Kamis, 08 September 2011

Korawa


Korawa atau Kaurawa (Dewanagari: कौरव; IAST: kaurava) adalah istilah dalam bahasa Sanskerta yang berarti "keturunan (raja) Kuru." Dalam budaya pewayangan Jawa, istilah ini merujuk kepada kelompok antagonis dalam wiracarita Mahabharata, sehingga Korawa adalah musuh bebuyutan para Pandawa.

Pengertian

Istilah Korawa yang digunakan dalam Mahabharata memiliki dua pengertian:
  • Arti luas: Korawa merujuk kepada seluruh keturunan Kuru. Kuru adalah nama seorang maharaja yang merupakan keturunan Bharata, dan menurunkan tokoh-tokoh besar dalam wiracarita Mahabharata. Dalam pengertian ini, Pandawa juga termasuk Korawa, dan kadangkala disebut demikian dalam Mahabharata, khususnya pada beberapa bagian awal.
  • Arti sempit: Korawa merujuk kepada garis keturunan Kuru yang lebih tua. Istilah ini hanya terbatas untuk anak-anak Dretarastra, sebab Dretarastra merupakan putra sulung Wicitrawirya (keturunan Raja Kuru), yang berhak menjadi raja menurut urutan kelahiran namun digantikan oleh adiknya, Pandu, karena Dretarastra buta. Istilah ini tidak mencakup anak-anak Pandu, yang mendirikan garis keturunan baru, yaitu para Pandawa.

Riwayat singkat

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Gandari, istri Dretarastra, menginginkan putra. Kemudian Gandari memohon kepada Byasa, seorang pertapa sakti, dan beliau mengabulkannya. Gandari menjadi hamil, namun setelah lama ia mengandung, putranya belum juga lahir. Ia menjadi cemburu kepada Kunti yang sudah memberikan Pandu tiga orang putera. Gandari menjadi frustasi kemudian memukul-mukul kandungannya. Setelah melalui masa persalinan, yang lahir dari rahimnya hanyalah segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki. Yang pertama muncul adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan saudaranya yang lain.
Seluruh putra-putra Dretarastra tumbuh menjadi pria yang gagah-gagah. Mereka memiliki saudara bernama Pandawa, yaitu kelima putra Pandu, saudara tiri ayah mereka. Meskipun mereka bersaudara, Duryodana yang merupakan saudara tertua para Korawa, selalu merasa cemburu terhadap Pandawa, terutama Yudistira yang hendak dicalonkan menjadi raja di Hastinapura. Perselisihan pun timbul dan memuncak pada sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra.
Setelah pertarungan sengit berlangsung selama delapan belas hari, seratus putera Dretarastra gugur, termasuk cucu-cucunya, kecuali Yuyutsu, putra Dretarastra yang lahir dari seorang dayang-dayang. Yang terakhir gugur dalam pertempuran tersebut adalah Duryodana, saudara tertua para Korawa. Sebelumnya, adiknya yang bernama Dursasana yang gugur di tangan Bima. Yuyutsu adalah satu-satunya putra Dretarastra yang selamat dari pertarungan ganas di Kurukshetra karena memihak para Pandawa dan ia melanjutkan garis keturunan ayahnya, serta membuatkan upacara bagi para leluhurnya.

Para Korawa

Berikut ini nama-nama seratus Korawa yang dibedakan menjadi dua versi, versi India dan versi Indonesia. Dalam versi Indonesia, kedua Korawa utama yaitu Suyodana alias Duryodana dan Dursasana disebut lebih dahulu, kemudian yang lain disebut menurut urutan abjad.

