banowati itu masih ada di tempat.

Di sisi lain, otaknya berpikir keras. Memang, tugas yang di berikan kepadanya hanya menculik putri Prabu Salya dan memastikan Permadi menjadi pihak yang paling di curigai. Basukarna tidak punya kewajiban untuk menahan lebih lama Surtikanthi, bahkan tak harus mempedulikan keselamatan wanita itu. Bisa saja ia meninggalkan tawanannya di suatu tempat, membiarkannya terbebas dan kembali ke Mandaraka, lalu melaporkan kejadian yang menimpa dirinya pada ayahnya. Tugas yang sangat sederhana dan tak perlu bertele tele.

Tapi ada hal lain yang membuat putra Adirata itu merasa sedikit galau. Yaitu perasaan aneh yang sedikit demi sedikit menggerogoti keteguhannya, melarutkan kesadarannya dan meletupkan syaraf syaraf kelelakiannya. Sebagai seorang lelaki normal yang memiliki ketertarikan pada lawan jenis, tidak bisa di pungkiri, Basukarna mulai memendam rasa suka terhadap tawanannya. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Tapi persoalannya, bagaimana menghadapi putri Salya itu ketika telah tersadar ?” Basukarna ragu ragu. 

Posisinya sebagai orang yang telah melarikan wanita itu dengan paksa tentu akan menyulitkan Basukarna untuk mendekati wanita itu. Mustahil wanita itu akan bersikap simpatik terhadap orang yang telah mencelakakan dirinya.

“Pikirkan masak masak Karna” kata Basukarna menasehati diri sendiri.

Langit di ufuk timur terlihat merekah, mengiringi bertahtanya sang mentari yang perlahan keluar dari sarangnya. Basukarna melangkah kakinya ke dalam gubuk. Dimana Surtikanthi masih tergolek lemas di atas pembaringan. Di pandanginya tubuh berbalut pakaian berwarna kuning keemasan itu dengan nafas tertahan. Untuk kesekian kalinya jantung Basukarna berdetak kencang manakala matanya menumbuk pada wajah ayu Surtikanthi. Ada rasa aneh yang terus menerus menggugah hatinya. Berkali kali ia berusaha menepis dan membuangnya jauh jauh, tapi berkali kali pula ia gagal meredam gemuruh perasaannya.

Tanpa sadar Basukarna beringsut mendekat pada Surtikanthi. Di sentuhnya perlahan tubuh montok di hadapannya. Debar jantungnya tak henti hentinya berpacu manakala jari jemari Basukarna menyentuh setiap lekuk tubuh Surtikanthi. Dan ketika pandangannya tertuju pada wajah cantik Surtikanthi, semakin tak terbendung keinginan adipati Awangga itu untuk menyentuh wajah nan ayu Surtikanthi.

“Bangun Banowati…” ucap Basukarna lirih. 

Dan entah sadar atau tidak, tangan Basukarna tiba tiba bergerak mengetuk beberapa saraf Surtikanthi yang pada akhirnya membuka kesadarannya.

Perlahan tubuh yang tadinya lemah mulai menunjukkan tanda tanda kesadaran. Di awali dengan gerakan jari jemarinya, merembet ke tangan, lalu sekujur tubuhnya dan kemudian matanya yang tertutup rapat perlahan terbuka. Tak ada reaksi dari sang Basukarna. Justru sepertinya pemuda Awangga ini malah menunggu tawanannya tersadar.

“Di mana aku ?” ucap Surtikanthi begitu tersadar. Beberapa kali ia mengucek ucek matanya, lalu menatap liar ke sekeliling. Dan begitu mendapati sosok asing di dekatnya, sontak ia bangkit dan beringsut menjauh.

“Siapa kamu ?” tanya Surtikanthi gelagapan. Tangannya refleks meraba raba pinggang. Berharap ada senjata yang terselip di sana. Tapi nihil.

“Tenang nona…tenang!” Basukarna bangkit dan berusaha mendekat.

“Jangan mendekat….jangan mendekat!” ancam Surtikanthi dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Aku tidak bermaksud jahat, nona…”.

“Jangan bohong!” Surtikanthi tak percaya.

“Kamu yang menculikku dari keputren Mandaraka, bukan ?”.

“Oohh…” Basukarna tampak sedikit kebingungan.

“Bukan…bukan…!”.

