Minggu, 11 November 2012

Banowati : Asmara di Mandaraka (2)


Sebelumnya <<<

Oleh : Komandan Gubrak

Pria muda itu tampak tergesa gesa menaiki perbukitan. Gerakannya terlihat ringan, lincah dan sangat terlatih. Tidak ada kesulitan sedikitpun baginya untuk mencapai puncak bukit kendati di sepanjang jalan ia harus melewati bebatuan nan terjal, curam, berdebu dan di penuhi dedaunan serta ranting kering. Di belakangnya, tiga pria berumur setengah baya terlihat berusaha dengan susah payah menyusul ke puncak bukit. Beberapa kali mereka terpaksa harus jatuh bangun karena medan terlalu curam dan licin untuk di lewati. Berada di barisan paling depan, lelaki jangkung dengan hidung mancung, dagu lancip serta rambut yang sebagian telah berwarna putih. Dialah Petruk. Salah satu anggota punakawan pengasuh para ksatria Pandawa. Di belakangnya lagi seorang lelaki yang umurnya sedikit lebih tua dari Petruk. Bertubuh kurus, pendek, berwajah buruk dan berkaki pincang. Bernama Gareng. Lelaki ketiga dan yang paling muda, bertubuh gemuk, bermata besar dengan bibir tebal. Dialah sang Bagong. Pengasuh termuda para ksatria Pandawa.

Lalu siapakah pria muda dengan gerakan lincah yang kini duduk manis di atas batu besar di puncak bukit ?. Dia tak lain dan tak bukan adalah sang panengah Pandawa, raden Permadi. Bertubuh sedang, berkulit bersih, berhidung mancung, berwajah tampan dengan rambut hitam legam lurus sepanjang bahu. Berpakaian ksatria dengan busur dan anak panah bertengger manis di punggungnya. Tabiatnya kalem, rendah hati, santun dan tidak banyak bicara. Selain di kenal sebagai sosok pendekar pilih tanding dan ahli dalam ilmu memanah, Raden Permadi juga mempunyai sisi lain yang jarang di miliki pria lain. Yaitu, lihai dalam menakhlukkan hati para wanita. Wajah tampan, penampilan rapi dan olah kata yang santun adalah modal paling berharga yang di miliki putra ke tiga almarhum Prabu Pandudewanata ini dalam menjerat hati kaum wanita. Tidak terhitung lagi berapa wanita yang jatuh hati pada ksatria asal Madukara ini. Jangankan yang jelas jelas perempuan lajang, mereka yang telah bersuamipun tidak sedikit yang menaruh rasa suka terhadap lelaki yang satu ini.

Namun demikian, kisah asmara sang Permadi sendiri tidaklah semulus yang di bayangkan banyak orang. Kendati di idolakan banyak kaum hawa, Permadi bukanlah pribadi yang begitu mudah untuk menambatkan cintanya. Bagi Permadi, ketertarikan terhadap lawan jenis tidak melulu di dasarkan pada pesona fisik,  kemolekan tubuh, kecerdasan pikiran atau apapun. Tapi lebih pada ketergerakkan hati. Sebuah kondisi di mana hati merasa nyaman dan cocok dengan obyek yang ada. Tidak mesti melalui sebuah proses panjang yang berbelit belit dan penuh onak berduri. Rasa cintanya bisa tumbuh secepat kilat bahkan hanya sesaat setelah pandangan pertama, manakala hatinya tergerak. Namun sebaliknya, sekeras apapun dan bahkan dengan jangka waktu yang cukup lamapun, usaha untuk menakhlukkan hati Permadi, jika ia sama sekali tak merasa tergerak hatinya, maka tidak akan pernah tumbuh rasa cinta itu. Pendeknya, cinta menurut putra Kunti ini tidak bisa di rekayasa, tidak bisa di karang karang dan tidak bisa di upayakan. Ia harus muncul secara alami dari lubuk hati yang paling dalam.

Permadi memang unik. Dia bukan tipe pria yang terlalu peduli dengan keadaan sekitar, tidak peduli dengan rintangan yang kemungkinan menghalangi hasratnya, bahkan dia sama sekali tak peduli apakah cintanya bertepuk sebelah tangan atau tidak. Jika hati sudah terketuk, maka sulit sekali rasa itu tercabut. Perangai seperti inilah yang seringkali membuat ibu, kakak, adik dan keluarganya selalu merasa was was. Was was jikalau apa yang di inginkan oleh pemilik panah Pasopati ini ternyata sudah menjadi hak milik orang lain. Kisah cinta Permadi dan Dewi Anggraeni, istri Prabu Ekalaya,  barangkali bisa menjadi contoh nyata bagaimana tabiat Permadi yang tidak pernah peduli dengan resiko akhirnya melahirkan sebuah aib yang begitu membuat malu keluarga Amarta. 

Di ceritakan suatu ketika Dewi Anggraeni beserta rombongan yang membawa sesembahan dari suaminya Prabu Ekalaya untuk Begawan Durna memasuki sebuah hutan angker, mereka di cegat para raksasa penghuni hutan itu. Maka terjadilah pertempuran hebat antara para raksasa dan pengawal Dewi Anggraeni. Pasukan pengawal Anggraeni terdesak, kewalahan  dan akhirnya berhasil di tumpas habis oleh para Raksasa penguasa hutan. Dewi Anggraeni melarikan diri, namun usahanya segera di ketahui oleh kawanan penguasa hutan itu dan di kejar hingga masuk lebih jauh ke dalam hutan. Di tengah hutan itulah Anggraeni bertemu Permadi yang sedang menjalani tapa brata. Melihat ada wanita cantik jelita yang kepayahan di kejar kejar gerombolan raksasa, Permadi keluar dari pertapaan dan bermaksud menolong Dewi Anggraeni. Usaha Permadi berhasil. Para raksasa di tumpas Permadi tanpa sisa. Merasa berjasa menyelamatkan Dewi Anggraeni, Permadi yang terpesona akan kecantikan istri Prabu Ekalaya ini, dengan tanpa malu menyatakan cintanya pada Dewi Anggraeni. Namun oleh Anggraeni, cinta Permadi di tolak secara halus dengan alasan bahwa ia telah menjadi istri dari penguasa Paranggelung Prabu Ekalaya. Sakit hati Permadi. Walaupun suami Anggraeni adalah seorang Raja, tapi secara kasta ia hanyalah raja kecil yang kedudukannya tidak sebanding dengan Permadi. Permadi yang nasabnya lebih tinggi dari Ekalaya merasa di permalukan oleh penolakan Anggraeni. Maka timbullah niat jahat Permadi untuk memperkosa Dewi Anggraeni. Melihat gelagat yang tidak baik dari pria yang sempat menolongnya itu, Dewi Anggraeni lalu melarikan diri, namun terus di kejar Permadi hingga sampailah mereka di tepi jurang nan dalam. Anggraeni yang merasa terjepit dan tak punya pilihan untuk menghindar dari Permadi memutuskan untuk bunuh diri dengan terjun ke dalam jurang. Baginya, lebih baik mati demi membela kesetiaan pada suaminya daripada jatuh ke pelukan Permadi.

Pupus hati Permadi menyaksikan wanita yang begitu mempesona hatinya terjun bebas ke dalam jurang. Namun tanpa sepengetahuan Permadi, Dewi Anggraeni yang hampir di pastikan tewas membentur bebatuan di dasar jurang secara ajaib di selamatkan oleh ibundanya yang merupakan salah satu bidadari surga, Dewi Warsiki. Dewi Warsiki kemudian membawa Anggraeni pulang ke Paranggelung dan melaporkan tindakan tidak senonoh Permadi kepada menantunya, Prabu Ekalaya. Mendengar berita bahwa Permadi telah melakukan pelecehan terhadap istri tercintanya, marahlah Prabu Ekalaya. Berangkatlah Ekalaya beserta pasukannya ke Madukara dengan niat menghukum Permadi. Permadi yang baru saja pulang dari bertapa, kaget bukan kepalang mendapati ksatrian Madukara di kepung dari segala penjuru oleh pasukan Prabu Ekalaya. Bentrokan tak bisa di hindarkan. Prabu Ekalaya yang merasa di rendahkan oleh tindakan Permadi pada istrinya menantang perang tanding satu lawan satu. Sebagai seorang ksatria, Permadi menerima tantangan Prabu Ekalaya dengan harapan jika ia bisa membunuh Ekalaya, Dewi Anggraeni akan menjadi miliknya. Perang tandingpun pecah. Namun di luar perkiraan, Prabu Ekalaya yang memiliki sebuah jimat sakti berbentuk cincin di jempol tangan bernama Mustika Ampal memberikan perlawanan yang luar biasa. Segala senjata yang di pakai Permadi dengan mudahnya di patahkan Prabu Ekalaya berkat keampuhan jimat Mustika Ampal. Hingga malam menjelang pertarungan dua pria hebat ini berakhir tanpa ada pemenang. Karena menurut tradisi, perang tanding tidak boleh di lakukan di malam hari, keduanya sepakat untuk melanjutkan perkelahian keesokan hari.