Versi India

Ke-↓ Nama↓
1 Duryodana
2 Dursasana
3 Dursaha
4 Dursala
5 Jalaganda
6 Sama
7 Saha
8 Winda
9 Anuwinda
10 Durdarsa
11 Subahu
12 Duspradarsa
13 Durmarsana
14 Durmuka
15 Duskarna
16 Karna
17 Wikarna
18 Sala
19 Satwa
20 Sulocana
21 Citra
22 Upacitra
23 Citraksa
24 Carucitra
25 Sarasana
26 Durmada
27 Durwigaha
28 Wiwitsu
29 Wikatinanda
30 Urnanaba
31 Sunaba
32 Nanda
33 Upananda
34 Citrabana
35 Citrawarma
36 Suwarma
37 Durwimoca
38 Ayobahu
39 Mahabahu
40 Citrangga
41 Citrakundala
42 Bimawiga
43 Bimabela
44 Walaki
45 Belawardana
46 Ugrayuda
47 Susena
48 Kundadara
49 Mahodara
50 Citrayuda
51 Nisanggi
52 Pasa
53 Wrendaraka
54 Dredawarma
55 Dredaksatra
56 Somakirti
57 Antudara
58 Dredasanda
59 Jarasanda
60 Satyasanda
61 Sadasuwaka
62 Ugrasrawa
63 Ugrasena
64 Senani
65 Dusparaja
66 Aparajita
67 Kundase
68 Wisalaksa
69 Duradara
70 Dredahasta
71 Suhasta
72 Watawiga
73 Suwarca
74 Adityaketu
75 Bahwasa
76 Nagadata
77 Ugrasai
78 Kawaci
79 Kradana
80 Kundi
81 Bimawikra
82 Danurdara
83 Wirabahu
84 Alolupa
85 Abaya
86 Dredakarma
87 Dredaratasraya
88 Anadrusya
89 Kundabedi
90 Wirawi
91 Citrakundala
92 Pramada
93 Amapramadi
94 Dirgaroma
95 Suwirya
96 Dirgabahu
97 Sujata
98 Kencanadwaja
99 Kundasi
100 Wirajasa
101 Yuyutsu
102 Dursala

Versi Indonesia

  1. Duryodana (Suyodana)
  2. Dursasana (Duhsasana)
  3. Abaswa
  4. Adityaketu
  5. Alobha
  6. Anadhresya (Hanyadresya)
  7. Anudhara (Hanudhara)
  8. Anuradha
  9. Anuwinda (Anuwenda)
  10. Aparajita
  11. Aswaketu
  12. Bahwasi (Balaki)
  13. Balawardana
  14. Bhagadatta (Bogadenta)
  15. Bima
  16. Bimabala
  17. Bimadewa
  18. Bimarata (Bimaratha)
  19. Carucitra
  20. Citradharma
  21. Citrakala
  22. Citraksa
  23. Citrakunda
  24. Citralaksya
  25. Citrangga
  26. Citrasanda
  27. Citrasraya
  28. Citrawarman
  29. Dharpasandha
  30. Dhreksetra
  31. Dirgaroma
  32. Dirghabahu
  33. Dirghacitra
  34. Dredhahasta
  35. Dredhawarman
  36. Dredhayuda
  37. Dretapara
  38. Duhpradharsana
  39. Duhsa
  40. Duhsah
  41. Durbalaki
  42. Durbharata
  43. Durdharsa
  44. Durmada
  45. Durmarsana
  46. Durmukha
  47. Durwimocana
  48. Duskarna
  49. Dusparajaya
  50. Duspramana
  51. Hayabahu
  52. Jalasandha
  53. Jarasanda
  54. Jayawikata
  55. Kanakadhwaja
  56. Kanakayu
  57. Karna
  58. Kawacin
  59. Krathana (Kratana)
  60. Kundabhedi
  61. Kundadhara
  62. Mahabahu
  63. Mahacitra
  64. Nandaka
  65. Pandikunda
  66. Prabhata
  67. Pramathi
  68. Rodrakarma (Rudrakarman)
  69. Sala
  70. Sama
  71. Satwa
  72. Satyasanda
  73. Senani
  74. Sokarti
  75. Subahu
  76. Sudatra
  77. Suddha (Korawa)
  78. Sugrama
  79. Suhasta
  80. Sukasananda
  81. Sulokacitra
  82. Surasakti
  83. Tandasraya
  84. Ugra
  85. Ugrasena
  86. Ugrasrayi
  87. Ugrayudha
  88. Upacitra
  89. Upanandaka
  90. Urnanaba
  91. Wedha
  92. Wicitrihatana
  93. Wikala
  94. Wikatanana
  95. Winda
  96. Wirabahu
  97. Wirada
  98. Wisakti
  99. Wiwitsu (Yuyutsu)
  100. Wyudoru (Wiyudarus)

