Dalam
mitologi Hindu,
Baladewa (
Sanskerta: बलदोव) atau
Balarama (
Sanskerta: बलराम;
Balarāma), disebut juga
Balabhadra dan
Halayudha, adalah kakak dari
Kresna, putera
Basudewa dan
Dewaki. Dalam filsafat
Waisnawa dan beberapa tradisi pemujaan di
India selatan, ia dipuja sebagai
awatara keenam dari Maha Awatara dan termasuk salah satu dari 25
awatara dalam
Purana. Menurut filsafat Waisnawa dan beberapa pandangan umat
Hindu, ia merupakan manifestasi dari
Sesa, ular suci yang menjadi ranjang Dewa
Wisnu.
Kemunculan Baladewa
Baladewa sebenarnya merupakan Kakak kandung
Kresna karena terlahir sebagai putera
Wasudewa dan
Dewaki. Namun karena takdirnya untuk tidak mati di tangan
Kamsa, ia dilahirkan oleh
Rohini atas peristiwa pemindahan janin.
Kamsa, Kakak dari Dewaki, takut akan ramalan yang mengatakan bahwa ia akan terbunuh di tangan putera kedelapan Dewaki. Maka dari itu ia menjebloskan Dewaki beserta suaminya ke penjara dan membunuh setiap putera yang dilahirkan oleh Dewaki. Secara berturut-turut, setiap puteranya yang baru lahir mati di tangan Kamsa. Pada saat Dewaki mengandung puteranya yang ketujuh, nasib anaknya yang akan dilahirkan tidak akan sama dengan nasib keenam anaknya terdahulu. Janin yang dikandungnya secara ajaib berpindah kepada Rohini yang sedang menginginkan seorang putera. Maka dari itu, Baladewa disebut pula Sankarsana yang berarti "pemindahan janin".
Akhirnya, Rohini menyambut Baladewa sebagai puteranya. Pada masa kecilnya, ia bernama Rama. Namun karena kekuatannya yang menakjubkan, ia disebut Balarama (Rama yang kuat) atau Baladewa. Baladewa menghabiskan masa kanak-kanaknya sebagai seorang pengembala sapi bersama Kresna dan teman-temannya. Ia menikah dengan
Reawati, puteri Raiwata dari Anarta.
Baladewa mengajari
Bima dan
Duryodana menggunakan senjata
Gada. Dalam
perang di Kurukshetra, Baladewa bersikap netral. Seperti
kerajaan Widarbha dan Raja
Rukmi, ia tidak memihak
Pandawa maupun
Korawa. Namun, ketika Bima hendak membunuh
Duryodana, ia mengancam akan membunuh Bima. Hal itu dapat dicegah oleh
Kresna dengan menyadarkan kembali Baladewa bahwa Bima membunuh Duryodana adalah sebuah kewajiban untuk memenuhi sumpahnya. Selain itu, Kresna mengingatkan Baladewa akan segala prilaku buruk Duryodana.
Ciri-ciri fisik
Lukisan India modern, yang menggambarkan Baladewa berdiri di dekat sungai
Yamuna.
Balarama seringkali digambarkan berkulit
putih, khususnya jika dibandingkan dengan saudaranya, yaitu
Kresna, yang dilukiskan berkulit
biru gelap atau bercorak
hitam. Senjatanya adalah
bajak dan
gada. Secara tradisional, Baladewa memakai pakaian biru dan kalung dari rangkaian bunga hutan. Rambutnya diikat pada jambul dan ia memakai giwang dan gelang. Baladewa digambarkan memiliki fisik yang sangat kuat, dan kenyataannya,
bala dalam
bahasa Sanskerta berarti "kuat". Baladewa merupakan teman kesayangan
Kresna yang terkenal.
Baladewa dalam susastra Hindu
Bhagawatapurana
Pada suatu hari,
Nanda Maharaja menyuruh
Gargamuni, pendeta keluarga, untuk mengunjungi rumah mereka dalam rangka memberikan nama kepada Kresna dan Baladewa. Ketika Gargamuni tiba di rumahnya, Nanda Maharaja menyambutnya dengan ramah dan kemudian menyuruh agar upacara pemberian nama segera dilaksanakan. Gargamuni memperingatkan Nanda Maharaja bahwa
Kamsa mencari putera
Dewaki dan jika upacara dilaksanakan secara mewah maka akan menarik perhatian
Kamsa, dan ia akan mencurigai Kresna sebagai putera Dewaki. Maka Nanda Maharaja menyuruh Gargamuni untuk melangsungkan upacara secara rahasia, dan Gargamuni memberi alasan mengenai pemberian nama Balarama sebagai berikut:
| “ | Karena Balarama, putera Rohini, mampu menambah pelbagai berkah, namanya Rama, dan karena kekuatannya yang luar biasa, ia dipanggil Baladewa. Ia mampu menarik Wangsa Yadu untuk mengikuti perintahnya, maka dari itu namanya Sankarshana. | ” |
(
Bhagawatapurana, 10.8.12)
Mahabharata
Baladewa terkenal sebagai pengajar
Duryodana dari
Korawa dan
Bima dari
Pandawa seni bertarung menggunakan
gada. Ketika perang meletus antara pihak Korawa dan Pandawa, Baladewa memiliki rasa sayang yang sama terhadap kedua pihak dan memutuskan untuk menjadi pihak netral. Dan akhirnya ketika
Bima (yang lebih kuat) mengalahkan
Duryodana (yang lebih pintar) dengan memberikan pukulan di bawah perutnya dengan gada, Baladewa mengancam akan membunuh Bima. Hal ini dicegah oleh
Kresna yang mengingatkan Baladewa atas sumpah Bima untuk membunuh Duryodana dengan menghancurkan paha yang pernah ia singkapkan kepada
Dropadi.