Mujur bagi Permadi, di saat istirahat di wisma ksatrian datanglah Narayana (Kresna). Kepada Narayana ia menceritakan bahwa seharian ia perang tanding dengan Ekalaya dan ia tak bisa mengalahkan Raja Paranggelung itu karena dia memiliki Jimat Mustika Ampal. Berkat jimat itu Prabu Ekalaya tak bisa di bunuh dengan senjata apapun. Mengetahui keresahan Permadi, Narayana yang di kenal cerdik kemudian menyusun siasat. Malam itu juga Narayana menyamar menjadi Resi Durna dan menyusup ke perkemahan Prabu Ekalaya. Mendapati yang datang adalah guru Durna dari Sokalima yang sangat ia hormati, Prabu Ekalaya menyambutnya dengan penuh hangat. Keinginan Ekalaya untuk berguru pada Durna kembali timbul setelah dahulu kala sempat di tolak oleh spiritualis asal Sokalima ini dengan alasan Resi Durna tidak menerima murid dari kalangan bukan ksatria. Dan rupanya, inilah yang kemudian di manfaatkan oleh Narayana yang sedang menyamar sebagai Durna untuk mengakhiri kedigdayaan Prabu Ekalaya. Dia mengatakan kepada Prabu Ekalaya, bahwa ia bersedia menerima Ekalaya sebagai murid dengan syarat Prabu Ekalaya bersedia menyerahkan jimat Mustika Ampal kepadanya. Awalnya Prabu Ekalaya menolak, akan tetapi Durna palsu ini dengan cerdik mengatakan pada Ekalaya bahwa ia tidak mau menurunkan ilmu ilmu sakti sedang muridnya itu masih memakai jimat jimat peninggalan masa lalu. Karena rasa cinta pada guru dan hasratnya yang luar biasa untuk mewarisi kesaktian Durna, akhirnya luluh juga hati Prabu Ekalaya. Cincin Mustika Ampal di serahkan pada Durna bajakan ini.

Setelah sukses mendapatkan apa yang ia cari, Narayana kemudian kembali ke ksatrian Madukara dan memberitahukan pada Permadi bahwa Prabu Ekalaya sudah tidak sakti lagi. Kabar ini tak ayal membuat hati Permadi berbunga bunga, bayangan jelita Anggraeni yang sebentar lagi akan ia dapatkan meliuk liuk di pelupuk mata Permadi. Maka malam itu juga berangkatlah Permadi ke perkemahan Prabu Ekalaya. Dan ketika mendapati Prabu Ekalaya tertidur pulas dengan sebilah keris di sampingnya. Di ambilnya keris itu lalu di tusukkan pada pemiliknya. Seketika matilah Prabu Ekalaya. Permadi kemudian mengumumkan kepada para prajurit Paranggelung bahwa ia telah membunuh raja mereka. Sontak berita ini menggegerkan kubu Paranggelung, tak terkecuali Dewi Anggraeni yang berkemah tak jauh dari tenda milik suaminya. Sedih hati sang Anggraeni mendengar kabar kematian suami tercintanya. Dan demi bela pati atas gugurnya Prabu Ekalaya, di depan Permadi ia melakukan aksi bunuh diri yang tak bisa di cegah oleh siapapun.

Hancur hati Permadi melihat kejadian itu. Wanita yang ia cintai setengah mati dan ia harapkan bisa bersanding di sisinya tewas bersimbah darah. Tragedi ini begitu memukul hati Permadi. Berhari hari Permadi nyaris tak bisa tidur akibat menyesali perbuatannya. Badannya yang gemuk berotot perlahan kurus kering karena nafsu makannya telah sirna bersamaan dengan sirnanya sang dewi pujaan hati. Permadi lalu memutuskan untuk meninggalkan Madukara, meratapi kisah hidupnya dan mengembara dari desa ke desa, dari gunung ke gunung dan dari hutan satu ke hutan lainnya. Hingga suatu hari tibalah ia di desa Widarakandang. Sebuah desa yang berada di bawah kekuasaan Mandura. Di situ hidup satu keluarga, Kyai Antagopa dan Nyai Sagopi. Keluarga ini memiliki dua orang anak, Udawa dan Larasati.

Udawa adalah pemuda yang sangat kuat, ahli kanuragan dan memiliki tinju yang mematikan. Sementara Larasati adalah gadis muda yang cantik, anggun dan menarik hati. Syahdan, keluarga Antagopa yang menyaksikan putrinya yang makin dewasa dan tumbuh sebagai kembang desa nan molek berkeinginan untuk mencarikan jodoh bagi Larasati. Maka mendengar keinginan Kyai Antagopa untuk mencari pendamping  bagi anaknya, berdatanganlah para jawara melamar Larasati. Karena saking banyaknya pelamar dan keluarga Antagopa tak ingin membuat kecewa semuanya, maka keluarga Antagopa berkeputusan bahwa barang siapa yang mampu mengalahkan Udawa, ia berhak menjadi suami Larasati.

Perang tanding di mulai. Satu demi satu jawara jawara berkelahi melawan Udawa. Akan tetapi hingga habis semua jagoan, tak satupun yang mampu mengalahkan Udawa yang kuat dan bertinju mematikan. Permadi yang awalnya hanya menonton dan tak terlalu tertarik pada hadiah yang di tawarkan keluarga Antagopa penasaran juga menyaksikan kedigdayaan Udawa. Maka majulah Permadi menjadi penantang terakhir Udawa. Dan akhirnya Udawa berhasil dia kalahkan. Sesuai perjanjian bahwa siapapun pemenangnya akan di kawinkan dengan Larasati, maka mau tak mau Permadi harus menerima Larasati sebagai istrinya. Maka menikahlah Permadi dan Larasati.

Sebuah perkawinan yang tidak begitu mulus. Karena ternyata Permadi masih sulit melupakan Dewi Anggraeni. Kendati Larasati memiliki wajah yang cantik menawan, tapi bagi Permadi, keberadaan Larasati sama sekali tidak bisa menggantikan apa yang selama ini ia lihat dari Dewi Anggraeni. Keteguhan Anggraeni, kesetiaannya dan aksi bela pati Anggraeni atas kematian suaminya seolah terus menghipnotis Permadi. Ini yang akhirnya menjadikan Permadi tidak betah tinggal di Widorokandang dan memutuskan untuk kabur dan mengembara entah kemana dengan di kawal tiga pengikutnya, Gareng, Petruk dan Bagong.

“Sebenarnya, apa gerangan yang ndoro Permadi cari di tempat gersang seperti ini ?” tanya Petruk begitu berhasil menyusul majikannya yang tengah duduk berjongkok di samping batu besar di puncak bukit. Sementara di belakang Petruk, dua saudaranya secara bersamaan juga tiba di tempat yang sama.

Permadi hanya menoleh sebentar pada ketiga pembantunya. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibirnya. Matanya yang tajam bagai elang tampak serius mengamati  sebuah tempat yang terletak nun jauh di balik bukit. Sebuah kawasan di dataran rendah yang di sekelilingnya di bentengi oleh pagar tembok setinggi tiga meter dan berada persis di pinggiran pantai. Di setiap sudut benteng, berdiri menjulang menara menara yang terbuat dari batu bata dengan kubah berbentuk kerucut. Fungsinya selain memperindah kota, juga menjadi tempat strategis untuk mengawasi setiap gerak gerak yang ada di dalam dan luar istana. Sementara itu di balik benteng nan tebal itu, setidaknya terdapat lima blok kawasan yang juga di lindungi oleh pagar pagar tinggi terbuat dari batu bata. Di dalam blok blok itu terdapat bangunan bangunan berbagai ukuran yang tampaknya berfungsi sebagai tempat tinggal, barak prajurit, pasar, tempat ibadah dan lain sebagainya.

“Sepertinya ndoro sedang mengamati tempat itu ?” sahut Gareng seraya mengarahkan telunjuknya.

“Ada apa sih ?” sela Bagong dengan nafas yang masih terengah engah.

“Kita hampir sampai di kota Mandaraka” ucap Permadi tak juga memalingkan pandangannya.

“Kota Mandaraka ?” teriak ketiga pembantu Permadi itu girang. 

“Akhirnya, setelah tiga bulan kita hanya menemui gunung, hutan, padang pasir dan perkampungan, sampai juga kita di kota yang indah itu” ujar Petruk sembari mengadu pundaknya dengan pundak Gareng, sementara kedua bola matanya masih mengarah pada tempat di pesisir timur itu.

“Betul, Truk” sahut Gareng, “artinya kita bakalan ketemu makanan yang lezat lezat…”.

“Ha ha ha ha!” derai tawa ketiga pembantu Permadi itu sontak meluncur lepas dari mulut mereka.

“Pasti di sana banyak wanita wanita cantik ?” seloroh Bagong.

“Huuuu…! Pikiranmu itu loh, Gong” timpal Gareng.

“Kenapa ?. Itu artinya aku masih normal, Reng!” tak mau kalah, “iya khan, Truk?”.

“Normal sih normal, tapi lihat lihat dulu kali, Gong!” Gareng.

“Oalah…masalah duit ?. Kecil itu….!. Khan ada ndoro Permadi ?. Lagian, gusti Salya khan masih terhitung paman dari keluarga Pandawa, masak iya tega ?. Bukan begitu, Truk ?” ucap pria gendut berkepala botak itu seraya sudut matanya melirik ke arah sang Petruk.

Petruk yang merasa geli dengan tingkah Bagong hanya bisa tersenyum simpul.

“Betul khan, Truk ?” Bagong mengulangi. Kali ini tangan kirinya menjawil pundak Petruk.

“Iya…iya…!” sekenanya.

“Nah..gitu dong” Bagong lega.

Suasana kembali hening. Enam pasang mata itu lagi lagi mengarahkan pandangannya pada bangunan bangunan megah yang ada di dalam benteng Mandaraka. Memang, bagi ketiga pembantunya, tempat di bawah bukit itu yang terlihat jelas hanya bangunan bangunannya, sementara para penghuninya hanya terlihat seperti titik titik kecil yang berjalan kesana kemari. Tapi bagi Permadi yang matanya sudah terlatih, titik titik kecil itu terlihat jelas sekali. Ada gerakan gerakan yang tidak biasa di dalam dan di sekitar benteng. Belasan unit unit kecil berisi lima hingga sepuluh prajurit terlihat mondar mandir mengelilingi benteng. Di pintu gerbang sebelah utara, tampak serombongan pasukan berkuda dengan berjumlah belasan tengah sibuk berkumpul di balik pintu gerbang. Di blok pemukiman di sebelah timur, yang tampaknya adalah barak prajurit, ratusan orang berkumpul di lapangan. Seperti ada sesuatu yang hendak di lakukan. Sementara di blok paling tengah yang terdapat bangunan besar dan megah dengan taman taman bunga nan indah, belasan orang terdiri dari laki laki dan perempuan tengah sibuk mempercantik area istana.