Korawa lainnya

Para Korawa (putra Dretarastra) yang utama berjumlah seratus, namun mereka masih mempunyai saudara dan saudari pula. Yaitu Yuyutsu, anak Dretarastra tetapi lain ibu, ibunya seorang wanita waisya. Kemudian dari Dewi Gandari, lahir seorang putri bernama Dursala.

http://id.wikipedia.org/wiki/Korawa

Rabu, 06 Juli 2011

Bhagawadgita

































Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam dialog ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya. Secara harfiah, arti Bhagavad-gita adalah "Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna; ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi,kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang di miliki sekaligus secara bersamaan).
Syair ini merupakan interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada "Bhismaparwa". Adegan ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan dilawannya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita merupakan ajaran universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita merupakan ilmu pengetahuan abadi, yakni sudah ada sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan ajarannya tidak akan dapat dimusnahkan.

[sunting] Daftar isi

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:
  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk bertempur. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk bertempur dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga kekuatannya menjadi lemah, pikirannya bingung, dan dia tidak dapat bertabah hati untuk bertempur.
  • BAB II Ringkasan isi Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, kemudian Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yanag bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Kresna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan kegiatan di dunia ini. Tetapi perbuatan dapat mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dibebaskan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan cara bertindak untuk memuaskan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia. Pengetahuan seperti itu adalah hasil perbuatan bhakti tanpa mementingkan diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Beliau sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Perbuatan dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oelha api pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan segala kegiatan tetapi melapaskan ikatan terhadap hasil perbuatan dalam hatinya. Dengan cara demikian, orang bijaksana dapat mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latian meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memusatkan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. samadhi artinya sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan kekuatan yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Cara Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan cara ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat meninggal.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu pengetahuan (widya), Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kegiatan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang murni, seseorang dapat kembali kepada Krishna di alam rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena ajaib yang memperlihatkan kekuatan, keindahan, sifat agung atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan sebagian tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa adalah tujuan sembahyang tertinggi bagi para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagian alam semesta. Dengan cara demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang murni
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdia suci yang murni kebada Sri Krishna, adalah cara tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang murni kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh jalan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, ORang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Guna Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas Triguna (tiga sifat alam material) - Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kebaikan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan arit sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut memengaruhi diri kita, bagaimana cara melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani (orang yang sudah lepas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda adalah melepaskan diri dari ikatan terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dilahirkan dalam keadaan yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Ada tiga jenis keyakinan, yang masing-masing berkembang dari salah satu di antara tiga sifat alam. Perbuatan yang dilakukan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan perbuatan yang dilakukan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan murni terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan ikatan, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan arti dari pelepasan ikatan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kegiatan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; jalan kerohaniantertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Jalan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang kekal.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Cuplikan adegan Arjuna yang menghadap Bhatara Wisnu dalam komik Mahabharata oleh R.A. Kosasih.
Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dahulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata yaitu Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita ada pula. Tetapi menurut banyak pakar, penerjemah Jawa Kuna kurang paham akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini berasal dari pupuh 10, bait 12 dan 13:
(12)
mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepan
ri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang waneh
hana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh paman
makâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru
(13)
ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteher
aminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawa
kuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâpranga
apan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing paprangan
Terjemahan
(12)
Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihan
sebab musuh-musuhnya bukanlah orang asing
ada sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-paman
seperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).
(13)
Oleh sebab itu, ia lalu berbicara kepada prabu Kresna,
meminta supaya ia menghentikan peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.
Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperang
sebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bhagawadgita

Baladewa

Dalam mitologi Hindu, Baladewa (Sanskerta: बलदोव) atau Balarama (Sanskerta: बलराम; Balarāma), disebut juga Balabhadra dan Halayudha, adalah kakak dari Kresna, putera Basudewa dan Dewaki. Dalam filsafat Waisnawa dan beberapa tradisi pemujaan di India selatan, ia dipuja sebagai awatara keenam dari Maha Awatara dan termasuk salah satu dari 25 awatara dalam Purana. Menurut filsafat Waisnawa dan beberapa pandangan umat Hindu, ia merupakan manifestasi dari Sesa, ular suci yang menjadi ranjang Dewa Wisnu.