Akhir riwayat hidup
Dalam
Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran
Dinasti Yadu, dan setelah ia menyaksikan
Kresna yang menghilang, ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu
Sesa.
Tradisi dan pemujaan
Dalam tradisi
Waisnawa dan beberapa
sekte Hindu di
India, Baladewa dipuja bersama Sri Kresna sebagai kepribadian dari
Tuhan yang Maha Esa dan dalam pemujaan mereka sering disebut "Krishna-Balarama". Mereka memiliki hubungan yang dekat dan selalu terlihat bersama-sama. Jika diibaratkan, Kresna merupakan pencipta sedangkan Baladewa merupakan potensi kreativitasnya. Baladewa merupakan saudara Kresna, dan kadang-kadang dilukiskan sebagai adik, kadang-kadang dilukiskan sebagai kakaknya. Baladewa juga merupakan
Laksmana pada kehidupan
Wisnu sebelum menitis pada
Kresna, dan pada zaman
Kali, beliau menitis sebagai
Nityananda, sahabat
Sri Caitanya.
Dalam
Bhagawatapurana diceritakan, setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran antara wangsa
Yadu dan
Wresni, dan setelah ia menyaksikan Kresna mencapai
moksa, ia duduk untuk bermeditasi agar mampu meninggalkan dunia fana lalu mengeluarkan ular putih dari dalam mulutnya. Setelah itu ia diangkut oleh
Sesa dalam wujud
ular.
Baladewa dalam Pewayangan Jawa
Prabu Baladewa atau Balarama dalam bentuk
wayang kulit versi Jawa.
Dalam pewayangan Jawa,
Baladewa adalah saudara Prabu
Kresna. Prabu Baladewa yang waktu mudanya bernama Kakrasana, adalah putra Prabu
Basudewa, raja negara
Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra atau Maekah. Ia lahir kembar bersama adiknya, dan mempunyai adik lain ibu bernama Dewi
Subadra atau Dewi Lara Ireng, puteri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Badrahini. Baladewa juga mempunyai saudara lain ibu bernama Arya Udawa, putra Prabu Basudewa dengan Ken Sagupi, seorang
swarawati keraton Mandura.
Prabu Baladewa yang mudanya pernah menjadi pendeta di pertapaan Argasonya bergelar Wasi Jaladara, menikah dengan Dewi Erawati, puteri Prabu
Salya dengan Dewi Setyawati atau Pujawati dari negara Mandaraka. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putera bernama Wisata dan Wimuka.
Baladewa berwatak keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana. Ia sangat mahir mempergunakan
gada, sehingga
Bima dan
Duryodana berguru kepadanya. Baladewa mempunyai dua pusaka sakti, yaitu Nangggala dan Alugara, keduanya pemberian
Brahma. Ia juga mempunyai kendaraan
gajah bernama Kyai Puspadenta. Dalam banyak hal, Baladewa adalah lawan daripada
Kresna. Kresna berwarna
hitam sedangkan Baladewa berkulit
putih.
Pada perang
Bharatayuddha sebenarnya prabu Baladewa memihak para
Korawa, tetapi berkat siasat
Kresna, beliau tidak ikut namun sebaliknya bertapa di
Grojogan Sewu (
Grojogan = Air Terjun,
Sewu = Seribu) dengan tujuan agar apabila terjadi perang Bharatayuddha, Baladewa tidak dapat mendengarnya karena tertutup suara gemuruh air terjun. Selain itu Kresna berjanji akan membangunkannya nanti Bharatayuddha terjadi, padahal keesokan hari setelah ia bertapa di
Grojogan Sewu terjadilah perang Bharatayuddha. Jika Baladewa turut serta, pasti para
Pandawa kalah, karena Baladewa sangatlah sakti.
Baladewa ada yang mengatakan sebgai titisan daripada
naga sementara yang lainya meyakini sebagai titisan Sanghyang Basuki, Dewa keselamatan. Ia berumur sangat panjang. Setelah selesai perang
Bharatayudha, Baladewa menjadi pamong dan penasehat Prabu
Parikesit, raja negara
Hastinapura setelah mangkatnya Prabu Kalimataya atau Prabu
Puntadewa. Ia bergelar
Resi Balarama. Ia mati
moksa setelah punahnya seluruh Wangsa
Wresni.