“Akan ada tamu penting yang akan datang ke Mandaraka” guman Permadi pelan, tapi cukup jelas terdengar di telinga ke tiga pembantunya.

“Siapa ndoro ?” tanya Petruk penasaran.

Permadi hanya terdiam. Dia tidak tahu persis siapa gerangan tamu yang akan datang ke Mandaraka, tapi melihat persiapan penyambutan yang luar biasa, sudah pasti tamu itu bukan orang sembarangan.

“Lihat itu ndoro…!” teriak Gareng seraya mengarahkan telunjuknya ke arah utara. Serombongan manusia yang entah berapa jumlahnya bergerak perlahan menyusuri jalanan berdebu yang mengarah ke kota Mandaraka.

“Itu panji panji Hastina ??” pekik Permadi tertahan.

Ya, dari umbul umbul dan bendera warna kuning yang di bawa oleh beberapa anggota rombongan, sepertinya itu memang rombongan dari Hastinapura. Sebuah negara besar yang terletak sebelah utara Mandaraka. Negeri dimana Permadi dan saudara saudaranya sempat tinggal di sana dalam jangka cukup lama sebelum akhirnya di usir dan mengungsi ke hutan Amarta.

Permadi menarik nafas dalam dalam, matanya terpejam beberapa saat lalu perlahan terbuka.

“Itu kereta Kakang Suyudana !” kata Permadi.

Tak salah lagi, benda yang mirip rumah berjalan dengan di tarik enam ekor kuda dan di kawal seratusan prajurit berkuda itu sudah pasti adalah kereta kesayangan raja Hastinapura.

Tapi apa gerangan maksud kedatangan Suyudana ke Mandaraka ?. Permadi berpikir keras. Kalau di lihat dari pasukan yang di bawa Suyudana, sepertinya raja Hastina itu tidak ada kesan bermaksud jahat pada Mandaraka. Apalagi jika melihat adanya kotak kotak besar yang di tarik dengan menggunakan kereta kuda dan berada persis di belakang kereta Suyudana. Kotak kotak itu jelas bukan tempat menyimpan senjata, tapi lebih seperti kotak barang yang entah apa jenis barang di dalamnya. Mungkin benda benda berharga yang akan di persembahkan pada penguasa Mandarka.

Permadi mengerutkan dahi. Pandangannya kini menyapu ke dalam  benteng  kota Mandaraka. Ada sesuatu yang menarik perhatian Permadi, tepatnya di blok paling tengah yang sepertinya adalah kediaman raja dan keluarganya. Sesosok perempuan dengan busana bangsawan tampak keluar dari bangunan paling megah di tengah tengah Mandaraka itu. Berjalan terburu buru melewati beberapa penjaga yang ada di sepanjang jalan istana. Menuju ke sebuah rumah yang terletak di sisi kiri istana raja. 

Empat orang prajurit yang menjaga rumah itu tanpa banyak bertanya lantas membukakan pintu gerbang dan membiarkan wanita bangsawan itu masuk. Melewati jalan kecil yang di kiri kanannya terdapat kolam, lalu melintasi sebuah taman bunga dan di sambut dua orang perempuan tua yang kemungkinan adalah pelayannya. Ketiganya tampak sibuk membicarakan sesuatu. Tidak berapa lama salah satu dari pelayan itu berlarian masuk ke dalam rumah dan keluar lagi dengan menenteng sebuah benda berbentuk perahu kecil. Di serahkannya benda itu pada wanita bangsawan majikannya. Setelah itu kedua pelayan itu berlalu entah kemana.

“Ndoro…” Petruk menepuk pundak tuannya.

“Rombongan Hastina itu sebentar lagi memasuki kota” kata Petruk.

“Biarkan saja” jawab Permadi seolah tidak lagi peduli dengan kedatangan orang orang Hastina ke Mandaraka. Matanya lebih tertarik pada gerak gerik putri bangsawan yang ada di komplek bangunan sebelah kiri istana raja.

Perempuan bangsawan itu kini berjalan menuju sebuah balai terbuat dari kayu yang di kiri kanannya terhampar tanaman bunga berbagai jenis. Menaikki balai setinggi lutut dan duduk bersimpuh menghadap ke barat, persis ke arah dimana Permadi dan ketiga pelayannya berada. Sementara benda berbentuk perahu yang sepertinya adalah sebuah kecapi itu di letakkan tepat di depan lututnya. 

“Itu seperti keretanya Prabu Suyudana, ndoro…”lapor Petruk yang belum juga sadar bahwa Permadi tengah sibuk memperhatikan obyek lain.

“Ya” sahut Permadi seraya mengangkat telunjuk kanannya di depan mulut untuk member isyarat agar Petruk tidak banyak bicara.

Wanita yang sedang duduk bersimpuh di atas balai itu terlihat diam mematung dengan posisi tangan menopang dagu. Sementara arah wajahnya tertuju pada tanaman tanaman bunga yang ada di depannya. Entah apa yang ia pikirkan sehingga kecapi yang sejak awal ia persiapkan tak juga di mainkan. Dalam posisi wajah yang  tidak secara langsung menghadap ke arahnya, rasanya cukup sulit bagi Permadi untuk meraba raba seperti apa gerangan kecantikan wanita itu. 

“Ayolah nona, menghadaplah kemari” teriak Permadi dalam hati. 

“Sebentar sajalah nona, sebentar saja kamu pertunjukkan wajah cantikmu padaku. Setelah itu silahkan kamu mainkan benda kesayanganmu itu” pinta Permadi dengan harapan celotehan hatinya bisa di dengar oleh wanita bangsawan di ujung sana.

Tapi untuk beberapa saat lamanya Permadi harus menelan kekecewaan. Bukannya mengarahkan pandangannya pada bukit gundul tempat di mana Permadi berada, tapi perempuan itu justru melepaskan topangan dagunya dan tertunduk menatap kecapi di depannya.

“Sial!” maki Permadi jengkel.

“Apa aku harus pecahkan batu ini agar perhatianmu tertuju kemari ?” pikir Permadi seraya menepuk perlahan batu besar di sampingnya. Namun sebentar kemudian ia menggeleng ragu. Ia bisa saja meledakkan batu di sampingnya dengan sekali pukul, tapi tindakan itu sama saja mengundang perhatian pihak lain juga. Bukan hanya para prajurit Mandaraka yang hilir mudik di sekitar benteng, tapi juga rombongan Hastinapura yang sudah tentu berisi ksatria ksatria hebat kurawa.

Sejenak lelaki yang konon adalah titisan Dewa Wisnu ini memutar otak. Dengan cara apa ia bisa membuat wanita bangsawan itu mengarahkan wajah padanya. Jarak antara dia dan Permadi memang cukup jauh. Jangankan lambaian tangan, bahkan seluruh tubuh Permadipun sepertinya tidak bisa di jangkau pandangan mata perempuan itu. Posisi ini sebenarnya menguntungkan Permadi, karena ia dapat dengan leluasa memandangi setiap gerak gerik wanita itu berkat kemampuan ilmu mata batin yang di miliki Permadi. Akan tetapi sebaliknya, wanita bangsawan itu belum tentu punya kemampuan serupa.

“Oh ya…” pekik Permadi seperti menemukan sebuah ide. Di raihnya batu kerikil yang berserakan di bawah kakinya. Di genggamnya kerikil seukuran biji mata, lalu dengan perhitungan yang cukup matang putra terkasih Prabu Pandu itu mengayunkan tangannya. Batu kerikil itu meluncur deras laksana anak panah yang terlepas dari busurnya.

Bletakk!!!

Sebuah lemparan yang sempurna. Batu itu menubruk dinding kecapi yang terbuat dari bahan kayu milik wanita itu dan menimbulkan suara lumayan keras. Tidak sampai merusak, karena semua sudah di perhitungkan pelemparnya, tapi usaha itu cukup memantik perhatian pemilik kecapi itu. Wanita bangsawan itu terkaget bukan main, mengangkat muka dan mencari cari tahu apa gerangan yang terjadi. Di angkatnya alat musik petik yang ada di depannya. Sebuah batu kerikil sebesar biji mata teronggok tak jauh dari kecapinya. Dan dengan tatapan liar, wanita itu kemudian berusaha menyelidiki darimana dan siapa gerangan pelempar batu kerikil itu. Saat itulah wajah wanita bangsawan itu mengarah lurus pada bukit gersang tempat Permadi dan pelayannya berada. Bisa jadi wanita itu tidak berniat melempar pandangannya ke arah bukit, tapi tindakan itu cukup bagi Permadi untuk melihat lebih jelas wajah sang wanita bangsawan.

“Anggraeni!!!” Permadi terkesiap menyaksikan pemandangan yang baru saja ia saksikan. Antara percaya dan tidak percaya. Apa yang di saksikan Permadi sungguh membuat jantungnya mendadak berdegup kencang. Wanita itu mirip sekali dengan Dewi Anggraeni. Perempuan cantik istri Prabu Ekalaya yang dulu pernah membuatnya begitu tergila gila. Wajah yang berbentuk oval, bola mata tajam, hidung mancung, kulit putih bersih, dagu lancip dan rambut lurus berwarna hitam sepanjang punggung. Semua itu tak ayal mengembalikan ingatan Permadi pada Anggraeni.

“Tapi dia telah mati ?” Permadi mengucek ucek matanya untuk memastikan sekali lagi bahwa apa yang di lihatnya bukanlah halusinasi.

Itu benar benar Anggraeni. Tak salah lagi, kecuali benda berbentuk perahu yang ada di depannya, semua yang ada pada diri wanita itu nyaris tidak ada bedanya dengan ratu Paranggelung pujaan Permadi. Wajahnya, rambutnya, bentuk tubuhnya bahkan gerak geriknya tak ubahnya Dewi Anggraeni.

“Kakang Gareng, Petruk dan Bagong” ucap Permadi pada ketiga pelayannya.

“Iya ndoro…” ketiganya serempak menjawab.

“Kalian lihat tidak bangunan megah di sisi kiri bangunan besar di sana itu ?” Permadi mengarahkan telunjuknya. 