Kemunculan Baladewa

Baladewa sebenarnya merupakan Kakak kandung Kresna karena terlahir sebagai putera Wasudewa dan Dewaki. Namun karena takdirnya untuk tidak mati di tangan Kamsa, ia dilahirkan oleh Rohini atas peristiwa pemindahan janin.
Kamsa, Kakak dari Dewaki, takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan terbunuh di tangan putera kedelapan Dewaki. Maka dari itu ia menjebloskan Dewaki beserta suaminya ke penjara dan membunuh setiap putera yang dilahirkan oleh Dewaki. Secara berturut-turut, setiap puteranya yang baru lahir mati di tangan Kamsa. Pada saat Dewaki mengandung puteranya yang ketujuh, nasib anaknya yang akan dilahirkan tidak akan sama dengan nasib keenam anaknya terdahulu. Janin yang dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa disebut pula Sankarsana yang berarti "pemindahan janin".
Akhirnya, Rohini menyambut Baladewa sebagai puteranya. Pada masa kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan teman-temannya. Ia menikah dengan Reawati, puteri Raiwata dari Anarta.
Baladewa mengajari Bima dan Duryodana menggunakan senjata Gada. Dalam perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Seperti kerajaan Widarbha dan Raja Rukmi, ia tidak memihak Pandawa maupun Korawa. Namun, ketika Bima hendak membunuh Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima. Hal itu dapat dicegah oleh Kresna dengan menyadarkan kembali Baladewa bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku buruk Duryodana.

Ciri-ciri fisik

Lukisan India modern, yang menggambarkan Baladewa berdiri di dekat sungai Yamuna.
Balarama seringkali digambarkan berkulit putih, khususnya jika dibandingkan dengan saudaranya, yaitu Kresna, yang dilukiskan berkulit biru gelap atau bercorak hitam. Senjatanya adalah bajak dan gada. Secara tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan kalung dari rangkaian bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai giwang dan gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan kenyataannya, bala dalam bahasa Sanskerta berarti "kuat". Baladewa merupakan teman kesayangan Kresna yang terkenal.

Baladewa dalam susastra Hindu

Bhagawatapurana

Pada suatu hari, Nanda Maharaja menyuruh Gargamuni, pendeta keluarga, untuk mengunjungi rumah mereka dalam rangka memberikan nama kepada Kresna dan Baladewa. Ketika Gargamuni tiba di rumahnya, Nanda Maharaja menyambutnya dengan ramah dan kemudian menyuruh agar upacara pemberian nama segera dilaksanakan. Gargamuni memperingatkan Nanda Maharaja bahwa Kamsa mencari putera Dewaki dan jika upacara dilaksanakan secara mewah maka akan menarik perhatian Kamsa, dan ia akan mencurigai Kresna sebagai putera Dewaki. Maka Nanda Maharaja menyuruh Gargamuni untuk melangsungkan upacara secara rahasia, dan Gargamuni memberi alasan mengenai pemberian nama Balarama sebagai berikut:
“ Karena Balarama, putera Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya Sankarshana. ”
(Bhagawatapurana, 10.8.12)

Mahabharata

Baladewa terkenal sebagai pengajar Duryodana dari Korawa dan Bima dari Pandawa seni bertarung menggunakan gada. Ketika perang meletus antara pihak Korawa dan Pandawa, Baladewa memiliki rasa sayang yang sama terhadap kedua pihak dan memutuskan untuk menjadi pihak netral. Dan akhirnya ketika Bima (yang lebih kuat) mengalahkan Duryodana (yang lebih pintar) dengan memberikan pukulan di bawah perutnya dengan gada, Baladewa mengancam akan membunuh Bima. Hal ini dicegah oleh Kresna yang mengingatkan Baladewa atas sumpah Bima untuk membunuh Duryodana dengan menghancurkan paha yang pernah ia singkapkan kepada Dropadi.

Akhir riwayat hidup

Arca Krishna-Balarama dari Krishna-Balarama Mandir, Vrindavan, India.
Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu, dan setelah ia menyaksikan Kresna yang menghilang, ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.