“Bohong!” bantah Surtikanthi, “kembalikan aku ke Mandaraka…kembalikan!” lengkingnya marah. Di raihnya sebatang bambu sepanjang setengah meter yang berada di pojok ruangan. Serta merta ia menyerbu ke arah Basukarna, dan…

Brakk!!!

Batang bambu itu di hantamkannya ke dada Basukarna. Tak ada perlawanan sedikitpun bahkan tak terdengar teriakan kesakitan dari mulut Basukarna. Dan sepertinya Basukarna sengaja memberikan tubuhnya untuk jadi bahan pelampiasan kemarahan Surtikanthi. Makin jengkel Surtikanthi melihat keangkuhan pria di hadapannya, makin keras ia hantamkan bambu itu ke tubuh Basukarna. Namun bukan luka yang ia lihat, tapi batang bambu di tangannya justru hancur berkeping keping setelah berkali kali menghantam tubuh pria di depannya.

“Tenang nona, aku bukan penculik yang kamu maksud” ucap Basukarna berbohong.

“Aku…aku….Karna!”.

Surtikanthi melongo mendengar jawaban itu. Dia ingat betul bahwa penculiknya mengaku bernama Permadi, yang ia tahu nama itu adalah nama dari salah satu anggota Pandawa. Tapi pria di hadapannya ini mengaku bernama Karna.

“Bohong!. Penculiknya berbaju hitam seperti yang kamu pakai. Ayo ngaku !” todong Surtikanthi mulai berani.

Mati aku!. Gerutu Basukarna dalam hati. Kenapa ia lupa mengganti pakaiannya ?.

“Oh…ini kebetulan saja” jawab Basukarna sekenanya.

“Nggak percaya!. Kamu pasti Permadi !”.

“Bukan…bukan..!. Aku Basukarna. Adipati Awangga. Orang kepercayaan Prabu Suyudana”.

Mendengar nama Suyudana di sebut, Surtikanthi mendadak berubah. Walaupun belum pernah berbicara langsung, tapi Surtikanthi telah mengenal raja Hastina itu ketika keluarganya menerima rombongan Hastinapura di istana Mandaraka dalam rangka melamar kakaknya Herawati.

“Kalau nona tidak percaya, aku bisa bawa nona ke Hastina untuk menghadap gusti Suyudana” Basukarna meyakinkan.

Surtikanthi menatap dalam dalam ke wajah Basukarna. Sepertinya pria ini jujur. Pikir Surtikanthi.

“Trus yang menculikku…?”.

“Iya..iya…!. Ketika aku sedang menuju Mandaraka menyusul paman patih Sengkuni, aku mendapati Permadi sedang berlari membawamu. Aku lalu menghadangnya. Kami bertarung dan akhirnya aku bisa kalahkan dia” Basukarna mengarang cerita.

“Jadi….” Surtikanthi mulai percaya,” jadi tuan yang menyelamatkan Surtikanthi…?”.

Surtikanthi ?.

“Jadi namamu Surtikanthi ?. Bukan Banowati ?” Basukarna penasaran.

“Iya. Aku Surtikanthi. Banowati itu adikku. Kamu kenal dia ?”.

Ya Tuhan. Jadi selama ini aku salah orang. Dia bukan Banowati yang kata Aswatama sempat hendak di culik Permadi.

“Tidak. Aku tidak kenal Banowati. Hanya saja…”.

“Kenapa ?”.

“Hanya saja aku sempat mendengar cerita bahwa Permadi pernah hendak membawa lari adikmu Banowati. Untunglah tuan Aswatama berhasil menggagalkannya”.

“Apa ?. Kapan ?” Surtikanthi penasaran dengan cerita Basukarna.

“Loh…bukannya nona sudah tahu ?”.

Surtikanthi menggeleng. Pikiranya kini kembali mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ketika dua kali ia tidak menemukan Banowati di kediamannya. Entah peristiwa itu terjadi yang pertama atau yang kedua, yang jelas keterangan lelaki di depannya ini sungguh membuatnya mulai mengerti masalah yang sebenarnya.

“Oh..pantas saja Banowati sering tidak ada di tempat…”.

“Bisa jadi “potong Basukarna makin percaya diri.

“Bisa jadi itu ulah panengah Pandawa itu. Buktinya, nona juga hendak di bawanya lari ?”.

Surtikanthi menganggukkan kepala.

“Kita harus segera laporkan ini kepada ayahanda…” kata Surtikanthi seraya mengajak Basukarna keluar dari gubuk itu.

“Tunggu dulu nona!” Basukarna menahan.

“Kenapa ?”.