“Iya, emang ada apa dengan rumah itu, ndoro ?” tanya Gareng langsung paham apa yang di maksud majikannya.

“Itu seperti kediaman putri putri Raja ndoro” sahut Petruk.

“Kebun tanaman yang lebih luas, pantulan sinar menyilaukan yang tampaknya sebuah kolam pemandian di belakang bangunan itu, tak salah lagi biasanya adalah keputren” lanjut Petruk menerangkan.

Permadi mengangguk. Kendati ketiga pelayannya itu sudah pasti tak sanggup melihat keberadaan wanita mirip Anggraeni di ujung sana, namun untuk mengenali ciri khas sebuah komplek bangunan, rasanya sangat mudah bagi mereka.

“Kalian tahu, di bangunan itu terdapat perempuan yang cantik jelita ?”.

“Mana bisa kami melihat. Ndoro ini ada ada saja…” jawab Bagong tersipu.

“Makanya kalau belajar ilmu kanuragan itu yang serius, Gong” Gareng meledek.

“Memangnya kamu bisa melihat ke sana, Reng ?. Sama sama nggak bisa lihat aja kok” ucap sang Bagong sewot.

“Mungkin mataku yang salah, tapi aku melihat di sana, di balai kecil di tengah taman itu, seorang wanita cantik berbaju biru, berambut lurus hitam, hidung mancung da mata yang bersinar menakjubkan. Mirip…ya…mirip sekali dengan Anggraeni. Iya…mirip sekali” terang Permadi antusias.

“Waduhhh???” ketiga pembantu Permadi ini terlihat melongo keheranan.

“Itu lihat, dia menatap kemari…dia melihat kemari…” cerocos Permadi seperti sedang kerasukan makhluk halus.

Makin tak karuan perasaan ketiga anggota punakawan ini menyaksikan perubahan sikap Permadi. Tapi untuk menghentikan tingkah sang majikan mereka masih ragu. Jangan jangan apa yang di lihat oleh momongannya benar. Tapi bukankah Dewi Anggraeni telah lama meninggal akibat bunuh diri ?.

“Aneh?” guman Petruk menggaruk garuk kepalanya. Sementara setali tiga uang, sang Gareng dan Bagong tak sempat menutup mulut karena was was dengan kondisi kejiwaan tuannya.

“Tidak salah lagi kakang…tidak….” Permadi menjawil pundak Petruk.

“Hehh…kalian kenapa ?” bentak Permadi menyadari bahwa tingkahnya di anggap aneh oleh ketiga pembantunya.

“Mmmm….maaf ndoro….!” buru buru Petruk meminta maaf yang kemudian di ikuti kedua saudaranya.

“Kita hanya heran saja. Apa ndoro lupa, kalau kami tidak memiliki kemampuan melihat jarak jauh seperti ndoro Permadi ?” kelit Petruk cerdik.

“Oooooh iya” Permadi menepuk jidatnya, “maafkan saya kakang”.

“Tapi ini beneran. Aku tidak bohong kalau di sana ada wanita cantik yang mirip sekali dengan Anggraeni” Permadi mulai bisa mengendalikan diri.

“Mungkin hanya mirip saja, ndoro” Gareng memberanikan diri bicara.

“Iya, tapi kenapa bisa kebetulan begitu ?” kilah Permadi.

“Ndoro lupa ya “Petruk mengingatkan, “kalau Prabu Salya memiliki putri putri yang terkenal cantik dan menawan hati ?”.

“Darimana kakang Petruk tahu ?” heran.

“Ya tahulah, khan dulu kami pernah menyertai ndoro Nakula dan Sadewa berkunjung ke Mandaraka ?” tutur Petruk mengingat ingat pengalamannya tempo silam.

“Kalau nggak salah ada tiga putri gusti Salya. Namanya siapa itu Reng ?. Ah aku lupa”  Bagong menggaruk kepalanya.

“Herawati…?”

“Iya bener. Satunya lagi Srikanti…”.

“Surtikanthi, Gong” sahut Gareng meluruskan.

“Dan yang terakhir…mmmmm….Ban…Banowati. Ya Banowati…”.

Permadi terlihat manggut manggut. Kendati Prabu Salya masih terhitung kerabat Pandawa. Persisnya paman dari Nakula dan Sadewa, tapi secara pribadi Permadi kurang begitu paham dengan keluarga Mandaraka. Dia hanya mengenal Prabu Salya sebagai raja Mandaraka. Tidak lebih dari itu. 

“Apakah putri putri paman Salya ada yang mirip Anggraeni ?” selidik Permadi.

“Cantik cantik ndoro” jawab Petruk lugas, “tanya saja sama Gareng atau Bagong”.

“Betul ndoro!” sahut Bagong serta merta, “tapi soal mirip atau tidak dengan Dewi Anggraeni kami nggak bisa memastikan. Soalnya dulu ketiganya masih kecil kecil. Belum pinter dandan gitu….”.

“Ooooo…begitu ?” Permadi datar.

“Oh ya, kalian bisa antarkan aku berkenalan dengan putri putri paman Salya ?. Terutama yang tinggalnya di sana itu ?”.

Ketiganya saling pandang. Bukan bermaksud menolak perintah majikannya, tapi ada hal lain yang perlu di pikirkan.

“Anu ndoro…”Petruk menyela, “bukan kami nggak bersedia. Tapi, apa ndoro nggak mikir kalau bala Kurawa sedang berada di kota Mandaraka ?”.

“Oh iya ya…!. Kenapa aku jadi kehilangan kewaspadaan begini ?” keluh Permadi.

Bagaimanapun sudah bukan rahasia lagi kalau antara keluarga Pandawa dan Kurawa sudah sejak lama terlibat perselisihan yang susah di damaikan. Ini berkaitan dengan hak atas tahta Hastinapura yang sama sama di klaim kedua belah pihak.

“Tapi aku ingin sekali berkenalan dengan wanita di sana itu” Permadi ngotot, “setidaknya untuk memastikan bahwa wanita itu benar benar bukan Anggraeni” lanjutnya menjelaskan.

Lagi lagi ketiganya saling pandang.

“Gimana, Reng ?”.

Pria berkaki pincang dan berusia paling tua di antara keempat lelaki itu menarik nafas pelan.

“Kalau ndoro nekad kesana, bala Kurawa brengsek itu bakalan mencurigai ndoro” Gareng memberi alasan, “tapi kalau nggak kesana, bisa makin tersiksa perasaan ndoro Permadi”.

“Trus gimana ?”.

Gareng mengernyitkan dahinya. Mencoba mencari jalan keluar.

“Ahhh gini aja” akhirnya mendapat ide, “kita bertiga khan sudah di kenal keluarga Mandaraka. Kenapa bukan kita saja yang masuk ke sana, trus menemui putri Prabu Salya yang tinggal di rumah itu, dan kita sampaikan padanya bahwa ndoro Permadi ingin berkenalan. Gimana ?”.

“Wah…tumben otakmu jalan, Reng?” puji Bagong setengah meledek.

“Benar juga kamu, Reng” timpal Petruk, “tapi ndoro setuju nggak ?”.

Pandangan ketiganya kini beralih ke Permadi.

“Kalau itu jalan yang paling masuk akal, kenapa tidak ?. Kalau perlu secepatnya” tandas Permadi tak sabar lagi.

“Siap!!!” sahut ketiga pelayan Pandawa ini sigap.

>>>Selanjutnya

Banowati : Asmara di Mandaraka (1)

Oleh : Komandan Gubrak

Banowati. Begitu putri ketiga dari penguasa Mandaraka, Prabu Salyapati ini di namakan. Bano berarti matahari, cahaya atau ia yang bersinar, sementara nama wati menunjukkan bahwa ia berjenis kelamin perempuan. Perempuan yang bercahaya. Berwajah cantik, berhidung mancung, bermata bulat tajam dengan kerlingan khas yang sanggup meluluhkan hati siapa saja yang memandangnya. Bibirnya mungil tipis, sedikit basah dengan balutan warna dasar merah alamiah. Bila ia tersenyum, terlihat giginya yang seputih kapas berbaris rapi laksana biji mentimun. Berwajah oval dengan dagu lancip di hiasi lesung pipit nan elok di kedua sisi pipinya. Bentuk tubuhnya proporsianal. Tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu rendah. Berdada montok, berbokong bulat. Jika ia berjalan, liukan tubuhnya bak seorang penari yang sedang beraksi di atas panggung. Berkulit kuning langsat, dengan tekstur lembut laksana sutra. Berambut lurus, hitam berkilau terjurai menutupi punggung dengan topangan mahkota emas melingkar indah di atas kepalanya.

Tabiatnya riang, murah senyum dan pandai mengambil hati lawan bicaranya. Pandai memainkan alat musik, merdu dalam bernyanyi dan mahir merangkai puisi. Sebuah kombinasi antara fisik dan kepribadian yang unik, menarik dan jarang di miliki perempuan manapun. Maka tak heran, di manapun Banowati menjejakkan kaki, selalu saja menarik perhatian banyak orang. Sanjungan dan pujian barangkali bukan sesuatu yang asing di telinga Banowati. Apalagi jika ada acara acara kenegaraan yang melibatkan khalayak umum dan tamu asing, dan di situ Banowati di daulat untuk mempertontonkan kebolehannya bermain musik dan bernyanyi. Tepuk riuh penonton yang mengapresiasi olah seni Banowati bahkan jauh lebih menggema di bandingkan dengan pidato politik Raja Mandaraka.

Berusia sekitar tujuh belas tahun. Sebuah masa di mana seseorang mulai mengenali dirinya, mengenali apa apa yang di rasakan dan apa apa yang di butuhkan. Belajar menjadi dewasa, belajar bertanggung jawab dan belajar makna hidup yang sebenar benarnya. Dalam tradisi Mandaraka, ketika seorang gadis mulai meninggalkan masa remajanya dan memasuki masa dewasa, para orang tua di tuntut untuk bekerja ekstra keras demi mendapatkan jodoh bagi anaknya. Mereka menjadi lebih sering berkunjung ke tetangga kenalan atau mungkin kerabatnya sembari berharap ada pemuda yang bersedia menikahi anaknya. Bahkan tak jarang para orang tua membuat sayembara guna mendapatkan jodoh terbaik bagi anaknya. Bisa sayembara adu panah, adu berkuda atau adu ilmu kanuragan. 