Tradisi dan pemujaan

Dalam tradisi Waisnawa dan beberapa sekte Hindu di India, Baladewa dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari Tuhan yang Maha Esa dan dalam pemujaan mereka sering disebut "Krishna-Balarama". Mereka memiliki hubungan yang dekat dan selalu terlihat bersama-sama. Jika diibaratkan, Kresna merupakan pencipta sedangkan Baladewa merupakan potensi kreativitasnya. Baladewa merupakan saudara Kresna, dan kadang-kadang dilukiskan sebagai adik, kadang-kadang dilukiskan sebagai kakaknya. Baladewa juga merupakan Laksmana pada kehidupan Wisnu sebelum menitis pada Kresna, dan pada zaman Kali, beliau menitis sebagai Nityananda, sahabat Sri Caitanya.
Dalam Bhagawatapurana diceritakan, setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran antara wangsa Yadu dan Wresni, dan setelah ia menyaksikan Kresna mencapai moksa, ia duduk untuk bermeditasi agar mampu meninggalkan dunia fana lalu mengeluarkan ular putih dari dalam mulutnya. Setelah itu ia diangkut oleh Sesa dalam wujud ular.

Baladewa dalam Pewayangan Jawa

Prabu Baladewa atau Balarama dalam bentuk wayang kulit versi Jawa.
Dalam pewayangan Jawa, Baladewa adalah saudara Prabu Kresna. Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu Basudewa, raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura.
Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.
Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan gada, sehingga Bima dan Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada Kresna. Kresna berwarna hitam sedangkan Baladewa berkulit putih.
Pada perang Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para Korawa, tetapi berkat siasat Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya bertapa di Grojogan Sewu (Grojogan = Air Terjun, Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di Grojogan Sewu terjadilah perang Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para Pandawa kalah, karena Baladewa sangatlah sakti.
Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada naga sementara yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang Bharatayudha, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu Parikesit, raja negara Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu Puntadewa. Ia bergelar Resi Balarama. Ia mati moksa setelah punahnya seluruh Wangsa Wresni.

[sunting] Silsilah

 
 
Ahuka
 


 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
Ugrasena
 
Dewaka
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Surasena
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Raja Cedi

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kamsa
 
Dewaki
 
Basudewa
 
9 putera
 
 
 
 
 
 
3 puteri
 
Srutasrawa
 
Damagosa
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
Kresna
 
 
 
 
 
 
 
 
Kunti
 
Pandu
 
 
 