“Biar aku yang menghadap ayahandamu” saran Karna.

Bagaimanapun untuk sementara waktu ia harus menahan Surtikanthi agar tidak kembali ke Mandaraka sebelum usaha patih Sengkuni dan Aswatama membujuk Prabu Salya guna menghukum Permadi berhasil.

“Sangat berbahaya jika nona kembali ke Mandaraka”.

Surtikanthi tertegun tak mengerti maksud Basukarna.

“Permadi begitu berhasrat menculik nona, aku takut ia akan kembali menyakiti nona kalau tahu nona ada di Mandaraka”.

“Hemm…” dehem Surtikanthi. “Masuk akal. Tapi kalau tuan ke sana, bagaimana denganku ?”.

“Itu gampang. Nona bisa istirahat di Awangga. Biar orang orangku nanti yang menjaga nona. Aku jamin Permadi tidak akan berani menginjakkan kaki di Awangga”.

“Benarkah ?”.

Basukarna mengangguk.

Akhirnya dengan mengendarai kuda sakti kyai Gagak Rimang pemberian Dewa Surya, Basukarna membawa Surtikanthi pergi ke Awangga. Sesampai di Awangga, Surtikanthi di tempatkan di kediaman Basukarna dengan mendapatkan pelayanan istimewa. Basukarna yang mulai tertarik dengan Surtikanthi sepertinya tak mau kehilangan kesempatan untuk menjerat hati Surtikanthi. Segala fasilitas mewah di berikan pada tamu istimewanya ini. Makanan yang melimpah, pelayan yang ramah dan beraneka hiburan yang membuat Surtikanthi makin merasa betah di Awangga.

*******************************


“Di mana aku ?”.

Permadi menyapu pandangan ke sekeliling. Sebuah ruangan sempit dengan atap terbuat dari anyaman dedaunan kelapa dan di topang oleh empat batang kayu kusam di setiap sudutnya. Dindingnya hanya terbuat dari papan papan kayu bekas yang di tempelkan secara tidak teratur. Bangunan yang sangat sederhana, atau mungkin bisa di bilang darurat. Dan sepertinya memang baru di dirikan, kalau di lihat dari tali tali pengikatnya yang masih tampak baru.

“Oh iya, Kawah Geni” serunya mulai ingat kejadian terakhir sebelum ia jatuh pingsan.

Tapi kemana ketiga pelayan setianya ?. Permadi menoleh ke kiri dan kanan. Tapi tak ia temukan sosok yang di carinya. Hingga matanya tertumbuk pada sebuah meja kecil yang terletak di sudut ruangan. Di atas meja kecil itu terdapat mangkuk berukuran sedang berisi satu porsi bubur sumsum dengan lauk paha ayam bakar di atasnya.

“Masih hangat” pikir Permadi memegangi mangkuk itu.

Aroma makanan yang menggugah selera. Dan tanpa mencari tahu siapa pemilik makanan itu, Permadi melahap habis bubur yang masih dalam keadaan panas tersebut. Dalam tempo singkat, mangkuk itu telah kosong.

“Aneh” Permadi memegangi perutnya, “kenapa aku masih merasa lapar ?”.

Bingung hati Permadi. Padahal yang ia makan porsinya lebih banyak dari biasanya. Tapi entah kenapa perutnya masih belum merasa kenyang?.

Kali ini mata Permadi tertuju pada kantung air berukuran besar yang tergantung di dinding ruangan. Segera ia raih benda itu, lalu menuangkan isinya ke mulut hingga habis tanpa menyisakan setetespun. Namun lagi lagi Permadi merasa aneh. Air sebanyak itu sama sekali tak membuatnya merasa kenyang. Ia tetap merasa haus dan kering kerongkongannya. 

Mata Permadi kini memandang liar, mencari cari kalau kalau masih ada makanan maupun minuman yang bisa menanggulangi rasa laparnya. Dengan agak tergesa gesa, ia bongkar semua benda yang ada di ruangan itu. Keranjang, kotak barang, karung dan perkakas lainnya. Tapi tak ia temukan makanan yang tersisa. Hingga yang ke terakhir, dengan rasa jengkel ia banting sebuah kuali yang terbuat dari tanah liat di tangannya.

Brakk!!!!

Permadi duduk menyandarkan tubuhnya ke tiang bangunan. Dia masih tidak mengerti kenapa ada keanehan dalam dirinya. Ini jelas tidak biasanya. Pikir Permadi heran. Dia terbiasa lapar, bahkan berhari hari, tapi tidak seperti yang ia rasakan kali ini. Apa gerangan yang terjadi ?.