Banowati pantas bersyukur dengan karunia Tuhan yang ada dalam dirinya. Segala syarat yang di perlukan untuk menjadi sosok perempuan ideal ada pada dirinya. Bentuk fisik sempurna, berdarah bangsawan, usia yang matang, berbakat dan nyaris tanpa cacat sedikitpun. Tidak sulit bagi Banowati kalau hanya sekedar untuk mendapatkan pria yang bersedia menjadi pendamping hidupnya. Apalagi sejak awal Banowati memang figur terkenal dan menjadi pujaan banyak orang. Artinya, bukan Banowati yang mesti mencari, tapi para pria yang harus berlomba lomba merebut hatinya.

Akan tetapi, terkadang memang lain lubuk lain ilalang. Lain hati, lain yang di rasakan. Kendati kecantikan Banowati begitu di sanjung sanjung seantero jagat, itu tidak serta merta menjadikan Banowati berada di sebuah posisi yang memuaskan hatinya. Dia banyak mengenal pria. Dari yang tampan hingga yang buruk rupa. Dari bangsawan sampai rakyat jelata. Dari Mandaraka hingga mancanegara. Tapi untuk jatuh hati, atau mungkin sekedar tahap pendekatan, rasanya masih jauh dari pikiran Banowati. Gadis ayu anak ketiga dari lima bersaudara putri Prabu Salya ini seakan terlalu larut dalam kehidupannya sendiri. Sehingga hal hal yang sejatinya menjadi perilaku yang lumrah bagi perempuan yang sudah menginjak dewasa, tidak terjadi pada diri Banowati.


Jangan katakan aku tidak menginginkan
Hadirnya dewa asmara swargaloka
Yang sorot matanya menusuk jantung hatiku
Yang sentuhannya menggetarkan jiwaku
Jangan katakan aku mati rasa
Sehingga desah nafas para pecinta tak bisa ku raba
Dan rentangannya hanya menyapu hampa

Ingin menabur asa
Tapi aku takut berbalut derita
Ingin mengayuh sampan
Dan berlayar menuju lautan lepas
Tapi aku takut gelombang
Ingin aku  berlari
Mengitari sudut sudut bumi
Tapi aku takut akan jatuh dan terkilir

Aku ingin menjadi mutiara berkilau
Yang pesonanya bisa engkau ukir dalam jiwamu
Aku ingin menjadi bintang gemintang
Yang cahayanya mengarungi ragamu
Aku ingin menjadi telaga nan bening
Yang sejuknya sembuhkan rindumu

Syair syair itu terdengar mengalun dari bibir Banowati. Kadang melengking dan penuh semangat, kadang lirih, kadang juga meliuk liuk laksana burung camar yang terbang rendah di atas pantai Mandaraka. Pada bait pertama, nada suara Banowati terdengar nyaring, bertempo tinggi, penuh semangat dan mengisyaratkan sebuah protes akan ketertindasan yang terjadi. Di bait kedua, nada suaranya terdengar berbalik. Lirih, pelan dan menguras emosi. Berkali kali Banowati mengulang kalimat itu, seakan ia ingin dunia tahu, apa gerangan yag sedang bergejolak dalam jiwanya. Senandung terakhir intonasinya lebih tinggi, enak di dengar dan mirip lagu lagu melayu yang berkarakter mendayu dayu. 

Sementara di depan Banowati bertengger sebuah alat musik berbentuk perahu yang terbuat dari kayu kenanga sepanjang hampir satu meter dengan belasan senar berbaris rapi di atasnya. Di sebut kecapi. Alat musik tradisional Mandaraka yang di mainkan dengan cara di petik. Bagi Banowati, Kecapi perahu hadiah dari ibunya ini bukan saja berfungsi sebagai pengiring setiap syair yang ia nyanyikan, tapi sudah menjadi teman tak tergantikan sekaligus penghibur yang paling setia di saat hatinya sedang di rundung duka.

Begitulah rutinitas Banowati ketika mendapati waktu senggang. Pergi ke taman bunga yang berada tak jauh dari kediamannya, berteduh di bawah balai berukuran kecil terbuat dari kayu yang di kiri kanannya terdapat beberapa pohon palem yang rindang nan hijau. Sebuah tempat yang pas untuk melatih kemampuan seninya, menggali imajinasi atau kadang sekedar hanya merenung. Jika ia berkenan, ia mengajak beberapa pelayan keputren yang juga pandai bermain musik untuk berlatih bersama, tapi ketika suasana batinnya tidak menentu, Banowati lebih memilih sendiri saja.

Dan sore itu Banowati hanya terlihat sendirian. Memainkan musik dan bernyanyi, sembari matanya yang bening laksana bintang tak lekan memandang hamparan tanaman bunga yang hijau dengan kuncup mekarnya. Ada rasa gundah menyelinap di benak. Yang membutuhkan jawaban hakiki dari relung hati. Ibunya, Dewi Pujawati pagi tadi selepas sembahyang mengutarakan sebuah pesan yang tak bisa di tolak olehnya dan kedua kakaknya.

“Anakku, apakah kalian tidak melihat, ayah ibumu ini sudah menginjak usia senja. Sementara kalian baru saja menapaki masa dewasa” kata ibunya.

“Apakah kalian tidak pernah berpikir untuk mencari seorang pendamping setia yang kelak bisa menjaga kalian jika kami telah tiada ?. Katakan padaku, kapan kalian akan melepas masa lajang ?”.

Bukan sekedar pertanyaan. Tapi juga harapan dari seorang ibu yang menyayangi putra putrinya.

“Ah ibu…, kenapa ibu berkata demikian ?. Bukankah kalau kita semua menikah, suami kami akan membawa kami pergi dari Mandaraka ?. Dan ibu akan kehilangan kami ?” Banowati balik bertanya.

“Iya ibu…!. Kalau tidak ada kami, siapa yang akan menemani ibu sembahyang ?” Herawati, menimpali. Gadis cantik yang wajahnya begitu mirip dengan Banowati dan usianya kurang lebih dua puluhan tahun ini adalah anak tertua dari pasangan Salyapati dan Pujawati. Perangainya kalem, irit bicara dan lebih sering menyendiri. Dia jarang bergaul dengan orang orang di luar lingkup keluarga. Cenderung tertutup dan hanya kepada orang orang tertentu saja ia bersedia mengutarakan masalah masalah yang di hadapinya.

“Kalian ini ngomongnya kayak nggak ngerti keinginan ibu saja. Harusnya kita senang dong, bisa menikah, membangun rumah tangga dan memberi ibu cucu cucu yang lucu. Bukan begitu ibu ?” Surtikanthi setengah mencibir. 

Anak kedua Prabu Salyapati ini memang terkenal banyak bicara, judes, agak sombong dan mau menang sendiri. Tabiatnya begitu mirip dengan ayahnya. Kalau punya kemauan, dia akan memperjuangkannya dengan segala cara. Dalam hal cinta, Surtikanthi punya kebiasaan buruk yang susah sekali di hilangkan. Dia bukan tipe orang setia yang hanya menambatkan hatinya pada satu pria. Bagi Surtikanthi, jika ada yang lebih baik, buat apa mempertahankan yang lama ?.  Maka tak heran jika Surtikanthi di kenal suka gonta ganti pacar. Sudah tak terhitung berapa banyak pria yang datang lalu di tendang oleh Surtikanthi.

“Mmmm….serius nih, kak Kanthi siap di lamar Naro ?” ledek Banowati sembari mengedipkan mata kirinya.
Naro adalah salah satu kepala prajurit keamanan istana Mandaraka, anak seorang pembesar di kerajaan.

“Ho…ho….ho…!. Narotama ?. Masak, secantik ini suaminya pria lokal ?. Lihat saja, nanti aku minta ke ayah untuk menggelar sayembara yang mendatangkan para pangeran dari mancanegara” kelit Surtikanthi sengit.

“Oh, mantab itu kak!. Nanti biar Bano yang menyanyi di pesta perkawinan kakak…” puji Banowati memberi semangat.

“Ee….ee…ee…” sela Ratu Pujawati menggoyang goyangkan telunjuk kanannya.

“Tidak ada yang menjadi penyanyi, tidak ada yang menjadi penari juga. Ayahmu akan menikahkan kalian semua. Bersama sama ?”.

“Ibu…???” pekik ketiganya hampir bersamaan. Heran, kaget dan belum sepenuhnya mengerti apa yang ibu mereka katakan.

Menikahkan bersama sama. Dengan cara apa ?. Dengan siapa ?. Dengan pria pilihan masing masing atau pilihan ayah ibunya ?. Atau malah dengan pria yang sama ?.

Bermacam macam pertanyaan berkecamuk dalam benak ketiga putri Mandaraka itu.

“Dengar kata ibu” Pujawati menenangkan.
 
“Ibu hanya menyampaikan apa yang menjadi keinginan ayahmu. Ibu juga tidak tahu dengan siapa kalian akan di nikahkan. Yang penting, persiapkan diri kalian masing masing dan nanti ayah kalian akan memanggilmu satu persatu untuk membicarakan masalah ini”.

“Tapi nggak harus bersama sama khan ibu ?” Banowati protes.

“Nanti bicarakan saja dengan ayahmu” tegas Pujawati tak mau kompromi.

Semuanya terdiam, entah setuju atau tidak. Tapi bagi Banowati, apa yang di kemukakan oleh ibunya benar benar membuatnya merasa tidak enak hati. Bagaimanapun, dari ketiga putri Salya, hanya dia yang belum memiliki pandangan sedikitpun mengenai pasangan hidup. Bukan tidak ingin, tapi hatinya belum terketuk. Belum satupun pria yang pernah ia kenal, berhasil menakhlukkan hatinya. Entah apa gerangan yang menjadi penyebab Banowati begitu sulit mencintai seorang laki laki.