Sisupala
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Baladewa
 
Subadra
 
Yudistira
 
Bima
 
Arjuna
 

http://id.wikipedia.org/wiki/Baladewa

Ki Manteb Sudarsono


MANTEB SOEDHARSONO, KI (1948 – ), adalah seorang dalang Wayang Kulit Purwa yang mulai terkenal sejak tahun 1980-an. Ia berasal dari daerah Ndoplang, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Surakarta. Sebagai dalang, Manteb Sudharsono terkenal dengan sabetan-nya. Saking piawainya dia memainkan boneka wayang dengan segala variasi dan kelincahannya dia dijuluki Dalang Setan oleh para penggemarnya. Kalau sedang memainkan trik sabetan dengan cepat dan terampil layaknya sebagai tukang sulap. Misalnya dalam ramainya perang tiba-tiba tokoh yang tadinya terdesak “sim salabim” tahu-tahu memegang senjata dan ganti memukul lawannya. Tidak ayal penontonpun memberikan aplous yang gemuruh. Menurutnya semua itu bukan sulap bukan sihir, namun karena ketekukan melatih kecepatan gerak tangan dan kemampuan mengalihkan perhatian penonton. Untuk keperluan keberhasilan sabetnya maka dia sangat kreatif dan sangat teliti mendesain wayangnya. Mulai dari ketebalan kulitnya, pola hiasannya, gapitan sampai wandanya. Pernah dia mengganti gapit tokoh Bima sampai 16 kali, sampai tercapai kemantapan keseimbangan yang dia inginkan. Tidak jarang dia memberikan petunjuk langsung pada para pembuat wayangnya bidang mana yang harus mendapat perhatian khusus untuk ketebalan kerokan kulitnya. Misalnya untuk tokoh Arjuna dalam keperluannya perang kembang, kalau perlu daerah pundak dan lengan atas setebal “triplek”, begitu sarannya. Untuk wayang-wayang khusus, misalnya untuk menciptakan geter, getap dan ketepatan wanda Baladewa misalnya, Pak Manteb selalu terlibat dari mulai mendesain pola, ngerok, menatah, sungging dan paling penting adalah ulat-ulatan dan tentunya gapitannya. Semuanya harus tepat dalam presisi ukuran dan rasa kemantaban seni yang tepat dan lengkap. Artinya salah satu tidak boleh meleset. Mulai bedhahan, sunggingan, ulat-ulatan dan terakhir gapitan. Dalang lain boleh menganggap remeh hal gapitan, namun dia tidak. Bisa dikatakan dia adalah seorang dalang yang sekaligus ahli dalam bidang seni rupa wayang. Pengetahuannya yang mendalam, open dan teliti dalam bidang rupa wayang itu sangat mendukung keberhasilan pakelirannya, terutama dalam bidang sabet.
Dalang yang telah menunaikan ibadah haji ini, mulanya belajar mendalang pada ayahnya, lalu memperda-lamnya pada Ki Nartasabda di Semarang (1972) dan Ki Ganda Sudarman di Sragen (1974). Ia mulai mendalang di muka umum sejak usia 12 tahun.
Pada tahun 1982, Man-teb menjadi juara Pakeliran Padat se-Surakarta. Sejak itu namanya mulai menanjak. Dalam pemilihan Dalang Kesayangan pada Angket Wayang 93 dalam rangka Pekan Wayang Indonesia VI, Manteb Sudharsono menduduki peringkat kedua, di bawah Ki Anom Suroto Lebdocarito.
Dalang yang setiap bulan rata-rata pentas sepuluh hari ini, pernah melawat ke Spanyol, Jerman, Amerika Serikat, Swiss, Suriname, Prancis dan Jepang.
Sejak tahun 1983, ia melakukan kegiatan pribadi, yaitu nanggap wayang di rumahnya, setiap hari Selasa Legi, bertepatan dengan hari wetonnya (weton adalah hari kelahiran menurut tradisi Jawa, diadakan setiap 35 hari). Acara ini kemudian dikenal dengan nama Malem Selasa Legen, menghadirkan dalang-dalang dari berbagai daerah. Kegiatan yang dimaksudkan untuk ikut melestarikan budaya pedalangan ini, hingga kini (1998) masih senantiasa dilakukan.
Karena pengabdiannya pada seni pedalangan, Ki Haji Manteb Soedharsono mendapat anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden.
Ki Manteb Soedharsono juga tercatat sebagai dalang yang paling laris sebagai peraga iklan radio dan televisi. Terkenal dengan slogannya “Oye”. Para penggemarnya sering memanggilnya dengan dalang oye atau dalang setan.
Pada awal 1998, Ki Manteb Soedharsono men-dalang pada pergelaran kolosal di Museum Keprajuritan Taman Mini Indonesia Indah, dengan lakon Rama Tambak. Pergelaran yang sukses ini mendapat dukungan dari pakar wayang STSI, yang menangani naskah ceritanya (Sumanto) dan tata gendingnya (B. Subono).

http://topmdi.net/republikwayang/?p=115

Kamis, 16 Juni 2011

Kelemahan Sang Maha Dahsyat.