“Begitulah kalau manusia tidak pandai bersyukur. Tak pernah merasa puas dengan apa yang telah di karuniakan Tuhan kepadanya”.

Tiba tiba sesosok manusia yang mengenakan pakaian serba putih muncul dari pintu.

“Siapa kamu ?” tanya Permadi agak terkejut.

Pria berpakaian putih dengan tongkat rotan itu tidak segera menjawab. Dia berjalan menuju sebuah tikar anyaman tempat di mana tadi Permadi tertidur dan duduk bersila dengan tenangnya.

“Memiliki pasangan yang sangat setia rupanya belum cukup untuk membuat seorang pendekar terkenal Madukara terpuaskan”.

Kali ini Permadi mengernyitkan dahi. Di tatapnya dalam dalam lelaki berpakaian brahmana yang duduk di atas tikar tempat tidurnya. Kelihatannya masih sangat muda. Mungkin sedikit lebih tua dari Permadi. Berkulit putih, berambut hitam sebahu dengan ikat kepala resi di kepalanya. Janggutnya terlihat lebat memanjang hingga menutupi leher.

“Siapa dirimu, wahai resi ?” tanya Permadi penasaran. Pendeta muda ini sepertinya tahu banyak tentang dirinya. 

“Kasihan sekali dirimu” kata sang Resi seolah tak peduli dengan pertanyaan Permadi, “bagaimana  bisa, mencari kebahagiaan dengan mengorbankan kebahagiaan yang lain ?. Bagaimana mungkin menggapai kebahagiaan dengan cara tidak membahagiakan ?”.

Ucapan itu terdengar datar. Tapi terasa begitu tajam menusuk perasaan Permadi.

“Mohon jangan mempermainkan, Resi !” mulai hilang kesabaran Permadi. 

“Wanita….oohh…wanita…” setengah berpuisi, “ lembut tapi melumpuhkan, diam tapi menghanyutkan, gemulai tapi menipu….”.

“Cukup!!!” bentak Permadi keras.

Seperti tak terpengaruh dengan gertakan Permadi, Resi muda itu tetap menyunggingkan senyum dan mengeluarkan kata kata sindirannya.

“Berapa banyak ksatria yang jatuh hanya karena perempuan ?” sang Resi seolah bertanya.

“Banyak” di jawabnya sendiri pertanyaan itu.

“Rahwana, Raja agung Alengka. Maharaja kuat dan tak terkalahkan. Tapi birahinya pada perempuan telah menjerumuskannya pada kekalahan. Siapa lagi ?. Ohhh…, leluhur bangsa Kuru. Ya…!. Hanya karena seorang perempuan, Prabu Sentanu menelan ludahnya sendiri dengan membatalkan posisi Dewa Brata sebagai calon pewaris tahtanya. Dan sekarang anak turun Sentanu harus menanggung karma permusuhan yang berlarut larut”.

Sindiran sang Resi kali ini tak pelak membuat Permadi tak bisa lagi menahan diri. Pendeta muda itu sudah keterlaluan dengan membuka luka lama trah Kuru. 

“Tutup mulutmu, resi tengik!!”.

Bersamaan dengan makian itu, Permadi bergerak cepat dengan mengirimkan pukulan telak ke dada sang resi.

Wussss!!!

Sayang sekali lengan Permadi hanya mengenai ruang kosong. Resi muda itu entah bagaimana caranya sudah tidak ada di tempat.

“Ho ho ho…”

Suara itu terdengar dari arah belakang. Persis di belakang Permadi. Lirih tapi seperti sengaja mengejek kemampuan ksatria Madukara itu. Putra Pandu itu segera membalikkan badan sembari memutar kakinya, dan..

Wusss!!!

Hanya suara desiran angin yang di hasilkan dari gerakan kaki Permadi tanpa sedikitpun mengenai sasarannya.

“Begini kemampuan jawara kebanggaan Pandawa ?” lagi lagi terdengar kata kata ejekan pada Permadi. Makin marah sang Dananjaya, makin beringas terjangan panengah Pandawa itu. 