Sekarang orang tuanya berencana menikahkan mereka. Bersama sama pula. Dan seperti yang sudah sudah, bisa di pastikan sang ayah tidak akan surut dengan keputusannya. Mungkin dia, atau kakaknya akan melakukan protes, mengemukakan keberatan dengan alasan masing masing. Tapi barangkali hanya sebatas itu, sebab bagaimanapun ayahnya punya otoritas penuh dalam mengatur kehidupan anak anaknya. Jika sudah begitu, yang bisa di lakukan Banowati dan kakak kakaknya tentu hanya berdoa. Berdoa agar ayah mereka membuat keputusan yang baik dan tidak merugikan perasaan anak anaknya.

Ingin menabur asa
Tapi aku takut berbalut derita
Ingin mengayuh sampan
Dan berlayar menuju lautan lepas
Tapi aku takut gelombang
Ingin aku  berlari
Mengitari sudut sudut bumi
Tapi aku takut akan jatuh dan terkilir

Banowati kembali melantunkan syair ini. Kali ini tanpa memetik dawai kecapinya. Seolah ingin menghayati dan menikmati kata demi kata yang mengalir dari bibirnya. Begitu larut, begitu terbuai. Hingga tak sadar ada sesosok wanita dengan tatapan sayu, tengah berdiri termangu memperhatikan setiap gerak gerik Banowati. Lama sekali wanita itu diam terpaku di belakang Banowati. Sesekali ia menarik nafas, mengatupkan mata sembari menggigit ujung bibirnya yang tampak bergetar seiring alunan syair syair syahdu yang di lantunkan Banowati. Tak ada kalimat yang terlontar, tak pula kakinya berani melangkah lebih dekat. Dia biarkan Banowati terus asyik bersenandung. Bahkan semakin lama ia mendengar nyanyian Banowati, semakin ia ikut larut di dalamnya. Dan tanpa sadar butiran butiran bening mulai meleleh dari telaga matanya. Nyanyian Banowati kini tak ubahnya pisau belati yang menyayat nyayat hatinya. Pedih, perih dan sakit bukan main. Darahnya bergolak, emosinya seolah di aduk aduk oleh sebuah kekuatan maha dahsyat yang di timbulkan oleh syair syair Banowati.

Beruntung Banowati segera menyelesaikan senandungnya. Sehingga tangisnya yang hampir saja meledak, mendadak tertahan. Buru buru perempuan itu meraih ujung selendang, mengusap air matanya dan melangkah menaiki tangga balai.

“Kakak ?” seru Banowati setengah terkejut dengan kehadiran sesosok wanita yang sangat kenalnya, Herawati.

“Teruskan saja…” kata Herawati sembari duduk menjajari Banowati.

“Hanya latihan biasa kok”.

Herawati menoleh sebentar.

“Lagumu bagus” pujinya.

“Ah, kakak ini ada ada saja. Cuma asal menulis aja kok” 

“Ehm….”Banowati memperhatikan raut wajah kakaknya,” kakak abis nangis ya ?”

“Oh….enggak…!” elak Herawati buru buru, “ tadi abis kena debu di jalan”.

“Bohong…”.

“Iya beneran”.

“Kok sampai sembab begitu ?. Jangan jangan….?” Banowati menerka nerka.

“Apa ?”.

“Kakak abis di panggil sama ayah ya ?” Banowati setengah meledek.

“Nggak…” tegas sang kakak.

“Bener ?”.

Herawati terdiam. Seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

“Tuh khan ?.  Kakak gitu deh…” Banowati pasang muka cemberut.

Keduanya terdiam.

Angin bertiup sepoi sepoi. Menggoyangkan kuncup bunga warna warni di taman itu. Dari ujung mahkota bunga mawar nan merah merekah, seekor kupu kupu berwarna kuning keemasan tampak kepayahan menahan deru angin. Berkali kali ia berusaha hinggap di atas sang bunga dan mengincar sarinya, tapi tiupan angin bertubi tubi menggagalkan usahanya. Cukup lama kupu kupu itu berusaha hinggap. Baru ketika angin mereda, ia mendarat dengan manis dan menghirup wanginya sang mawar.

Herawati melompat dari balai balai kayu setinggi tiga jengkal itu, berjalan dengan penuh hati hati ke arah di mana kupu kupu keemasan itu hinggap. Dan…

Hupp…!.

Di tangkapnya sayap kupu kupu itu, lalu kembali berjalan menaiki balai balai. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, sementara kedua mata Herawati mengamati tingkah polah sang kupu kupu yang berusaha menggeliat melepaskan diri. Sementara adiknya, Banowati, hanya bisa tertegun dengan ulah kakaknya.

“Enak ya, jadi kupu kupu” kata Herawati sambil menimang nimang binatang bersayap di tangannya.

“Dia begitu bebas menentukan pilihan untuk hinggap di bunga mana saja yang hendak ia hinggapi”.

Hanya itu kalimat yang keluar, tapi bagi Banowati terdengar sangat mencurigakan. Apa yang terjadi dengan kakaknya ?.

“Kakak ada masalah ya ?” dara cantik pemilik sepasang lesung pipit itu mendekatkan mukanya pada Herawati.

Kali ini Herawati tertunduk. Raut mukanya terlihat muram. Sementara dari sudut matanya terlihat buliran buliran air bening yang siap untuk di tumpahkan.

“Ayah telah mendapatkan jodoh buatku…”.

“Apa ?. Siapa ?” Banowati melonjak.

“Tidak buruk. Bahkan mungkin dia pria terbaik yang ada di muka bumi”.

“Wow…!” seru Banowati.

“Dia orang terkuat di Hastinapura”.

“Suyudana ?”

Herawati mengangguk.

“Trus ?” penasaran.

“Entahlah…” Herawati gundah.

“Kok ?”.

Banowati makin tak mengerti dengan sikap kakaknya itu. Setahu Banowati, penguasa Hastinapura itu tidak buruk buruk amat. Bahkan secara fisik lumayan tampan dan berusia muda. Mungkin hanya lebih tua sedikit dengan kakaknya. Berkedudukan tinggi dan di hormati segenap raja raja di daratan Jambudwipa. Seharusnya, siapapun akan merasa bangga bisa bersanding dengan ksatria agung seperti Suyudana. Tapi kenapa kakaknya seolah masih gamang ?.

“Ingin menabur asa. Tapi aku takut berbalut derita. Ingin mengayuh sampan. Dan berlayar menuju lautan lepas. Tapi aku takut gelombang”.

Kali ini Herawati melantunkan beberapa syair yang tadi di nyanyikan Banowati. Walaupun suaranya tidak seindah suara Banowati, tapi tampaknya ia begitu menghayati.

“Adik…” Herawati mendadak serius.

“Kalau kamu di suruh memilih, mana yang kamu pilih ?. Pria yang kamu cintai, atau pria yang mencintaimu ?”.

Banowati tidak segera menjawab pertanyaan kakaknya. Pikirannya masih bekerja keras meraba raba apa yang sebenarnya terjadi pada diri kakaknya. Pasti ada sesuatu yang sengaja di sembunyikan. Pertanyaan itu sepertinya bukan sekedar pertanyaan biasa, tapi ada sesuatu yang lain. 

“Kakak tidak menyukai Suyudana ?” selidik Banowati.

“Jawab dulu pertanyaanku!” potong Herawati.

“Mmmm….dua duanya!”.

“Salah satu!??” paksa Herawati.

“Apa ya ?. Bano belum pernah mengalami sih, kak…”.

“Hemmm” cemberut.

“Iya…iya aku jawab” akhirnya.

“Apa ?”.

“Pria yang aku cinta..” jawab Banowati.

“Alasannya ?”.

“Yaaah…buat apa hidup dengan laki laki yang kita tidak pernah harapkan kehadirannya ?” lanjut Banowati dengan penuh semangat.

Herawati menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskannya. Senyum tipis tersungging dari sudut bibirnya. Jawaban Banowati, walaupun tidak akan merubah keadaan tapi cukuplah membuatnya merasa tidak sendirian.. Di tatapnya dalam dalam wajah adiknya, kedua tangannya terentang, dan sebentar kemudian tubuh Banowati telah ada di pelukannya.

“Di dunia ini mungkin hanya kamu yang mengerti perasaanku, Bano” bisik Herawati berkaca kaca. 

Banowati terdiam dalam dekapan hangat sang kakak. Rona kesedihan tampak jelas tergurat di wajah kakak sulungnya itu.

“Ceritakan apa yang terjadi. Kenapa kakak kelihatannya tidak setuju dengan keputusan ayah ?” pinta Banowati sembari menyeka air mata kakaknya. Keduanya lantas melepaskan pelukan, duduk berjajar sembari memandang taman bunga nan indah yang terhampar di depan mereka.

“Baiklah” Herawati buka suara, “tapi kamu janji tidak akan bercerita kepada siapapun ?”.

“Sumpah!” sambut Banowati sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.

“Aku sudah punya pilihan sendiri. Bukan pria termasyhur dan berkedudukan tinggi seperti prabu Suyudana. Dia orang biasa. Tinggal di negeri seberang. Nun jauh di tengah lautan timur” tutur Herawati.

“Kartawiyaga ?” Banowati menebak.

Herawati mengangguk.

“Darimana kamu tahu ?” selidik Herawati.

“Nebak aja” jawab Banowati menyunggingkan senyum.

“Setahun lalu kami berkenalan. Di sebuah pesta larung sesaji. Kebetulan kakang Wiyaga menjadi salah satu tamu penting. Dia datang sendirian, mewakili paman Kurandageni”.

“Dan kemudian kakak jatuh cinta ?” potong Banowati sembari menaikkan alisnya.

“Entahlah. Aku juga tidak habis pikir kenapa dia begitu memikat hatiku. Padahal orangnya biasa saja. Mungkin secara fisik masih lebih tampan Suyudana”.

“Namanya juga cinta, kak…”timpal Banowati.