Bhisma sudah dikenal sebagai satria tangguh dan politisi serta panglima perang hebat sejak masa muda juga terkenal sebagai pembantai di medan perang. Ini dibuktikan saat Perang Bharatayudha, saat itu pasukan Pandawa kocar kacir dan menderita kerusakan hebat sampai hari ke sepuluh.
Pandawa dalam posisi sangat sulit, kalau Bhisma belum terkalahkan yang notabene ya kakek mereka maka bisa dipastikan bahwa kekalahan akan berpihak pada mereka, Kresna yang sudah berjanji nggak ikutan pun sudah geregetan mau mengeluarkan senjata pamungkasnya “Cakra” tetapi selalu dihalangi Arjuna yang mengingatkan janjinya tidak terlibat langsung peperangan.
Dalam formasi perang yang membagi pasukan Pandawa menjadi 7 divisi, Pandawa menempatkan komandan divisi seorang wanita, yaitu Srikandi … dan mengangkat jendral junior, Drestadyumna, sebagai Panglima Perang merangkap komandan salah satu dari 7 divisi tadi.
Disini terlihat perbedaan menyolok dan menarik kalau dilihat dari strategi yang digunakan, kalau Pandawa menempatkan jendral junior sebagai Panglima Perang maka Kurawa menempatkan para jendral senior dan politisi kawakan seperti Bhisma, Durna, Karna, Salya, Aswatama sebagai Panglima Perang [bergantian karena Panglima Kurawa ini gugur satu persatu kecuali Aswatama].
Setelah Rapim Perang yang melelahkan, akhirnya diatur satu strategi untuk menghadapi Bhisma yaitu dengan teknik double cover, menempatkan Srikandi didepan dan Arjuna dibelakangnya tepat, sebagai strategi menghadapi Bhisma … lho kok gitu sih … Arjuna bersembunyi dibalik sosok wanita perkasa … ya ini strategi yang dipikirkan bersama, Pandawa tahu kalau kelemahan Bhisma itu tidak mau membalas serangan seorang wanita, Bhisma sangat menghormati wanita seperti saat menyerahkan tahta kepada putra dewi Durgandini dan juga merasa bersalah pada wanita seperti saat tanpa sengaja membunuh Dewi Amba yang mengejarnya dulu saat masih muda dan ganteng.
Terjadilah seperti apa yang di “plan” kan, dalam peperangan sang Bhisma sama sekali tidak membalas panahnya Srikandi tetapi yang jadi masalah adalah panah Arjuna yang diluncurkan dengan kecepatan dan ketepatan tingkat tinggi dengan cover tubuh Srikandi, ini yang jadi penyebab tumbangnya Bhisma, gimana lagi yaa .. mau bales tapi Arjuna selalu sembunyi dibalik Srikandi .. sampailah ajal Bhisma walau tidak meninggal seketika saat itu ..
Cerita diatas menunjukan kecerdikan Pandawa, keteguhan Bhisma serta kepercayaan terhadap generasi muda untuk memimpin suatu peperangan.
Tidak selamanya satria perkasa harus didepan, dalam bisnis mungkin diperlukan negosiator yang tepat menghadapi “kawan dan lawan” yang nggak mungkin ”menolak” apa yang ditawarkan, seperti memajukan Srikandi didepan untuk menahan serangan Bhisma, sementara dari sisi lain dilakukan penyerangan terhadap “kawan dan lawan” yang dalam hal ini bisa saja “calon pelanggan” supaya menerima proposal kita.
Tidak selamanya keperkasaan itu menjadi keutamaan, kejayaan bisnis pasti ada kelemahan, kalau itu diketahui “lawan” kita, sebaiknya kita juga segera mencoba mencari alternatif untuk mengatasinya, seperti kasus Bhisma, seharusnya dia bisa melihat dan menghindar berhadapan dengan Srikandi karena itulah kelemahan Bhisma, tapi bisa jadi Bhisma juga tidak sadar dan terlalu percaya diri dengan kemenangan sebelumnya sampai saat dihadapkan dengan kenyataan baru kaget dan tidak ada jalan lain selain menghadapinya.
Tidak selamanya jendral tua bisa mengatasi keadaan sulit, politisi yang sudah lewat masa jayanya sebaiknya menyerahkan kepada generasi jendral muda, mereka bisa mengamati dengan lebih leluasa, membantu saat dibutuhkan dan tahu mana yang menjadi tugasnya, tidak sekedar mengejar pangkat sebagai “Senopati Utama, sang Komandan, Sang Panglima Perang”, cobalah membantu dari belakang, istilahnya “tut wuri handayani” .
Tambahan lagi sosok politikus ulung seperti Kresna juga harus ada yang “membisiki” jangan maju perang kalau janjinya nggak ikut campur .. nanti malah merusak nama baik lho mbah.
Ini gambaran dari 3 pelajaran berharga dari perang yang diperkirakan terjadi di 3000 tahun sebelum masehi, sudah 5000 tahun berlalu … dan selalu menarik untuk dipelajari dan masih relevan untuk masa kini.