“Jumawa !” teriak Permadi kemudian di iringi pukulan, tendangan, sikut dan bahkan tandukan bertubi tubi ke arah pendeta misterius itu. Suasana berubah menjadi gaduh. Serangan serangan Permadi yang tak mengenai sasaran, beberapa di antaranya malah menghantam benda apa saja di ruangan itu. Hingga nyaris tak tersisa satu bendapun yang utuh, Permadi masih saja belum mampu melumpuhkan musuhnya. Jangankan melumpuhkan, bahkan menyentuhnyapun tidak. Resi muda itu tetap bergerak lincah dan terus mengucapkan kata kata bernada mengejek. 

“Ilmu silat seperti ini mau mengalahkan Kurawa ?” ledeknya, “memalukan…!”.

Mendidih darah Permadi, belum pernah ia mendapat ejekan menyakitkan seperti ini. Belum pernah ia begitu di permainkan dalam adu kedigdayaan kecuali kali ini. 

“Jangan salahkan Permadi kalau berbuat kasar” gertak Permadi seraya beringsut mundur. Tangan kirinya bergerak meraih busur panah yang terselip di pinggang, sementara tangan kanannya meraih anak panah dari kantong di punggungnya.

“Ha ha ha….”.

“Lucu sekali tingkahmu, Permadi. Untuk menghadapi musuh yang tak bersenjatapun, harus mengeluarkan senjata andalan…”.

“Tutup mulutmu!” teriak Permadi segera menarik busur panahnya.

Suiiiittttt……!!!!

Suara desiran panah segera menyalak. Belasan anak panah berhamburan dari busur kyai Gendewa laksana lebah yang keluar dari sarangnya. Suara ledakan terjadi di sana sini manakala mata panah itu menghantam dinding gubuk, atap, pintu, jendela dan sebagainya. Dan seperti yang sudah sudah, resi muda itu hanya melompat kesana kemari. Bedanya, kali ini gerakan sang resi  jauh lebih cepat dan gesit. Hingga yang tampak hanyalah banyangan putih yang melayang ke sana kemari menghindari amukan panah pusaka Permadi.
 
“Bedebah!” Permadi mengeluh dalam hati. Entah sudah berapa banyak anak panah yang ia muntahkan dari busur kyai Gendewa. Tak satupun yang mengenai sasaran. Bahkan yang terjadi malah kerusakan yang sangat parah di setiap sudut bangunan tempat ia berdiri. Dan jika ini terus berlanjut, gubuk itu bakal roboh berkeping keping. 

“Bagaimana kamu bisa menang jika kamu bertarung dengan emosi, dan bukan menggunakan rasa …?”.

Permadi terkejut, apa yang di ucapkan resi muda itu seolah hendak mengajarinya bagaimana bertarung dengan baik.

“Fokuskan pikiranmu jika kamu ingin menang, adikku..”.

Belum sempat Permadi menarik kembali busur panahnya, resi muda itu tiba tiba sudah berada di sampingnya dengan senyum tersungging dari bibirnya.

“Simpan senjatamu dan perhatikan siapa aku…” ucap sang resi seraya menepuk pundak Permadi.
Dan seperti terhipnotis, Permadi perlahan menurunkan busur panah dan menyimpannya kembali di pinggang. Matanya kini tertuju pada sosok berpakaian putih di sampingnya. Siapa gerangan pria hebat dengan ilmu meringankan tubuh mendekati sempurna yang memanggilkan dengan sebutan dik ini ?. Pasti dia bukan orang lain. Oooo…

“Kakang….Kakrasana…?” Permadi setengah tidak percaya. 

Sang resi itu tersenyum lalu mengangguk.

“Panggil aku Wasi Jaladara” sahut resi muda itu.