“Dia sering datang ke rumah. Biasanya malam hari. Dan tak seorangpun yang tahu”.

“Kakak ???” Banowati tertegun.

“Tenang saja Bano” Herawati meyakinkan. Adiknya tentu mencurigai dirinya telah berbuat tidak senonoh dengan Kartawiyaga.

“Kakakmu ini tidak senista yang kamu kira, Bano” Herawati meyakinkan.

“Kamu tahu, apa yang sering dia lakukan kalau datang ke rumahku ?”.

Banowati menggeleng.

“Dia hanya duduk di tepi ranjang, menyanyikan beberapa bait lagu untuk membuatku terlelap”.
“Hanya itu ?” Banowati heran.

“Bahkan sampai sekarang dia belum pernah menyentuhku”.

“Ah…gimana kalau pas kakak tidur, dia berbuat yang aneh aneh ?” khawatir.

“Aku percaya dengannya” jawab Herawati.

“Seringkali aku hanya pura pura tidur, untuk mengujinya. Dan dia tidak berbuat apapun, kecuali membetulkan selimutku. Setelah itu pergi”.

“Wah, lucu juga ya…?” komentar Banowati geli.

“Itu yang membuatku begitu kagum dengannya” sahut Herawati.

Banowati mengangguk anggukkan kepala. Cinta memang kadang aneh. Benar apa kata para pujangga. Cinta sejati tidak membutuhkan hasrat birahi ragawi. Dia hanya butuh sebuah tempat persemayaman abadi. Tahtanya di relung hati.

“Terus, apa yang akan kakak lakukan ?” tanya Banowati.

“Entahlah” Herawati mendongakkan kepalanya. Menatap langit senja nan memerah. Ada kegalauan yang melanda dalam jiwanya.

“Besok rombongan Hastinapura akan tiba di Mandaraka untuk memastikan rencana ini” lanjut Herawati lirih.

“Melamar kakak ?” tanya Banowati.

Herawati mengangguk.

“Kakak akan menerima lamaran itu ?”.

“Siapa yang bisa menolak keinginan ayahanda ?” potong Herawati meninggi.

Serba salah memang. Banowati paham betul bagaimana karakter ayahnya. Keras kepala, arogan, temperamen dan ambisius. Tidak ada yang bisa mencegah, bila ayahnya sudah memutuskan suatu hal. Tidak saja Banowati dan saudara saudaranya, juga ibunya. Semua harus tunduk dan patuh. Tidak boleh membantah, apalagi melawan. Apalagi posisi kakaknya yang hanya anak perempuan. Yang dalam tradisi Jambudwipa perannya hanyalah pelengkap penderita. Tidak ada hak untuk berbicara, mengemukakan pendapat, apalagi mewarisi tahta. Sehebat apapun perempuan, ia tidak lebih baik dari laki laki, dalam banyak hal. Memprihatinkan. Tapi mau apalagi ?.

“Kakak sabar aja” hibur Banowati, “pasti ayah memiliki pertimbangan yang matang dalam memutuskan itu”.
Herawati memejamkan mata. Mengatur nafas. Mencoba membongkar beban yang selama ini begitu menyesaki dadanya. Suyudana mungkin bukan pilihan buruk. Raja besar, kuat dan memiliki pengaruh luas. Menjadi pendampingnya adalah idaman setiap wanita. Tidak saja kehormatannya akan terangkat, akan tetapi martabat keluarga dan tentu saja rakyat Mandaraka. 

Tapi, ini masalah hati. Seperti yang Banowati katakan, buat apa hidup bersama lelaki yang tidak pernah kita kehendaki kehadirannya ?. Sia sia segala kemewahan yang ia terima dari raja Hastinapura itu, jika hatinya sendiri tidak pernah bisa menikmati. Begitupun dengan Suyudana, tentu ia akan sangat menyesal telah menikahi seorang perempuan yang ternyata tak pernah mencintainya. Jika demikian adanya, buat apa rencana perkawinan itu di teruskan.

“Tidak!!!. Semua ini tak boleh terjadi!” tekad Herawati membuncah.

“Kakak serius ?” tanya Banowati heran.

“Ya!”.

“Kakak sudah memikirkan akibatnya ?”

“Hem..” mantab.

“Tapi ayah tak mungkin mau membatalkan rencananya, kak ?” Banowati memperingatkan.

“Kalau aku lari dari Mandaraka, apakah perkawinan itu bisa tetap di jalankan ?” kelit Herawati enteng.

Kali ini Banowati terkejut bukan main. Di tatapnya dalam dalam wajah yang kakak, seolah berharap bahwa ungkapan itu tidak pernah keluar dari mulut sang kakak. Bagaimanapun, konsekuensi yang bakal di tanggung keluarganya tidaklah kecil. Apalagi yang melamar kakaknya bukanlah orang sembarangan. Prabu Suyudana, raja besar yang sangat di segani angkatan perangnya oleh bangsa bangsa di Jambudwipa. Bukan saja perbuatan kakaknya akan membuat malu keluarga Mandaraka, akan tetapi tindakan itu oleh Hastina bisa jadi akan di anggap sebagai sebuah penghinaan. Resiko terkecil, Mandaraka akan di kucilkan. Dan resiko terbesar, Mandaraka akan di serang.

“Kamu pasti berpikir bahwa Mandaraka akan menanggung segala hal akibat perbuatanku” kata Herawati seolah tahu apa yang ada dalam pikiran adiknya.

“Putri prabu Salya bukan aku seorang. Ada kamu dan kakakmu, Kanthi. Kalian berdua juga sudah cukup dewasa untuk menjadi seorang ibu” berhenti sebentar, “Prabu Suyudana belum pernah melihatku. Ayah memilih aku untuknya karena akulah yang paling tua di antara kita semua. Tapi kalaupun ternyata aku memilih jalan lain, besar kemungkinan kalian berdua yang akan menggantikan posisiku”.

“Kakak sudah gila ya??!!!” Banowati meradang. Apa yang di ungkapkan oleh kakaknya kali ini benar benar membuat Banowati jengkel bukan main. Mengorbankan saudara saudaranya untuk kepentingan pribadi jelas jelas bukan tindakan bertanggung jawab. Seolah tidak ada cara lain untuk keluar dari masalah.

“Di mana pikiran waras kakak ?. Sudah jelas ayah menginginkan kakak bersanding dengan Suyudana. Kenapa mesti kami yang harus di korbankan ?” protes Banowati keras.

“Terima saja” Herawati tak mau kalah, “atau kalau kalian tidak setuju, sekalian saja kabur” lanjutnya ketus bukan main.

“Pikirkan baik baik. Selamat sore…”.

Seperti tak ingin berlama lama berdebat kusir dengan sang adik, Herawati lantas mengangkat tubuhnya, berjalan menuruni tangga balai lalu pergi dengan langkah cepat. Meninggalkan Banowati yang tampak masih menyimpan rasa kesal tak terkira. Bukan hanya kesal melihat tingkah Herawati yang sama sekali tidak patut di contoh, akan tetapi kesal karena dia harus bersiap siap menerima akibat dari perbuatan kakaknya. 

Besok, rombongan prabu Suyudana dari Hastinapura akan tiba di Mandaraka. Menemui ayahnya untuk membicarakan rencana pernikahan kakaknya dengan prabu Suyudana. Entah apa yang akan terjadi jika ayahnya mengetahui Herawati telah kabur dari Mandaraka. Marah ?. Itu sudah pasti. Tapi bagaimana jika ayahnya menanyakan perihal sang kakak ?. Jawaban apa yang harus ia kemukakan ?. Kedatangan Herawati sore ini mustahil tidak di ketahui para penjaga keputren. Mereka bisa jadi akan melapor bahwa sebelum kabur, kakaknya sempat menemui dirinya. Jika demikian, sudah pasti ayahnya akan berusaha sekuat tenaga mengorek keterangan darinya. 

Haruskah ia melindungi Herawati dengan tidak mengatakan kemana kaburnya sang kakak ?. Ataukah ia harus mengatakan apa adanya, bahwa kakaknya kabur ke Tirtakandasan demi menemui kekasih hatinya ?. Dua pilihan yang sama sama sulit. Jika ia mengatakan bahwa Herawati pergi ke Tirtakandasan, tentu akan ada tindakan keras akibat perbuatan ini. Bisa jadi ayahnya akan mengirim pasukan dan menyerbu Tirtakandasan untuk meminta paksa putrinya. Sebaliknya jika ia berbohong, kemungkinan besar ayahnya akan memilih satu di antara dirinya dan Surtikanthi untuk menutupi rasa malu di hadapan penguasa Hastina.

Tidak!!. Ini tidak adil…
******************************************************************************


Fajar menyingsing. Rona merah menyembul di ufuk timur. Terlihat tidak sempurna karena di selimuti awan tipis berwarna kelabu. Dari kejauhan, lamat lamat kokok ayam jantan  menyalak bersahut sahutan, pertanda hari sebentar lagi terang.  Angin bertiup menyibak kabut putih di jalanan kota Mandaraka. Bergerak pelan, menggoyangkan setiap dahan dan ranting yang ia lewati. Membawa hawa dingin yang menyengat pori pori.
Di sudut jalan lima prajurit berlarian tergesa gesa. Menyandang pakaian seadanya dengan menenteng sebilah golok di pinggang. Di pimpin oleh seorang pria setengah baya, berkepala botak dengan kumis melintang di atas bibirnya. Raut muka mereka terlihat tegang, seperti ada masalah besar yang sedang terjadi. Melangkah terburu buru menyusuri jalanan. Tidak ada kata yang terucap, tapi jelas sekali mereka sudah paham hendak kemana mereka pergi. Sesampainya di sebuah bangunan besar dengan dua pohon melinjo menjulang setinggi sepuluh meter, langkah mereka terhenti. Seorang pelayan perempuan berumur sekitar lima puluh tahun keluar tergopoh gopoh dari balik pintu menemui kelimanya. Wajahnya terlihat pucat pasi, sementara kedua matanya tampak sembab seperti habis menangis.