Nama asli dari Wasi Jaladara memang Kakrasana. Dia adalah putra sulung Prabu Basudewa dari pernikahannya dengan Dewi Mahindra. Konon Prabu Basudewa memiliki 3 orang istri, yaitu Dewi Mahindra, Dewi Badrahini dan Dewi Mahira. Dari Mahindra terlahir Kakrasana dan Narayana, dari Badrahini melahirkan Rara Ireng, kemudian dari Mahira lahirlah Kangsa. Tapi jika di runut dari sejarah, Kangsa sebenarnya bukanlah anak dari Basudewa. Adalah ulah Prabu Gorawangsa dari Kerajaan Goagra yang membuat Mahira melahirkan Kangsa. Di ceritakan ketika itu Prabu Basudewa sedang berburu di hutan bersama pengikutnya dengan meninggalkan istri istrinya di istana. Prabu Gorawangsa yang mengetahui Basudewa sedang berburu di hutan dan telah lama memendam rasa cinta terhadap Mahira kemudian menyusup ke istana Mandura dengan menyamar sebagai Basudewa. Gorawangsa yang menyamar sebagai Basudewa ini kemudian meniduri Mahira hingga hamil dan nantinya melahirkan Kangsa. Sepulang dari berburu dan mengetahui bahwa istrinya telah hamil, marahlah Basudewa. Mahira kemudian di hukum dengan cara di buang ke hutan. Di hutan, Dewi Mahira bertemu dengan Suratimantra yang menjaganya hingga ia melahirkan anak berwujud raksasa dan di beri nama Kangsa. Kangsa kemudian di asuh oleh Suratimantra hingga dewasa. Setelah dewasa, Suratimantra mengajak Kangsa ke Mandura demi menemui Basudewa. Prabu Basudewa yang merasa bersalah telah membuang Mahira kemudian berkenan menganugerahi Kangsa sebuah tanah perdikan bernama Sengkapura. Sejak itu Kangsa di angkat sebagai Prabu Anom di Sengkapura.

Dari sinilah kemudian timbul masalah. Kangsa yang merasa paling hebat di antara putra putri Basudewa berhasrat untuk merebut tahta Mandura yang sebenarnya menjadi hak Kakrasana. Tidak hanya itu, Kangsa yang mendapat bujukan dari Suratimantra mengancam akan membunuh semua anak Basudewa jika ia tidak di angkat sebagai putra mahkota Mandura. Mendapat ancaman dari Kangsa dan merasa khawatir akan keselamatan putra putrinya, Basudewa kemudian meminta kepada abdi dalemnya Kyai Antagopa dan Nyai Sagopi untuk menyembunyikan anak anaknya dari incaran Kangsa. Ketiga anak Basudewa kemudian di bawa ke Widarakandang dan di didik oleh Kyai Antagopa bersama dengan kedua anak Kyai Antagopa sendiri yaitu Udawa dan Larasati (istri pertama Permadi). Peristiwa ini terjadi hanya berselang satu bulan setelah Permadi meninggalkan Widarakandang.

“Maafkan kecerobohan saya, kakang…” Permadi segera bersimpuh di kaki Wasi Jaladara.

“Sudahlah” Wasi Jaladara mengangkat pundak Permadi.

“Jadi yang menyelamatkan saya…”.

“Sudah…sudah…!. Duduk dulu saja” potong Wasi Jaladara sambil mempersilahkan Permadi duduk di atas anyaman daun kelapa yang tampak kusut akibat pertempuran tadi.

“Bagaimana kabar uwa Basudewa, kakang ?” Permadi basa basi.

Antara keluarga Pandawa dan keluarga Mandura memang sudah lama saling kenal. Bahkan mereka masih terhitung kerabat. Ibu Pandawa, Dewi Kunti adalah adik dari Prabu Basudewa, ayah Kakrasana. Dulu sewaktu kecil, Permadi dan saudara saudaranya sering di ajak oleh ibu mereka bertandang ke Mandura. Tak jarang keluarga Mandura yang mengunjungi mereka ketika dulu masih tinggal di Hastina bersama keluarga Kurawa. Dengan adik Kakrasana, yaitu Narayana, Permadi malah lebih akrab. Bahkan ketika dulu ia mengalahkan raja Paranggelung, juga berkat bantuan Narayana.

Wasi Jaladara tampak menghela nafas. Seperti ada beban di pikirannya. Tapi cepat cepat ia bisa menguasai diri.

“Kenapa kakang memilih menjadi resi seperti ini, bukankah kakang adalah pewaris uwa Basudewa ?”.

“Apakah seorang pangeran tidak boleh menjalani hidup sebagai seorang resi ?” Wasi Jaladara balik bertanya.

“Bu..bukan itu maksudku, kakang…” gugup.

“Ha ha ha ha…” tawa renyah keluar dari bibir Jaladara.

“Kekuasaan tak perlu di cari. Buat apa ?. Toh kalaupun sudah menjadi takdir kita, dia tidak akan kemana mana” ucap Jaladara santai.

“Kamu sendiri kenapa sampai di sini ?” Wasi Jaladara bertanya.

“Mau ke Widarakandang”

“Menemui Larasati ?”  Jaladara memicingkan matanya.

“Kakang tahu darimana ?”.

Wasi Jaladara mengelus janggutnya yang lebat.

“Paman Antagopa itu salahsatu orang kepercayaan ayahanda yang di angkat sebagai kepala desa di Widarakandang. Tentu saja aku tahu cerita keluarganya”.

“Pantas…” desis Permadi. Pantas saja putra uwaknya ini paham betul tentang dirinya. Kali ini Permadi jadi malu sendiri.

“Aku rindu dengan Larasati, kakang” Permadi beralasan.

“Hanya itu ?” pancing Jaladara.

“Mmmmm….” Permadi memandang ke arah Jaladara. Kakak dari Narayana ini sepertinya tidak mau mempercayai begitu saja omongannya.

“Urusan perempuan lagi ?” tebaknya yang di sambut muka merah Permadi.

“Anak Prabu Salya telah memikat hatimu ?. Dan kamu mau pulang ke Widarakandang untuk memberitahu Larasati ?” imbuh Jaladara.

Permadi benar benar tak bisa berkutik. Batinnya menggerutu, darimana kakak sepupunya itu tahu kalau ia sedang jatuh hati kepada salah satu putri Prabu Salya ?.

“Kamu kira, aku tidak tahu kelakuanmu, Permadi ?” tohok Jaladara.

Pasti ketiga pembantunya yang memberitahu. Pikir Permadi kesal. 

“Kalian yang di luar, masuklah!!!” tiba tiba Jaladara berteriak memanggil.

Pasti ketiga pelayannya.

Perlahan pintu terbuka, satu persatu sosok manusia memasuki pintu kecil yang sudah rusak akibat terjangan anak panahnya tadi.

“Banowati !” Permadi terkejut bukan main melihat siapa yang hadir di hadapannya.

Banowati dengan di iring tiga pelayannya dan satu orang pria bertubuh besar dan berwajah buruk yang belum pernah ia kenal.

“Salam sembah saya, Resi…” Banowati memberi hormat pada Wasi Jaladara kemudian di ikuti pria bertubuh besar yang ternyata adalah adiknya, Burisrawa.

“Duduk…duduk” perintah Jaladara yang segera di kelilingi oleh tamu tamu istimewanya itu.

“Pantas saja kakak sepupunya tahu banyak masalah pribadinya. Banowati juga ada di sini ternyata” pikir sang Permadi seraya melirik pada Banowati.

Perempuan cantik yang ia kenal di pantai Mandaraka itu terlihat menundukkan wajah. Seperti tak ingin membalas tatapan Permadi. Entah apa yang sedang terjadi. 

“Apa kabar, Bano?” bisik Permadi memberanikan diri untuk menyapa.

“Kabar buruk” jawab Banowati terdengar ketus.

“Soal kakakmu ?”.

“Siapa lagi…”.

Permadi menggaruk garuk kepala. Dia tak habis pikir, kenapa tiba tiba Banowati yang biasanya sangat ramah dan ceria, kini berubah ketus bukan main ?.

“Ya sudah, mungkin kalian ingin berbicara berdua saja”.

Sadar antara Banowati dan Permadi sama sama tak ingin melibatkan dirinya, Jaladara berdiri dan hendak meninggalkan tempat.

“Mohon tidak meninggalkan kami, Resi…” pinta Banowati menahan langkah Jaladara.

Sejak tadi, walaupun tidak melihat langsung jalannya pertarungan, Banowati bisa menebak bahwa pria berjubah putih ini bukan orang yang lemah. Apalagi dari kejauhan dia melihat dengan jelas panah panah Permadi melesat keluar gubuk dengan jumlah tak terhingga, tapi sama sekali tak membuat sang Jaladara terluka. Jadi apa salahnya ia juga menceritakan persoalan yang menimpa dirinya dan keluarganya pada resi sakti ini.

“Bener, kalian tidak masalah kalau aku mengganggu ?” Jaladara meminta kejelasan.

Banowati melirik ke arah Permadi. 

“Mohon ijin, Resi..”.

“Silahkan…”.

“Sebenarnya kami malu menceritakan masalah keluarga kami pada orang lain. Tapi kami juga merasa kebingungan bagaimana memecahkan masalah ini”.

“Lanjutkan…” Jaladara mempersilahkan.

“Kakak kami, Herawati beberapa waktu lalu hilang di culik dari istana. Kami sudah berusaha mencari. Bahkan ayahanda juga meminta bantuan pada gusti Suyudana untuk membantu mencari keberadaan  Herawati. Tapi hingga saat ini tak ada hasil yang menggembirakan” Banowati mulai memainkan ceritanya.

“Dan kamu mau meminta Permadi untuk membantu mencarikan kakakmu ?” terka Jaladara.