“Tunjukkan di mana kamar gusti putri Herawati!” tanya pria botak dengan kumis melintang itu setengah menghardik.

“Mari ikut saya tuan…” kata si perempuan tua ketakutan.

Tiga orang termasuk si botak segera berjalan membuntuti wanita tua itu. Sementara dua lainnya berjaga jaga di depan pintu. Melintasi ruang tengah, menyusuri lorong dan tiba di sebuah ruangan tempat di mana kamar tidur Herawati berada. Tanpa menunggu waktu lama, ketiga pria itu segera menyerbu masuk. Memeriksa apa saja yang ada di ruangan itu. Lemari, tempat tidur, rak buku meja kursi dan semua perabotan yang ada di dalam kamar itu untuk mendapatkan sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk. Tapi sayang, tak satupun petunjuk yang bisa ia temukan. Salah satu di antaranya berlari ke arah jendela kamar yang sepertinya sudah terbuka sejak awal. Menoleh ke kanan dan kiri lalu berteriak kepada kawan kawannya.

“Pasti lewat sini!!!” teriaknya kepada yang lain. 

Lelaki berkumis melintang yang sibuk memeriksa rak buku milik Herawati bergegas menuju ke tempat yang di maksud. Melongok keluar lalu memeriksa keadaan jendela.

“Tidak ada yang di rusak” guman si botak.

“Trus gimana, paman ?”.

Pria berkepala botak berumur setengah baya itu tidak menjawab. Di raihnya lampu penerang di dekat jendela, lalu dengan hati hati ia melompat keluar. Matanya yang tajam menyapu ke sekeliling. Suasana di luar terlihat sunyi, hanya kabut putih yang menari nari di sela sela pepohonan. Lelaki berkumis melintang itu kemudian  mengambil posisi jongkok, mendekatkan lampu penerang berbahan bakar minyak jarak ke atas tanah.

Ada jejak jejak sepatu berbeda ukuran yang masih tercetak jelas di atas tanah liat di depan jendela. Tidak hanya satu, tapi dua. Pertama berukuran kecil dengan ujung lancip. Kemungkinan besar jejak pertama ini jejak sepatu milik putri Herawati. Yang kedua berukuran besar dengan bentuk nyaris seperti persegi panjang. Tercetak samar samar bahkan hampir tak kelihatan. Menilik dari ukuran sepatu kedua yang lebar dan besar, kemungkinan pemiliknya memiliki ukuran tubuh yang besar pula. Dan logikanya dengan proporsi tubuh yang besar dan berat, tentu akan menghasilkan cekungan di permukaan tanah yang lebih dalam dan jelas. Tapi anehnya, bekas tapak sepatu itu hanya terlihat samar samar. Dan jikalau ada angin yang cukup kuat menyapu permukaan tanah, bisa di pastikan jejak itu akan hilang seketika.

Lelaki botak berkumis melintang itu mengerutkan dahi.

“Pasti ini perbuatan orang yang memiliki kemampuan ilmu meringankan tubuh di atas rata rata” pikirnya meraba raba. Tapi siapa ?. Di lingkungan Mandaraka, sedikit sekali orang yang memiliki kemampuan meringankan tubuh seperti itu. Dan jika di kaitkan dengan ukuran terompah sepatu yang lebih lebar dari kebanyakan, maka akan lebih sulit lagi mencari cari siapa gerangan orang Mandaraka dengan bentuk kaki seperti itu.

“Hanya satu orang!” si botak setengah memekik.

Ya, hanya satu orang yang paling mungkin memiliki jejak seperti ini. Yaitu putra ke empat prabu Salya. Raden Burisrawa. Siapa lagi orang Mandaraka yang memiliki tubuh raksasa dengan bentuk kaki lebar selain Raden Burisrawa ?.

“Tapi…?” kali ini pria berkumis tebal melintang itu terlihat ragu ragu. Rasanya tidak mungkin kalau sang penculik putri Herawati adalah Burisrawa. Selain ia adalah adik kandung dari Herawati yang tentu saja mustahil melakukan itu, kemampuan olah kanuragan sang Burisrawa tidaklah sehebat itu. Jangankan menguasai ilmu meringankan tubuh yang mumpuni, bahkan ilmu silatnyapun tidak seberapa. Dia hanya jago bergulat. Sebuah tehnik membanting lawan yang sama sekali tidak memerlukan keahlian meringankan tubuh.

“Pasti ada orang luar yang memasuki keputren Mandaraka!” pria itu mengambil kesimpulan.

“Kejar!!!” perintahnya serta merta.

Dua orang anak buahnya yang sejak tadi hanya mengamati gerak gerik atasannya dari mulut jendela lantas melompat keluar memenuhi perintah. Dengan senjata terhunus mereka berlarian menyusuri kebun kelapa, menyibak ilalang, meneliti jejak jejak kaki yang mungkin tertinggal dengan harapan bisa  menemukan apa yang mereka cari. Tapi hingga semua sisi kebun mereka jelajahi, tak juga mendapatkan buruannya. Akhirnya mereka kembali menghadap si botak dengan tangan hampa.

“Tidak ada siapa siapa !” lapornya dengan nafas tersengal sengal.

“Keparat!!!” maki si botak marah bukan main.

“Bunyikan tanda bahaya, dan lakukan pengejaran hingga ke luar keputren Mandaraka!!!” perintahnya kalap.

“Siap!”.

Dalam sekejap suasana kota Mandaraka yang sunyi di pagi itu mendadak menjadi riuh. Tabuhan kentungan tanda bahaya menyalak di sana sini. Para penghuni kota yang masih terlelap dalam mimpinya, mendadak di bangunkan oleh kabar mengejutkan tentang hilangnya putri Herawati dari istana keputren. Di setiap sudut kota, puluhan bahkan ratusan prajurit bergerak menyisir semua tempat yang di curigai. Tidak hanya itu, mereka juga menutup pintu gerbang masuk kota Mandaraka, menghentikan setiap orang yang lewat untuk di interogasi dan juga melakukan patroli mengelilingi tembok istana guna mencegah si penculik Herawati keluar dari istana. 

Prabu Salyapati yang mendapat laporan atas hilangnya Herawati dari keputren segera bergegas menuju kediaman putri sulungnya dengan di kawal oleh putra bungsunya, Raden Rukmarata, Kepala Keamanan Keputren Raden Narotama serta beberapa prajurit pilihan untuk memastikan sendiri kabar buruk yang baru saja ia terima. Marah hati sang raja Mandaraka ketika mendapati bahwa anak perempuan yang sebentar lagi hendak ia jodohkan dengan ksatria tersohor Hastinapura justru raib dari istana. Sebagai seorang raja yang di kenal sakti mandraguna dan di segani banyak orang, apa yang baru saja terjadi tak ubahnya sebuah penghinaan yang tak bisa di maafkan.

“Apa ini ??. Apa ini ???” Prabu Salya geram.

“Apa saja kerjaanmu, Narotama ?. Sehingga dengan mudah pencuri itu memasuki istanaku ?. Hehhh!!!” hardik sang Salya.

Kepala keamanan istana Mandaraka yang juga anak dari seorang patih Mandaraka itu dengan muka pucat dan tubuh gemetaran buru buru menjatuhkan lututnya dan bersimpuh di kaki Prabu Salya seraya meminta ampun atas segala keteledorannya.

“Ampun gusti prabu…ampun” ucapnya ketakutan, “semua ini kesalahan hamba…”.

“Kamu tahu, akibat keteledoranmu ini, Mandaraka berada dalam posisi sulit. Apa yang akan kita katakan kepada Prabu Suyudana ?. Apa ??”.

“Hamba akan berusaha menemukan kembali gusti Herawati, gusti prabu!!” janji Narotama sigap.

“Hemm….” Prabu Salya mendengus. Matanya yang bulat lagi tajam tak juga beranjak memelototi sang Narotama. Apa yang di ucapkan kepala keamanan keputren Mandaraka tadi sepertinya tak cukup untuk meredam kemarahannya. Sementara sang Narotama yang mulai menyadari nasibnya kini berada di ujung tanduk terlihat makin gemetaran melawan rasa takut.

“Ampuni hamba gusti…hamba mengaku salah” rengek Narotama seraya mencium kaki Prabu Salyapati dengan harapan raja Mandaraka itu berkenan mengampuni kesalahan yang telah di perbuatnya.

Namun usaha Narotama sepertinya tak mampu meluluhkan hati Prabu Salyapati. Raja Mandaraka yang di kenal sakti mandraguna ini benar benar sudah tak bisa menahan lagi kesabarannya.

“Pengawal!!!” teriaknya sang Raja Mandaraka keras.

“Hamba gusti!” empat orang prajurit dengan serempak memenuhi panggilan Salyapati.

“Tangkap Narotama dan jebloskan dia ke penjara!!!” titah sang prabu tanpa bisa di bantah lagi. Segera ke empat prajurit itu menarik pundak Narotama, lalu membawanya pergi dari hadapan prabu Salyapati. Tidak ada perlawanan sedikitpun dari sang Narotama. Kepala keamanan keputren Mandaraka yang di isukan memiliki hubungan intim dengan Dewi Surtikanthi putri Prabu Salya ini hanya terlihat pasrah menerima hukuman dari majikannya.

“Rukmarata” panggil Salyapati lirih. 

“Iya ayah” sahut Rukmarata mendekat pada ayahnya.

“Panggil kedua kakakmu, Surtikanthi dan Banowati. Suruh dia menghadap ayah siang ini juga!”.

“Siap ayah…!”.

“Kedua, sampaikan pada pamanmu patih Singalodra, perintahkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan tamu dari Hastina”.

“Ya ayah!”.

“Mengenai Narotama, katakana padanya, bahwa aku hanya memberi pelajaran pada putranya agar kelak tidak lagi mengulangi perbuatannya!”.

Rukmarata mengangguk.

Setelah mengatakan itu, Prabu Salyapati kemudian beranjak keluar dari keputren untuk kembali ke istananya.

>>>Selanjutnya