Banowati mengangguk.

“Jika Raden Permadi tidak keberatan” jawab Banowati dingin.

“Ya kamu nanyanya ke dia….”sindir  Jaladara mengarahkan telunjuknya pada Permadi.

“Resi  memiliki wawasan yang sangat luas” Banowati mencoba mengalihkan pembicaraan, “seandainya resi bersedia meluangkan waktu untuk membantu kami mengatasi segala keruwetan negeri kami, sungguh kami akan sangat berterima kasih” lanjutnya berharap. 

Walaupun tidak melihat langsung jalannya pertempuran antara Permadi dan sosok begawan di depannya itu, tapi Banowati meyakini bahwa resi muda ini bukanlah orang sembarangan. Bahkan mungkin kemampuannya di atas Permadi, itu terbukti dari banyaknya mata panah yang di tembakkan Permadi, tapi pria ini masih terlihat segar bugar tanpa menderita luka sedikitpun.

“Ha ha ha ha….” tawa khas Jaladara kembali meledak.

 “Maafkan saya, resi…” Banowati.

Wasi Jaladara mengibaskan tangan kanannya.

“Permadi!” panggil Jaladara.

“Saya kakang..”.

“Apa kamu nggak malu dengan musibah yang menimpa keluarga Mandaraka?”  tanya Jaladara pada adik sepupunya.

 “Mandaraka baru saja mendapat musibah, tapi kamu malah memikirkan kepentinganmu sendiri”.

“Maafkan kekhilafan saya, kakang..” sahut Permadi. Pikiran ksatria Madukara ini masih belum keluar dari rasa heran atas sikap dingin Banowati.

Banowati seolah tak lagi mengenalinya. Sorot matanya yang biasanya nakal dan penuh pesona, kini tak ubahnya sinar mentari yang redup tertutup awan. Ucapan ucapan yang meluncur dari bibir mungil yang biasanya menggoda telinganya, kini terasa dingin dan hambar. 

“Sebentar…” ucap Permadi tiba tiba.

Ksatria Madukara ini lantas bangkit dari duduknya, menggamit tangan Banowati lalu membawanya keluar dari gubuk kecil itu. Burisrawa yang tidak mau terjadi apa apa dengan kakaknya, berusaha menguntit dari belakang. Tapi sebuah isyarat dari Banowati memaksanya untuk duduk kembali dan membiarkan Permadi membawa keluar sang kakak.

“Kamu kenapa sih ?” tanya Permadi begitu telah berada agak jauh dari gubuk. Bola matanya tertuju pada wajah Banowati. Seperti hendak memaksa gadis cantik di depannya untuk bicara jujur tentang apa gerangan kesalahan yang pernah Permadi lakukan. Sementara kedua tangannya mencengkeram kedua sisi pundak Banowati.

“Nggak ada apa apa” jawab Banowati memalingkan wajah.

“Aku bisa jelaskan semua, asal kamu mau jujur….” kata Permadi kehilangan akal.

“Apanya yang di jelaskan ?” ketus.

“Tapi sikap kamu ?”

“Ada yang salah ?” Banowati cuek.

“Nggak seperti biasanya, Bano….”.

“Itu khan perasaan raden aja” Banowati makin acuh.

“Aku mau bantu mencari…”.

“Nggak perlu!” potong Banowati seraya menepis kedua tangan Permadi dari pundaknya.

“Tapi kenapa kamu mencariku ?” desak Permadi mencoba meraih kembali pundak gadis yang telah menjatuhkan hatinya itu. Namun buru buru Banowati berkelit.

“Iiihh…siapa lagi yang nyari. Wong aku cumin mau jalan jalan”. 

“Jalan jalan ke tempat begini ?”.

“Suka suka aku!” sambut Banowati sengit.

“Sudah, aku mau bicara lagi sama Resi”.

Gadis bermata terang dengan tubuh beraroma melati itu bergegas meninggalkan Permadi.

“Eeeh….tunggu Bano….!” panggil Permadi. Tapi Banowati seolah tak mempedulikan panggilannya. Langkah perempuan Mandaraka itu justru makin cepat.

“Kamu menguping pembicaraanku dengan Resi Jaladara ya ?” teriak Permadi dari kejauhan.

Kali ini Banowati menghentikan langkah. Menoleh sebentar, tapi buru buru melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Permadi yang berdiri mematung di tengah hamparan padang pasir nan luas.

>>>Selanjutnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar